BONTANGPOST.ID, Bontang – Pembangunan jalan di Kampung Gotong Royong RT 49, Kelurahan Belimbing, masih menyisakan pekerjaan besar. Hingga Selasa (13/10/2026), progres proyek baru mencapai 45 persen, sedangkan masa kontrak tinggal sekitar satu bulan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Wakil Ketua Komisi C DPRD Bontang, Muhammad Sahib, saat meninjau langsung proyek tersebut. Pekerjaan yang dibiayai APBD Bontang senilai Rp2,9 miliar itu dimulai sejak 27 April 2026 dengan masa pelaksanaan 210 hari.
Lambatnya pengerjaan juga dirasakan warga setempat. Ketua RT 49, Salmiah, mengatakan akses jalan yang belum selesai membuat kendaraan roda empat belum dapat melintas di kawasan tersebut.
“Cuman bisa lewat motor aja, mobil warga enggak bisa lewat,” ujarnya.
Muhammad Sahib meminta kontraktor memaksimalkan waktu yang tersisa agar pembangunan tidak melewati tenggat. Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses utama bagi warga Kampung Gotong Royong sehingga penyelesaiannya tidak bisa terus tertunda.
“Apalagi ini akses satu-satunya warga di sini. Harus segera diselesaikan dan ini belum ada 50 persen,” tegasnya.
Di sisi lain, Wakil Direktur CV Dipa Nugrah Utama, Aliyas, menjelaskan keterlambatan pekerjaan dipengaruhi kendala distribusi material beton. Saat debit Sungai Mahakam surut, pengiriman material melalui Samarinda mengalami hambatan sehingga jalur distribusi harus dialihkan melalui Balikpapan.
Meski progres baru mencapai 45 persen, pihak kontraktor mengaku tetap optimistis dapat merampungkan pekerjaan sesuai masa kontrak.
“Kalau tidak ada keterlambatan ini bisa cepat. Tapi ini sudah bisa dan kami yakin bisa selesai tepat waktu,” katanya.
Proyek tersebut mencakup pembangunan dua segmen jalan masing-masing sepanjang 300 meter dan 150 meter, dengan lebar lima meter. Pekerjaan juga meliputi pemasangan turap di sisi jalan untuk mendukung sistem drainase sekaligus mencegah longsor.
Aliyas menambahkan, pengerjaan dilakukan secara bergantian pada masing-masing sisi jalan. Sempitnya akses menuju lokasi serta tidak adanya jalur alternatif turut menyulitkan mobilisasi alat berat.
Kondisi itu memungkinkan adanya penutupan jalan sementara ketika alat berat didatangkan ke lokasi pekerjaan.
“Bisa jadi nanti jalan ditutup dulu kalau ada alat berat itu,” pungkasnya. (*)






