• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Live Streaming dari Mas Joko

by BontangPost
7 Desember 2018, 06:00
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Oleh Dahlan Iskan

Oleh Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Saya bingung. Dua hari putus hubungan. Saya telpon tidak diangkat. Saya WA tidak dibalas. Saya mulai khawatir: sakitkah ia? Di manakah ia?

Yang saya cari itu Joko Intarto. Yang mengatur tulisan-tulisan saya. Agar bisa muncul di disway.id. Tepat waktu.

Mas Jokolah yang membuat saya membangun Disway. Yakni saat ia tahu. Kok tulisan saya tidak pernah muncul lagi di koran. Ia pun tahu. Saya tidak bekerja di koran itu lagi.

“Saya ini pengagum tulisan Pak Boss. Ayolah nulis terus,” katanya suatu saat. Ia selalu memanggil saya “pak boss”. “Saya bikinkan korannya. Di dunia maya. Gak perlu kertas. Gak perlu mesin cetak,” katanya.

Saya tahu maksudnya: bikin blog. Saya ragu. Selama ini toh sudah banyak blog yang menggunakan nama Dahlan Iskan. Atau Iskan Dahlan. Atau dahlan_iskan. Atau iskan_dahlan. Atau bentuk lain yang mengkombinasikannya dua kata itu.

Saya bilang ke Mas Joko: saya tidak mau bikin blog. Biarlah blog yang menggunakan nama saya itu tetap dikira blog saya.

Saya tidak keberatan. Bahkan berterima kasih. Toh isinya baik: meng-upload tulisan-tulisan saya. Atau tulisan tentang saya.

Tapi Mas Joko mendesak terus. Saya menyerah. Saya tahu orang Grobogan, Jateng, ini tulus. Selalu tulus. Sejak muda dulu.

Baca Juga:  Pengukur Suhu, Alat Wajib Baru

Saya ingat ini: saat saya masih memimpin koran itu. Kantornya masih di desa: Karah Agung Surabaya. Untuk mengirim koran ke luar kota pun harus dipikul. Ke jalan yang belum jadi.

Waktu itu saya lagi ingin bikin koran di Palu, Sulawesi Tengah. Di kota yang amat kecil. Kala itu. Saya tidak tahu siapa yang bisa  memimpin koran di Palu.

Kebetulan hari itu ada rapat umum karyawan koran Surabaya itu. Biasa. Lesehan di lantai. Saya mulai tidak kenal beberapa  karyawan. Yang sudah mulai banyak. Apalagi karyawan yang baru. Yang masih muda-muda belia.

Di akhir acara saya umumkan: rencana bikin koran di Palu. Saya ceritakan betapa kecilnya Kota Palu. Betapa sepinya. Betapa jauhnya.

Saya tidak ingin menugaskan seseorang ke sana. Tidak tega. Khawatir menerima tugas itu dengan setengah hati. Mana ada yang mau ditugaskan ke daerah seperti itu? Tanpa janji kesejahteraan yang terjamin?

“Saya ingin tahu. Adakah di antara kalian yang mau ke Palu? Memimpin koran di sana?” kata saya. Dengan setengah hati. Dengan pesimismenya yang tinggi.

Tantangan itu saya ucapkan sambil setengah bercanda. Tidak berharap sedikit pun akan ada yang unjuk tangan.

Baca Juga:  Saksi Ahli Jaksa Justru Untungkan Dahlan Iskan

Ternyata ada sebuah tangan terangkat ke atas. Dari kerumunan di belakang sana. Anak muda sekali. Anak baru. Atau agak baru. Saya kaget.

“Siapa yang angkat tangan itu,” tanya saya. Semua tertawa. Tidak jelas apa maksudnya.

“Saya, pak. Joko Intarto. Wartawan baru. Saya mau ditugaskan ke Palu,” katanya lantang.

Hah? Wartawan baru? Ganti saya yang kelabakan. Akankah koran itu akan dipimpin seorang wartawan baru? Yang umurnya belum 25 tahun? Yang baru lulus Undip Semarang? Yang masih bujang? Menjabat redaktur pun belum pernah?

Saya putuskan detik itu juga: jadi! Rasanya Mas Jokolah pimpinan termuda dalam sejarah koran di Indonesia.

Mas Joko profil anak muda yang ringan kaki. Apa saja dikerjakan. Tanpa perhitungan untung rugi. Bagi dirinya.

Sejak ia berhenti dari koran itu saya hanya sesekali bertemu. Saya tahu: Mas Joko mengerjakan bisnis jasa. Terkait internet.

Ia punya kapasitas menangani tulisan-tulisan saya. Ia mampu mendesain blog khusus untuk saya.

Tapi, apa nama blognya? Saya sih terserah saja. Mas Joko mengajukan sejumlah nama. Termasuk “Disway”. Diambil dari judul salah satu buku. Yang berbicara tentang saya.

Baca Juga:  Lubang Sari Rapet si Donald

Saya berusaha menghubungi penulis buku itu. Untuk minta restu menggunakan nama Disway.

Begitulah. Tidak terasa umur Disway sudah beberapa bulan. Tidak pernah bolong. Tiap hari saya menulis untuk Disway.

Kadang saya telpon mas Joko. Minta deadline mundur beberapa menit. Menunggu  peristiwa baru di luar negeri. Yang lagi hangat.

Kadang saya telpon ia: ada tulisan yang salah. Dikoreksi  pembaca. Agar dibetulkan.

Tapi minggu lalu saya kehilangan kontak. Saya bingung: sakitkah Mas Joko? Ke mana ia? Tapi email saya kok tetap masuk ke emailnya? Dan tulisan saya kok tetap bisa muncul di Disway?

Baru Rabu lalu saya lega: Mas Joko baik-baik saja. Saat ‘hilang’ itu ternyata ia lagi sibuk urusan 212. Ia ngurus persiapan live streaming dari Monas. Agar acara itu bisa diikuti publik. Karena banyak tv yang no signal.

Dua hari dua malam Mas Joko tidak tidur. Bagaimana bisa membuat live streaming itu on. Tanpa memungut bayaran. Sedikit pun. Saya terharu membaca tulisannya. Tentang suka duka menyiapkan live streaming itu. Seperti yang saya baca di situs-situs. Yang juga banyak di-share di grup-grup WA.

Nah, saya sudah menulis 212 kan? (dahlan iskan)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Kawasan Wisma Atlet Menunggu Investor

Next Post

PT IMM Peduli Pendidikan

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masuk Aturan KTR, Vape Tak Lagi Boleh Dihisap di Tempat Umum Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.