• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Lift Gus Dur untuk Saya

by BontangPost
31 Agustus 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Saya diancam. Di Los Angeles. ”Kalau tetap tidur di hotel putus silaturahmi kita.”

Saya pun tidur di rumahnya. Di kawasan Arcadia. Rumah tujuh kamar itu. Di atas tanah 1.800m2 itu.

Ia memang sudah ke rumah saya. Yang di Jakarta. Yang di Surabaya. Ia ingin saya berlaku adil padanya.

Pemilik rumah di Los Angeles ini adalah juga pemilik majalah: “Media Indonesia”. Berbahasa Indonesia. Terbit dua kali sebulan. Beredar di seluruh Amerika. Untuk masyarakat kita. Apa pun sukunya.

Saya pernah menemukan majalah ini di New York. Di restoran Padang. Saat dulu makan di sana. Bersama imam masjid New York: Ustadz Shamsi Ali. Dan tamunya: Ustadz Yusuf Mansyur al-Kelana.

Nama sahabat saya ini: Ibrahim Irawan. Dokter gigi. Lulusan Trisakti, Jakarta. Tahun 1980.

Istrinya juga dokter gigi. Satu kelas. Saat kuliah dulu.

Anak lakinya hampir lulus dokter gigi: Bryan Irawan. Di kampus papan atas Amerika: Stamford University. Bryan memang tinggal pilih. Enam universitas terkemuka menawarinya. Saat ia masih kelas dua SMA. Di Arcadia. Los Angeles Timur sana.

Berada di rumah Pak Irawan ini juga serasa di kebun fauna. Burung merak terlihat ke sini dan ke sana. Berkeliaran di mana-mana. Di pekarangan-pekarangan siapa saja. Di perumahan yang serba tanpa pagar ini.

Baca Juga:  Aksi Empat Sekawan

Kadang saya harus mengerem mobil. Burung merak itu  lagi menyeberang. Bersama tiga anaknya. Yang masih “piyik-piyik” besarnya.

”Dilarang memberi makan burung merak.”

Begitu pengumuman di pojok perumahan itu. Dekat botanic garden itu.

Masyarakat Amerika memang taat aturan. Termasuk yang asalnya Indonesia. Burung merak itu tetap aman. Sebagai burung liar. Tanpa tergantung makanan dari manusia. Juga tidak perlu sakit ususnya. Semua makanan cari sendiri. Dari alamnya sendiri. Yang terpelihara. Semua jenis pohonnya. Di Arcadia.

Saya ke halaman belakang rumah ini. Ada kolam renang. Ada lapangan tenis. Ada ring basket. Ada pohon pisang. Pohon apokat. Pohon jambu. Berbagai jenis jambu. Pohon jeruk purut. Dan berbagai jeruk lainnya.

Ada pula peralatan tukang. Serba listrik. Mengingat saya akan ayah. Yang alat tukangnya begitu seadanya.

Saya memotong tongkat panjang. Dengan gergaji listrik. Tidak sampai satu menit. Saya masukkan mobil. Untuk alat olahraga. Sepanjang perjalanan nanti. Entah berapa ribu kilometer lagi. Munuju Missouri.

Gus Dur hampir saja tinggal di rumah ini. Saat ke Los Angeles dulu. Prinsipnya Gus Dur sudah setuju. Menghormati sahabat yang rindu. Sampai-sampai Irawan mengadakan lift baru. Di rumahnya. Untuk naik ke lantai dua.

Baca Juga:  Begitu Jarang Abaya

Saya yang memanfaatkan lift itu. Akhirnya. Sekalian ngalap berkah beliaunya.

Drg Irawan sebenarnya pilih hidup di Jakarta. Meneruskan karirnya di Palang Merah Indonesia. Mengikuti jejak almarhum bapaknya: dokter Putra Satia Irawan. Terlahir: Ie Weng Foek. Direktur devisi 4 PMI Pusat. Pada tahun awal Orde Baru.

Dua malam saya di kamar itu. Yang disiapkan untuk Gus Dur itu.

Hari pertama sudah harus makan bersama. Dengan tokoh-tokoh dari organisasi ini: Indonesian Chinese American Association. Makan besar. Yang disiapkan tuan rumah. Dan yang dibawa para tamu.

Pembicaraan pun seru. Mulai politik Indonesia, ekonomi, Trump, sampai bagaimana kalau kangen durian.

Baru tahu: masing-masing ternyata punya stock durian. Yang sudah dibekukan.

Tapi mereka juga dibenci importir durian. Suka mendatangkan durian sendiri. Lalu membagikannya ke sesama warga ICAA. Dengan harga tanpa laba. Hanya plus biaya.

”Awalnya saya pindah ke Amerika karena ikut istri,” ujar drg Irawan.

Itu tahun 1990. Sudah 10 tahun mereka menikah. Belum dikaruniai anak. Sang istri juga tidak segera mendapat kepastian: akan ditempatkan di mana.

Sang istri mengajaknya ke Amerika. Ikut program bayi tabung. Toh biaya bukan kendala.

Baca Juga:  Airbus 321neo

Maka lahirlah Bryan. Lalu adik wanitanya: Stacey Irawan. Dengan jalan yang sama. Dengan kepintaran setara kakaknya. Yang juga sudah kuliah di luar kota.

Awalnya suami-istri ini tinggal di Beverly Hill. Di Hollywood itu. Di daerah pefilman itu. Lalu pilih pindah ke tempat yang damai ini.

Tentu saya juga diajak ke kliniknya. Bangunan besar dua lantai. Bekas bank. Yang luas halaman parkirnya. Yang ada aula di lantai duanya. Yang ada kantor majalahnya. Yang lima set kursi pasien giginya.

Dengan mobil Lexusnya kami keliling kota. Ditemani lagu-lagu barat dari CD-nya. Yang cocok di telinga saya.

Saya pun penasaran dibuatnya. Kok ini bukan penyanyi aslinya. Saya nyalakan soundhound di HP saya. Ingin tahu siapa penyanyinya.

Sialan. Tidak terdeteksi.

Saya pun bertanya. Siapa penyanyi lagu ini. Ia pun baru buka rahasia. Ternyata penyanyinya tidak terkira: dia sendiri.

Hari ketiga saya pamit. Menuju timur. Melewati Las Vegas. Utah. Colorado. Kansas. Akan sampai Missouri. Kalau Allah memberkati.

Tinggallah dokter Irawan sendiri. Bersama istri. Di istananya ini. Yang masing-masing juga segera pergi. Ke kliniknya sendiri-sendiri. (dahlan iskan)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Beli Tiket Fun Gowes, Gratis Berenang Seminggu Lho, Buruan Sebelum Kehabisan

Next Post

Kemenag Tak Anjurkan Pernikahan Siri

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.