• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Membangun Tanpa Menggusur

by M Zulfikar Akbar
22 Januari 2019, 09:31
in Dahlan Iskan
Reading Time: 4 mins read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kereta berhenti. Saya celingukan. Lingkungan stasiun ini tertata rapi. Bukan hanya stasiunnya saja. Bersih. Tidak ada rumah kumuh. Tidak ada kaki lima.

Agak lama saya termangu. Tengok kanan-kiri. Muka-belakang. Ini tidak seperti di lingkungan stasiun kereta api.

Padahal di mana-mana mirip: lingkungan di sekitar stasiun itu lebih ruwet. Juga lebih terasa low class. Dibanding kawasan pusat kota lainnya. Di Italia sekali pun. Apalagi di Manggarai. Atau di Pasar Turi.

Yang lagi saya ceritakan ini adalah di Konya, Turki. Kota terbesar keenam di negeri itu. Yang saya ke sana akhir bulan lalu. Untuk menemui Maulana Jalaluddin Rumi. Filosof yang meninggal dunia seribu tahun lalu.

Juga untuk melihat sistem pembangunan perumahan rakyatnya.
Hanya di Turki ini saya melihat semangat yang menyala-nyala. Dalam memperbaiki perumahan rakyat. Yang berarti juga membangun lingkungan kota.

Tentu jangan dibandingkan dengan Tiongkok. Yang memang tidak ada bandingannya.

Di Konya saya keliling kota. Ditemani Omar. Tidak berhasil melihat ada kampung miskin. Maka saya pun minta yang lain: ditunjukkan kampung yang masih lama. Yang masih kumuh. Yang belum digusur. Yang saya akan bisa melihat tingkat kemiskinannya.

Di semua kota besar pasti punya kampung yang seperti itu. Pikir saya. Di Beijing sekali pun.

Semula saya sulit menjelaskan pada Omar. Tentang kampung kumuh yang saya maksudkan. Ia tampak bingung. Seperti tidak paham bahasa Inggris saya.

Lalu saya ketik kata slum. Omar memasukkannya ke kamus Google. Asumsi saya: setiap kota pasti memiliki kawasan slum. Daerah kumuh. Daerah miskin. Dengan perumahan gembelnya. Di Amerika pun ada yang seperti itu. Meski tingkat kegembelannya berbeda.

Baca Juga:  Bermuara ke yang Besar Juga

Omar pun akhirnya paham. “Kita ke sana besok,” katanya.
“Sekarang sudah terlalu sore. Tiba di sana sudah agak gelap. Besok saja. Biar bisa melihat dengan jelas,” tambahnya.

Sore itu kami memilih makan. Saya minta dicarikan makanan khas Konya yang paling enak. Omar membawa saya ke arah pinggiran kota. Ke arah gunung.

Ia mengajak saya melewati real estate kelas atas. Yang rumah-rumahnya satu lantai. Maksimum dua lantai.

“Ini kompleks palace,” katanya. Saya pun minta penjelasan apa yang ia maksud dengan palace. Yang pengertian saya adalah istana. Apakah ada istana di kawasan itu.

Ternyata orang Konya berbeda. Rumah-rumah satu atau dua lantai seperti itu disebut palace. Rumahnya orang kaya. Padahal kalau saya perhatikan biasa saja.

Perumahan seperti itu banyak di Indonesia. Rumahnya dua lantai. Tanahnya sekitar 400 meter persegi.

Di Jakarta perumahan seperti itu masih dianggap kelas menengah. Belum bisa disebut palace. Di Indonesia jauh lebih banyak rumah yang justru bisa dikategorikan palace beneran.
Kesimpulan saya: golongan yang terkaya di kota ini tidak seberapa kaya.

Saya pun tiba di restoran besar. Di atas gunung. Yang dari dalamnya bisa melihat seluruh kota Konya.

Saya minta dipesankan masakan yang saya maksud: khas Konya.

Saya puas. Makanan itu enak sekali. Omar menjelaskan nama makanan itu. Juga cara membuatnya. Istrinya bisa memasaknya. Hanya kualitas bahannya lebih murah.
Saya selalu lupa nama masakan itu. Baru setelah ke kota Bursa saya ingat. Kota yang terletak antara Izmir dan Istanbul itu. Nama menu itu: Iskender.

Baca Juga:  Lulu dan Nana

Yakni setelah saya makan di restoran asli Iskender. Dari resto kuno inilah asal usul menu Iskender. Dari pemilik restoran itu. Yang diciptakannya di tahun 1867.

Tapi yang di Konya rasanya lebih enak. Menurut perasaan saya. Mungkin resepnya sudah dipermodern. Mungkin juga karena sudah lebih lapar.

Keesokan harinya saya lega. Sudah tidak turun salju. Udara masih minus 4 derajat. Tapi langit terang. Matahari melotot. Seperti lagi menghardik sisa-sisa salju yang ada. Yang masih melapisi pinggir-pinggir jalan.

Tapi saya kecewa. Sekaligus gembira. Ternyata saya tidak berhasil melihat slum.

Daerah slum yang diperlihatkan pada saya sama sekali bukan slum. Hanya satu-dua rumah lama. Yang tetangga sekitarnya sudah habis. Sudah diratakan. Sudah jadi lahan yang siap dibangun.

Kalau slumnya seperti itu bisa disimpulkan: tidak ada lagi slum.

Lapisan orang terkayanya tidak terlalu kaya.

Lapisan orang miskinnya tidak terlalu miskin.

Slum yang saya lihat tinggal rumah lama yang bermasalah. Yang ganti ruginya belum cocok. Masih menunggu penyelesaian. Tapi pada saatnya pasti digusur. Tidak ada istilah berlarut-larut.

Ada aturan waktu untuk ‘menerima atau digusur’.

“Saya dulu tinggal di rumah ini,” ujar Omar. Sambil tiba-tiba menghentikan mobilnya. Di sebelah rumah tua yang sudah kosong. Sudah siap dibongkar.

Ayahnya sudah lama menjual rumah itu. Saat Omar masih remaja. “Di sinilah dulu saya bermain,” katanya.

Di kanan kiri bekas rumahnya itu sudah berdiri perumahan baru. Khas Konya. Khas kota-kota di Turki. Itulah model baru perumahan rakyatnya.

Baca Juga:  Nio di Langit Biru yang Nio

Bentuk rumahnya seperti flat. Empat susun. Atau lima susun. Paling tinggi 8 susun.

Satu gedung yang empat lantai berisi 16 keluarga. Tiap lantai hanya untuk empat keluarga.

Kalau gedung itu 8 lantai isinya 42 keluarga.

Tiap gedung berjarak dengan gedung lainnya. Jarak itu cukup untuk lalu-lintas mobil. Bahkan untuk arena bermain anak-anak.
Tidak terlihat deretan rumah susun yang kesannya seperti rumah burung.

Konsep pembangunan perumahannya sangat “sosialis”. Atau “agamis”. Yakni ‘membangun tanpa menggusur’.

Para pemilik rumah di kampung lama terjamin: akan tetap di lokasi itu. Kalau toh harus pindah hanya sementara. Hanya saat flat itu dibangun. Mereka disewakan rumah. Di flat baru yang belum berpenghuni. Dua tahun kemudian mereka pulang kampung. Dengan kampung yang sudah baru.

Begitulah praktek di Turki. Membangun tanpa menggusur.
Saya ke kota Antalya. Yang lebih besar. Juga tidak menemukan slum di Antalya.

Mustafa yang kali ini menemani saya.

“Saya punya teman yang almarhum bapaknya punya rumah besar. Pekarangannya 1.000m2. Kampung lama itu di rehabilitasi. Di situ dibangun flat-flat modern. Sekarang teman saya itu punya tujuh apartemen di sana,” ujar Mustafa.

Ia sendiri punya apartemen 4 kamar. Di pusat kota Antalya. Saya tidak habis pikir: seorang sopir punya apartemen 4 kamar. Di pusat kota. Bukan di kelas Condet atau Depoknya Jakarta.

Saya ingin ke Turki lagi. Ingin mendalami lebih nukik bidang ini: membangun tanpa menggusur.(dahlan iskan)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Merasakan Kerupuk TKW, Kuliner Olahan Mantan Pekerja Imigran Arab

Next Post

PT IMM Tingkatkan Kompetensi Juru Las dan Otomotif

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masuk Aturan KTR, Vape Tak Lagi Boleh Dihisap di Tempat Umum Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.