• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Mengenal Tani Muda Santan: Membangun Desa, dari Konsumtif kembali Produktif

by Fitri Wahyuningsih
8 Juni 2020, 15:05
in Feature, Kaltim
Reading Time: 2 mins read
0
Kondisi air di Sungai Santan berubah keruh diduga akibat kehadiran perusahaan tambang sejak 1997 lalu. (Jatam Kaltim for Bontangpost.id)

Kondisi air di Sungai Santan berubah keruh diduga akibat kehadiran perusahaan tambang sejak 1997 lalu. (Jatam Kaltim for Bontangpost.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Sungai Santan menjadi denyut nadi tiga desa di Marangkayu. Kondisinya kian hari semakin memprihatinkan. Tercemar dan dangkal.

FITRI WAHYUNINGSIH, Santan

KABAR bakal ditambangnya Sungai Santan membuat resah Taufik Iskandar. Tanpa dikeruk saja, sungai ini sudah rusak. Dia menghimpun kekuatan. Agar rencana korporasi tambang bisa digagalkan.

Bersama dengan rekannya, dia mengumpulkan pemuda Marangkayu yang kuliah di Samarinda. Mereka melakukan aksi pada 2015 silam. Menggerduk Kantor Gubernur. Demonstrasi di perusahaan pertambangan.

Warga desa juga diedukasi. Diberikan advokasi. Bahwa jika sungai ditambang, maka kondisinya bakal semakin parah. Aliran sungai juga akan berubah. Usaha itu membuahkan hasil manis. Dengan dukungan warga, rencana menambang Sungai Santan batal. Perusahaan harus menelan pil pahit.

Keberhasilan itu menjadi cambuk untuk berkarya lebih besar. Kesamaan pandangan membuat Tani Muda Santan terbentuk. Mereka memiliki tujuan agar kejayaan Santan tidak hanya menjadi dongeng.

Baca Juga:  Menengok Panti Jompo Al-Magfirah: Delapan Tahun Berdiri, Rawat Orang Tua Terlantar
Ketua Tani Muda Santan, Taufik Iskandar. (Fitri Wahyuningsih/Bontangpost.id)

Sejak kehadiran perusahaan tambang medio 1997, keadaan desa mulai berubah. Baik itu Desa Santan Ulu, Santan Tengah, maupun Santan Ilir. Air sungai sudah tidak layak dikonsumsi. Warnanya cokelat pekat. Berbau. Dan mengandung limbah.

“Padahal dulu jernih. Warga bahkan sering langsung meminum dari sungai,” kata Taufik.

Hasil sungai juga berkurang drastis. Ikan dan udang semakin sulit didapat. Bahkan kerang kepeh, sudah tidak ditemukan. Punah sejak 2005.

“Dulu kalau orangtua kami ke sungai, pasti dapat udang besar,” kata Romiansyah, anggota Tani Muda Santan.

Kerusakan sungai juga membuat perilaku warga desa menjadi konsumtif. Padahal, selain sebagai nelayan sungai, mereka dulu banyak yang bercocok tanam. Kata Taufik, salah satu penyebabnya, adalah semakin seringnya banjir. Lahan pertanian terendam.

Baca Juga:  AKP Iskandar Bamulo, Siap Berantas Illegal Fishing dan Peredaran Obat Terlarang di Perairan Bontang

Tani Muda Santan bergerak dengan mengajak pemuda asal Santan kembali ke desa. Membangun desa. Mereka bertani. Berhasrat agar desa kembali menjadi produktif.

“Di sini banyak pohon kelapa. Tapi di dapur-dapur justru banyak minyak goreng kemasan dari luar. Padahal kalau membuat minyak kelapa cuma sehari,” tuturnya.

“Tambang itu tak bisa menghidupi lama. Sementara dengan bertani, sampai anak-cucu semua bisa dihidupi dan lahan bisa diwariskan,” sambungnya.

LAYANG-LAYANG PERLAWANAN

Momen Hari Anti Tambang dan Hari Lingkungan Hidup Dunia 5 Juni lalu menjadi momen bagi Tani Muda Santan untuk terus melakukan perlawanan bagi mereka yang dianggap perusak lingkungan. Mereka memilih menerbangkan layang-layang. Sebagai refleksi atas kerusakan lingkungan di desa mereka. Juga aksi protes terhadap pengesahan UU Mineral dan Batu Bara (Minerba).

Baca Juga:  bontangpost.id Juara Nasional Karya Tulis

“Bahas minerba bahkan tanpa melibatkan satupun warga yang bermukim di lingkaran kampung. Padahal mereka yang merasakan dampak terbesar kerusakan yang terjadi,” tutur pria 29 tahun ini.

Layang-layang yang akan diterbangkan oleh Kelompok Tani Muda. (Edwin Agustyan/Bontangpost.id)

Layang-layang dipilih karena dinilai mewakili masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Santan. Layangan adalah permainan tradisional yang kerap dimainkan kala musim panen tiba. Pun sebagai media hiburan anak-anak desa.

Layang-layang berbentuk merak dengan lebar 4 meter dan panjang 5 meter. Dibuat selama tiga hari. Rangka utama menggunakan bambu. Jembatan Marangkayu, Desa Santan Tengah menjadi tempat penerbangan layang-layang raksasa tersebut.

“Tiap tahun kami peringati (Hari Lingkungan Hidup). Konsepnya tidak selalu sama. Namun tujuannya selalu sama. Ada pesan dan tuntutan kami layangkan pada pemerintah. Kami ingin lingkungan desa pulih,” pungkasnya. (*)

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=gE1Rd7XV1xA[/embedyt]

Print Friendly, PDF & Email
Tags: featurehari anti tambangkutai timurmarangkayuSungai Santan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Main Ponsel Saat Berkendara, Mobil Hantam Tiang Listrik

Next Post

Beda Harga dan Takaran Sembako di BLT Jilid Kedua, Ada Dugaan Dimainkan Makelar

Related Posts

Pekerja Sawit Hanyut di Sungai Santan Ulu Marangkayu, Pencarian Masih Berlangsung
Bontang

Pekerja Sawit Hanyut di Sungai Santan Ulu Marangkayu, Pencarian Masih Berlangsung

19 Januari 2026, 09:07
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Jatuh Cinta di Desa Pela
Feature

Jatuh Cinta di Desa Pela

28 Oktober 2024, 08:18
Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual
Feature

Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual

23 Oktober 2024, 13:05
Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien
Bontang

Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien

30 Oktober 2023, 17:00
Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi
Feature

Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

1 Mei 2023, 10:00

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mini Soccer HOP 1 Bontang Ditutup Mulai Mei, Proyek Lanjutan Rp17,5 Miliar Segera Dikerjakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerindra Kaltim Semprot Rudy Mas’ud usai Bandingkan Diri dengan Hashim Djojohadikusumo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Daftar Tempat Parkir di Bontang yang Wajib Bayar Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Investasi Bodong Emas Digital di Bontang, Terlapor Mulai Diperiksa Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.