BONTANGPOST.ID, Bontang – Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, prihatin terkait rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.
Kata dia, perlunya langkah-langkah strategis agar Bontang tidak terlalu bergantung pada dana bagi hasil (DBH), khususnya dari sektor migas dan batu bara.
“PAD tahun ini kurang lebih Rp400 miliar, namun 80 persen lebih masih berasal dari dana perimbangan, seperti DBH migas dan batu bara. Ini jadi pekerjaan rumah besar agar bisa mandiri secara fiskal,” katanya Selasa 12 Agustus 2025.
Lanjut dia, untuk bisa dikategorikan sebagai daerah yang mandiri secara fiskal, kontribusi PAD terhadap APBD minimal harus berada di angka 12 hingga 20 persen. “Saat ini masih jauh dari target itu, perlu terus dikejar,” ujarnya.
Politikus Golkar itu menyoroti ketiadaan kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD. Menurutnya, meskipun pemerintah sebelumnya telah menggelar puluhan event, dampaknya terhadap perekonomian lokal masih minim.
“Kami sudah evaluasi, ternyata 77 event yang digelar belum mampu berikan efek ekonomi nyata. UMKM tidak banyak merasakan dampaknya. Pelakunya itu-itu saja dan uangnya habis dalam sehari,” ucapnya.
Untuk itu, dia menilai Bontang secara geografis lebih cocok diarahkan menjadi kota jasa ketimbang kota pariwisata.
“Bontang punya pelabuhan, letaknya strategis, dekat dengan wilayah kabupaten dan kota lain, dan ada banyak perusahaan besar. Ini potensi besar sebagai kota jasa,” paparnya.
Meski demikian, sektor pariwisata tetap akan dibenahi. Salah satunya melalui pengelolaan kawasan wisata Pulau Beras Basah yang saat ini belum memberikan kontribusi PAD karena belum dikelola secara resmi pemerintah.
“Saat ini retribusi dari sewa tenda, kapal, dan lain-lain masih belum masuk ke kas daerah. Kami akan benahi, dan Raperda Kepariwisataan sudah kami siapkan. Ke depan Beras Basah mungkin akan dibentuk UPTD-nya,” katanya. (*)







