Sungai Santan menjadi denyut nadi tiga desa di Marangkayu. Kondisinya kian hari semakin memprihatinkan. Tercemar dan dangkal.
FITRI WAHYUNINGSIH, Santan
KABAR bakal ditambangnya Sungai Santan membuat resah Taufik Iskandar. Tanpa dikeruk saja, sungai ini sudah rusak. Dia menghimpun kekuatan. Agar rencana korporasi tambang bisa digagalkan.
Bersama dengan rekannya, dia mengumpulkan pemuda Marangkayu yang kuliah di Samarinda. Mereka melakukan aksi pada 2015 silam. Menggerduk Kantor Gubernur. Demonstrasi di perusahaan pertambangan.
Warga desa juga diedukasi. Diberikan advokasi. Bahwa jika sungai ditambang, maka kondisinya bakal semakin parah. Aliran sungai juga akan berubah. Usaha itu membuahkan hasil manis. Dengan dukungan warga, rencana menambang Sungai Santan batal. Perusahaan harus menelan pil pahit.
Keberhasilan itu menjadi cambuk untuk berkarya lebih besar. Kesamaan pandangan membuat Tani Muda Santan terbentuk. Mereka memiliki tujuan agar kejayaan Santan tidak hanya menjadi dongeng.

Sejak kehadiran perusahaan tambang medio 1997, keadaan desa mulai berubah. Baik itu Desa Santan Ulu, Santan Tengah, maupun Santan Ilir. Air sungai sudah tidak layak dikonsumsi. Warnanya cokelat pekat. Berbau. Dan mengandung limbah.
“Padahal dulu jernih. Warga bahkan sering langsung meminum dari sungai,” kata Taufik.
Hasil sungai juga berkurang drastis. Ikan dan udang semakin sulit didapat. Bahkan kerang kepeh, sudah tidak ditemukan. Punah sejak 2005.
“Dulu kalau orangtua kami ke sungai, pasti dapat udang besar,” kata Romiansyah, anggota Tani Muda Santan.
Kerusakan sungai juga membuat perilaku warga desa menjadi konsumtif. Padahal, selain sebagai nelayan sungai, mereka dulu banyak yang bercocok tanam. Kata Taufik, salah satu penyebabnya, adalah semakin seringnya banjir. Lahan pertanian terendam.
Tani Muda Santan bergerak dengan mengajak pemuda asal Santan kembali ke desa. Membangun desa. Mereka bertani. Berhasrat agar desa kembali menjadi produktif.
“Di sini banyak pohon kelapa. Tapi di dapur-dapur justru banyak minyak goreng kemasan dari luar. Padahal kalau membuat minyak kelapa cuma sehari,” tuturnya.
“Tambang itu tak bisa menghidupi lama. Sementara dengan bertani, sampai anak-cucu semua bisa dihidupi dan lahan bisa diwariskan,” sambungnya.
LAYANG-LAYANG PERLAWANAN
Momen Hari Anti Tambang dan Hari Lingkungan Hidup Dunia 5 Juni lalu menjadi momen bagi Tani Muda Santan untuk terus melakukan perlawanan bagi mereka yang dianggap perusak lingkungan. Mereka memilih menerbangkan layang-layang. Sebagai refleksi atas kerusakan lingkungan di desa mereka. Juga aksi protes terhadap pengesahan UU Mineral dan Batu Bara (Minerba).
“Bahas minerba bahkan tanpa melibatkan satupun warga yang bermukim di lingkaran kampung. Padahal mereka yang merasakan dampak terbesar kerusakan yang terjadi,” tutur pria 29 tahun ini.

Layang-layang dipilih karena dinilai mewakili masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Santan. Layangan adalah permainan tradisional yang kerap dimainkan kala musim panen tiba. Pun sebagai media hiburan anak-anak desa.
Layang-layang berbentuk merak dengan lebar 4 meter dan panjang 5 meter. Dibuat selama tiga hari. Rangka utama menggunakan bambu. Jembatan Marangkayu, Desa Santan Tengah menjadi tempat penerbangan layang-layang raksasa tersebut.
“Tiap tahun kami peringati (Hari Lingkungan Hidup). Konsepnya tidak selalu sama. Namun tujuannya selalu sama. Ada pesan dan tuntutan kami layangkan pada pemerintah. Kami ingin lingkungan desa pulih,” pungkasnya. (*)
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=gE1Rd7XV1xA[/embedyt]







