SANGATTA- Para cabor atau kontingen yang akan protes atas kekalahan saat bertanding dalam Porprov VI Kaltim di Kutim, harus berpikir ratusan kali.
Pasalnya, sebelum protes, mereka harus menyiapkan uang protes Rp 25 juta. Uang ini sebagai administrasi protes kepada panitia. Protes yang dilayangkan pun harus mengikuti prosedur. Jika tidak, maka jangan harap mendapatkan tanggapan dari panitia.
“Protes harus secara resmi. Kalau protes bayar Rp25 juta baru kami layani. Kalau protes di pinggir jalan tak akan kami akomodir,” ujar Harpandi salah satu anggota PB Porprov.
Kata Harpandi, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim, yang menetapkan hal itu. Sehingga, semua harus menghargai dan melaksanakannya.
“Tidak ada sampai saat ini (protes). Tapi masalah ada. Tentu akan kami evaluasi. Pertandingan tetap jalan dan tak ada masalah,” katanya.
Karenanya, hingga saat ini pihaknya terus berbenah. Memberikan yang terbaik untuk semua. Jika ada hal yang dianggap kurang sesuai, maka langsung diselesaikan. “Kami selalu melakukan evaluasi. Sebelum menentukan, kami rapat dulu. Sampai benar-benar final,” katanya.
Sementara itu Bupati Kutim Ismunandar menuturkan, sampai saat ini pertandingan berjalan aman dan lancar. Tak ada permasalahan yang berarti.
“Kami hanya meminta tetap menjunjung sportivitas. Kami terus evaluasi perjalannya. Diakui ada kekurangan. Tapi terus berbenah,” katanya.
Di akhir pertemuan dirinya kembali berharap Kutim menyabet juara umum. Jika hal ini terwujud, maka menjadi kebanggan bagi Kutim.
“Target juara umum. Bagi atlet yang berprestasi akan mendapatkan bonus. Yang belum bekerja akan dijadikan tenaga pegawai,” katanya. (dy)







