• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Mengapa Tiongkok Melulu?

by BontangPost
4 April 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 2 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Dahlan Iskan

Saya menerima pertanyaan ini kemarin. Saat berada di Universitas Pajajaran, Jatinangor, Bandung: mengapa saya begitu tertarik menulis tentang Tiongkok?

Katanya: sayalah orang yang terbanyak menulis tentang Tiongkok.

Saya diagendakan dua acara di Unpad kemarin: memberikan kuliah umum dan menjadi salah satu penguji saat Dhiman Abror menjalani ujian untuk memperoleh gelar doktor. Abror adalah mantan Pimred Jawa Pos.

Saat memberikan kuliah umum sebenarnya sudah ada 10 penanya yang harus saya jawab. Tapi di luar aula masih ada seseorang yang sengaja menunggu saya. Mengajukan pertanyaan di atas. Serius sekali. Sampai memegangi tangan saya. Seperti takut kalau saya kabur.

Ternyata namanya Al Farabi. Asal Bengkulu. Yang lagi kuliah S3 di fakultas komunikasi di Unpad.

Saya tertegun mendengar pertanyaan itu. Dalam hati saya mengakui: iya ya! Jangan-jangan orang lain juga memendam pertanyaan yang sama.

Betul. Begitu sering saya mengulas tentang Tiongkok.

Maka inilah jawabnya. Dulunya, saya lebih sering menulis tentang Indonesia. Biasa. Negeri sendiri.

Baca Juga:  Trump Duluan, Kondom Kemudian

Lalu saat sering ke Amerika saya banyak menulis tentang Amerika.

Saya begitu kagum pada Amerika. Itu di tahun 1984. Pertama kali saya ke sana. Saat umur saya yang 33 tahun. Diundang oleh pemerintah Amerika. Untuk melihat apa saja di sana. Bebas. Silakan mengajukan daftar keinginan.

Waktu itu saya baru dua tahun memimpin Jawa Pos. Asyik-asyiknya melakukan perombakan: cara mencari berita, cara melihat angle peristiwa, cara menulis berita, caya melayout halaman, cara jualan koran, cara menjadi agen dan seterusnya.

Umur 33 tahun (dan sekitarnya), adalah memang puncak seorang manusia. Ambisi besar, mimpi besar, fisik kuat, bisa bekerja 16 jam sehari, dan bisa tidak tidur dua hari dua malam.

Semuanya demi membangun mimpi.

Apalagi kesempatan ada. Peluang tersedia. Wewenang sepenuh-penuhnya.

Begitu mendapat undangan ke Amerika itu saya berfikir: bisakah perusahaan ini saya tinggal selama sebulan? Relakah saya meninggalkannya?

Saya sendiri waktu itu tidak sekadar bekerja. Tapi juga mendidik. Membina. Mendampingi wartawan dan redaktur. Agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang baik dan modern.

Baca Juga:  Durian Runtuh di Rumah Sebelah

Mereka bukan hanya karyawan tapi juga murid saya. Sampai hatikah saya meninggalkan murid-murid itu selama sebulan?

Tapi keinginan bisa ke Amerika juga luar biasa menggoda. Apalagi tanpa keluar biaya.

Jawa Pos masih sangat miskin saat itu. Mesin ketiknya hanya beberapa buah. Wartawan harus bergantian menggunakannya. Mengetik berita pun tidak boleh di kertas baru. Harus di kertas bekas. Yang di baliknya sudah pernah digunakan.

Tapi saya harus ke Amerika.

Akhirnya saya ajukan daftar keinginan itu. Lebih dari 30 keinginan. Mulai mengunjungi koran-koran besar, koran kecil, koran di pedalaman, melihat Gedung Putih, melihat New York, Chicago, San Fransisco, Los Angeles, Disney World, peluncuran pesawat ruang angkasa dan banyak lagi.

Saya tidak tahu di mana saja letak obyek-obyek itu. Saya tidak bisa membayangkan jarak antar obyek.

Saya baru sadar setelah saya tiba di Amerika: Amerika itu besar sekali. Jarak antar obyek tersebut ternyata ada yang sejauh Sabang ke Merauke.

Baca Juga:  Bulog Desa Penebus Dosa

Begitu melihat daftar tersebut, staf konsulat Amerika di Surabaya merenung lama. Lantas bergumam: ok, setuju.

Tapi itu perlu waktu satu bulan. Itu pun sudah banyak yang harus ditempuh dengan pesawat. Dikabulkan.

Ganti saya yang “njondil”. Sebulan? Mana bisa saya meninggalkan bayi saya ini sebulan? Saya tinggal satu hari saja kangennya sudah sampai ubun-ubun. Sebulan? Tidak bisa.

Maka kami pun bernegosiasi. Akhirnya disepakati waktu dua minggu. Dicarikan jalan menyingkat jadwal: lebih banyak lagi yang pakai pesawat.

Hasil kunjungan dua minggu ke AS ini bukan main. Inspirasi yang saya peroleh bejibun.

Pulang dari AS semangat saya berlipat. Lebih banyak lagi perombakan akan saya lakukan.

Lho, mana jawaban atas pertanyaan Tiongkok tadi?

Kelihatannya belum bisa hari ini. Sabarlah menunggu. Semoga ada di sambungannya besok. Atau lusa. Atau kapan-kapan. Ampuuuun. (dis)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: catatan dahlan iksan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Akhirnya, Pansus Banjir Terbentuk 

Next Post

LHO!!! Sudah Terima Dana, Kok ‘Malas’ Bikin LPj 

Related Posts

Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dag Dig Dug Pemilu Malaysia

9 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Manufacturing Hope

8 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Adu Kuat Kereta Cepat

4 Mei 2018, 09:15
Obat #Stress2019 Ala Shanghai
Dahlan Iskan

Obat #Stress2019 Ala Shanghai

3 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Problem Bule Baca Disway

2 Mei 2018, 09:15
Ideologi Republik dari Kansas
Dahlan Iskan

Ideologi Republik dari Kansas

1 Mei 2018, 09:15

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masuk Aturan KTR, Vape Tak Lagi Boleh Dihisap di Tempat Umum Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.