BONTANGPOST.ID, Bontang – Anggaran untuk mendukung kontingen Bontang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 bertambah dari sekitar Rp2 miliar menjadi Rp4,4 miliar dalam APBD Perubahan 2026.
Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faisal Sofyan Hadam, mengatakan anggaran tersebut masih di bawah usulan awal yang mencapai sekitar Rp7 miliar.
Meski demikian, DPRD bersama pemerintah daerah menyepakati besaran anggaran yang dinilai dapat mengakomodasi kebutuhan utama kontingen.
View this post on Instagram
“Memang masih jauh. Awalnya bukan Rp4 miliar, malah Rp2 miliar. Saya diskusikan dengan Kadispopar, akhirnya kita sepakati naik menjadi Rp4,4 miliar,” ungkap Andi Faisal saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja KONI Bontang, Sabtu (29/8/2026).
Ia menjelaskan, dana tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan kontingen, seperti akomodasi, pakaian kontingen, uang saku, serta kebutuhan pendukung lainnya. Dukungan itu diberikan kepada 53 cabang olahraga (cabor) yang lolos Babak Kualifikasi (BK) Porprov.
Dari seluruh cabor yang lolos, prioritas diberikan kepada atlet dan cabor yang dinilai memiliki peluang meraih medali. Total atlet dan ofisial yang diperkirakan berangkat mencapai 912 orang.
“Pemerintah dan DPRD sudah sepakat untuk memberikan anggaran akomodasi, baju kontingen, uang saku dan lain sebagainya untuk cabor yang lolos saja,” katanya.
Meski anggaran telah ditambah, Andi Faisal menyebut dana tersebut belum tentu mampu menutup seluruh kebutuhan kontingen, khususnya pakaian bertanding.
Ia menyarankan Dispopar bersama KONI Bontang dan pengurus cabor mencari dukungan tambahan dari perusahaan yang beroperasi di Bontang melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurutnya, kebutuhan pakaian sebenarnya dapat dimasukkan dalam pengajuan hibah. Namun, kendala administrasi membuat pengadaan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan skema tersebut.
“Sebenarnya alokasi baju itu masuk dalam pengajuan hibah, namun masih terkendala administrasi. Kalau menunggu, ini akan berdampak. Makanya saya sarankan untuk mengajukan dana CSR,” pungkasnya. (*)







