• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Jatuh Cinta di Desa Pela

by BontangPost
28 Oktober 2024, 08:18
in Feature
Reading Time: 7 mins read
0
SUPER RAMAH: Desa Pela selalu menyambut penuh kehangatan dan keramahan nan langka para pengunjung.

SUPER RAMAH: Desa Pela selalu menyambut penuh kehangatan dan keramahan nan langka para pengunjung.

Share on FacebookShare on Twitter

Kearifan lokal yang bersanding kebijakan pembangunan berkelanjutan Pertamina Hulu Mahakam (PHM), melahirkan desa tujuan utama para wisatawan. Kolaborasi cerdas yang bisa jadi teladan.

ISMET RIFANI, Desa Pela

NANANG menyandang tas kecil menuruni trap-trap tangga kayu menembus subuh dingin dan berkabut untuk mencapai perahu kecilnya. Sebentar lagi fajar menyingsing. Perkampungan yang diapit anak sungai dan hutan rawa kecil itu sudah ramai dengan nyanyian alam.

Berulang-ulang suitan burung liar beradu dengan kokok lantang ayam jantan. Pekikan monyet yang terdengar naik-turun dari kejauhan berpadu kecipak air dari buritan perahu yang dijejer rapi di pinggir sungai.

“Ssst, coba dengar!” kata Nanang sambil menatap saya, sebelum memandang ke arah sungai yang masih gelap.

Riak-riak kecil tertangkap berkat cahaya remang dari bola lampu di atas tiang kayu yang dipasang sekenanya di pinggiran sungai.

“Pesut mengejar ikan.” Nelayan paruh baya ini menghidupkan asa saya pada suatu subuh pertengahan September lalu.

Pesut salah satu alasan saya dan ribuan orang lainnya setiap tahun mengunjungi desa kecil bernama besar dengan pesona keindahan, keramahtamahan nan langka, sekaligus multi-kejutan ini.

Desa Pela, satu di antara 20 desa di wilayah Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Warganya tinggal di perkampungan di pinggir Sungai Pela. Panjangnya hanya sekitar dua kilometer, namun melahirkan cerita berkilo-kilometer.

Rumah-rumah di sini menghadap seragam, mengikuti lekukan sungai, lebih condong ke arah selatan.

Pinggiran sungai sisi selatan ditumbuhi deretan rumput tebal, pohon-pohon salam yang daunnya menjuntai menyentuh sungai, pohon karet, pohon asam, enau, dan banggeris tua. Saat kapal kecil menyusur di tepi sungai, bayangan deret pepohonan ini menjadi peneduh.

Di pinggiran sisi utara, rumah-rumah berarsitek jadul berdiri. Berkolong tinggi dari kayu ulin yang tiada banding. Satu rumah ke rumah lain dihubungkan jembatan kayu ulin selebar tiga meter yang berderit-derit saat sepeda motor melintas di atasnya.

Ketika saya tiba jelang azan Zuhur sehari sebelumnya, pot-pot besar berisi kembang kertas, mawar berbagai warna, aglonema, suplir, kembang tiga warna dan genitnya bunga pukul 9, juga pohon jambu, belimbing wuluh, dan mangga terlihat jelas dari perahu yang menyisir tepian sungai sisi utara.

Bahkan pemandangan salisik, istilah setempat, dari dua perempuan paruh baya yang membelah rambut mencari kutu di teras rumah terekam jelas, diselingi tingkah bocah lelaki dan perempuan yang berkejar-kejaran.

“Kalau Bapak mau, ikut saya. Biasanya pesut memburu ikan ke arah sana,” kata Nanang penuh kejutan. Lokasi yang ditunjuknya mengarah ke Danau Semayang, satu dari tiga danau besar yang sambung-menyambung di Kukar. Dua danau lainnya adalah Melintang dan Jempang.

Ajakan aneh serta mengagetkan. Karena butuh kesiapan dan mental khusus menaiki kapal kecil menyusuri danau seluas belasan ribu hektare pada subuh yang dingin. Lagi pula, perjumpaan saya dengannya baru kali ini.

“Jangan takut, pesut tak makan manusia. Kita tak juga tak makan mereka,” kata Nanang bercanda, saat saya menggeleng untuk merespons ajakan itu.

Sungai Pela, salah satu anak Sungai Mahakam –sungai terpanjang dan tervital di Kalimantan Timur.

Tergolong pendek, namun Sungai Pela memiliki peran strategis untuk perkembangbiakkan pesut, hewan endemik di perairan Mahakam. Sungai Pela ibarat Terusan Suez bagi mamalia cerdas ini. Satu-satunya lorong masuk dan keluar danau dari dan ke Sungai Mahakam.

Baca Juga:  Meiliana, Honorer yang Sukses Jadi Sekprov Kaltim 

Pesut berburu makanan di tiga danau tersebut. Saat musim kawin tiba, jantan dan betina memadu kasih di tiga danau yang indah ini dan hidup sebagai kawanan.

Namun dalam bentang alam dan irisan dengan makhluk lainnya, tak ada garansi siklus hidup pesut tak terganggu, terus mulus laiknya landasan pacu pesawat.

Sebagaimana kisah-kisah lain di seluruh dunia yang menyertai kepunahan suatu spesies, manusia adalah makhluk yang paling bertanggung jawab atas anjloknya populasi lumba-lumba air tawar ini. Para nelayan di Desa Pela dan sekitarnya, dulu, mengambil peran utama jika ada pertanyaan ke mana arah telunjuk “sebagai orang jahat” harus dialamatkan.

Gabungan faktor kebutuhan, ketidaktahuan, tak terlalu peduli, serta ketiadaan aturan yang jelas, boleh jadi melatari.

Ilustrasi yang disampaikan Supyan Noor, kepala Desa Pela, saat menemani saya memburu sunset pada sore yang cerah di pinggiran Danau Semayang yang indah, bisa jadi salah satu penjelasan.

Sebelum 2018, nelayan, pekerjaan 90 persen warga di Desa Pela, belum menerapkan penangkapan ikan ramah lingkungan. Ukuran jaring tak terseleksi. Nelayan bahkan memasang jaring dengan cara membentang di anak sungai yang lebarnya tak sampai 100 meter tersebut. Pekerjaan bodoh yang didasari pada kebiasaan turun-menurun. Praktik-praktik penggunaan bom ikan dan setrum di Danau Semayang jamak terlihat.

Apa yang terjadi? Bersuara lembut namun tegas, Sopyan menuturkan, banyak pesut terjaring di jala-jala nelayan. Dan biasanya berujung pada kematian.

Ikan-ikan kecil sebagai makanan utama pesut berkurang populasinya karena terjala oleh jaring dengan mata berukuran kecil. Praktik pengeboman ikan memperparah kondisi tersebut. Hukum rantai makanan pun berlaku. Populasi pesut mahakam ikut menurun.

Untungnya kesadaran cepat datang. Pada 2018, dikeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 2 yang melarang pemasangan jaring yang membentang sungai, praktik setrum dan bom ikan, juga seleksi pada mata jaring.

Peraturan yang tak populis. Supyan menyebut, tantangan terutama datang dari desa-desa lain di sekitarnya yang sama-sama mengandalkan Semayang sebagai lokasi tangkapan. Tapi Supyan dan perangkat desa tak mundur. Selama area tangkap masuk batas wilayah Desa Pela, peraturan berlaku kaku. Bukan satu-dua kali bentrok terjadi di lapangan. Bahkan sampai ke tingkat ekstrem. Nelayan yang kepergok mengebom di danau, perahu dan jalanya langsung disita.

Tak butuh waktu lama, perdes tersebut berpengaruh terhadap populasi dan hasil tangkapan. Pesut yang terjaring jala nelayan masih ada, namun jumlahnya mulai berkurang. Hingga tibalah campur tangan Pertamina Hulu Mahakam (PHM), anak perusahaan Pertamina Hulu Indonesia (PHI), perusahaan minyak dan gas milik pemerintah, yang memiliki konsesi di sejumlah lokasi di Kukar.

TERANCAM PUNAH: Pesut Mahakam, hewan endemik Perairan Mahakam. Populasinya terancam punah dan masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

KOMIK PESUT MAHAKAM

Sejatinya tak ada konsesi PHM di sekitar Kecamatan Kota Bangun yang mengarah ke hulu Mahakam. Konsesi PHM di Kabupaten Kukar terdapat di delta Mahakam, kecamatan lain di muara dan pesisir, semisal di Anggana, Sangasanga, Muara Badak, Muara Jawa, dan Samboja.

Namun, kearifan lokal yang diusung masyarakat Desa Pela rupanya sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang kini juga dipraktikkan PHM.

Baca Juga:  Nestapa Sopir Bus Bontang di Tengah Pandemi

Dalam wawancara singkat, Head of Communication Relations and CID PHM Frans Alexander A Hukom menyatakan, kearifan lokal Desa Pela seirama dengan concern PHM dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Pesut mahakam disebutnya merupakan satwa endemik Sungai Mahakam yang saat ini memiliki status konservasi terancam punah atau critically endangered (CR), dan masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Status konservasi ini satu level sebelum pesut dinyatakan punah dengan status extinct in the wild (EW) atau punah di alam liar.

Status EW berarti bahwa satwa tersebut hanya bisa ditemui di konservasi buatan seperti penangkaran/sungai buatan.

Uji coba pesut untuk bisa dikonservasi di Taman Mini Indonesia Indah pernah dilakukan oleh pemerintah, dan sayangnya tidak berhasil. Kegagalan untuk menjaga di habitat aslinya memperbesar kemungkinan status konservasi pesut mahakam memasuki level kepunahan.

Kondisi di atas menjadi dasar PHM ikut andil dan berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Pokdarwis Desa Pela, lembaga perguruan tinggi seperti Politeknik Negeri Samarinda dan masyarakat secara luas yang memiliki visi dan nilai-nilai yang selaras untuk bersama-sama menjaga kelestarian pesut, sehingga populasinya tidak punah di habitat asalnya.

PHM pun mengusung program Konservasi Endemik (Komik) Pesut Mahakam yang berbasis lingkungan, disinergikan dengan pengembangan Desa Wisata Pela sehingga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang konservasi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di wilayah ini.

Dalam penerapannya, PHM bersama RASI dan Pokdarwis Bekayuh Baumbai Bebudaya (3B), sebagai pengelola Desa Wisata Pela yang aktif dalam menjaga keberadaan pesut mahakam, mendorong masyarakat nelayan untuk mengurangi penggunaan alat tangkap yang dapat mengganggu pesut mahakam, salah satunya dengan penggunaan inovasi pinger akustik.

Alat ini merupakan modifikasi resonansi suara yang dipakai dalam proses seismik, berupa perangkat elektronik kecil yang mampu mengeluarkan suara pulse (ultrasonic) agar pesut tidak mendekat ke jaring nelayan.

Pinger akustik dipakai nelayan dengan cara dikaitkan di jaring. Pesut mempunyai kemampuan mendeteksi dan menghindari rintangan atau bahaya dengan menggunakan gelombang ultrasonik.

Inovasi ini mampu menurunkan jumlah pesut yang terjerat jaring nelayan, dari semula 66 persen pada 2020 menjadi 0 persen pada 2023. Capaian signifikan ini mendukung pelestarian pesut mahakam yang keberadaannya saat ini, menurut data RASI, diperkirakan hanya tersisa 65-75 ekor.

Sebagian dari jumlah inilah yang kerap muncul di permukaan Sungai Pela, dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Agar program Komik Pesut Mahakam yang berbasis lingkungan bisa disinergikan dengan pengembangan wisata, PHM melengkapinya dengan dukungan kapal dan mesin kapal untuk ranger pesut, juga membangun pos pantau. Ini untuk memastikan tak ada gangguan dari masyarakat saat pesut melintas di sekitar Sungai Pela dan Danau Semayang.

Untuk mendukung wisata minat khusus, PHM juga berkontribusi dalam pembangunan museum nelayan, kapal wisata, landmark dan papan nama desa, dukungan sarpras homestay, atraksi wisata seperti sepeda dan paddle board serta dukungan peningkatan kapasitas masyarakat setempat.

Semisal pelatihan bahasa Inggris, tour guide, hospitality, gastronomi dan pelatihan sosial media manajemen. PHM bahkan menyediakan beasiswa untuk menempuh studi D4 Perjalanan Wisata di Politeknik Negeri Samarinda untuk pemuda Desa Pela.

Baca Juga:  Puncak Samarinda, Bak Negeri di Atas Awan

Saat saya di desa ini, Isna, perwakilan PHM yang terlibat dalam program Komik Pesut di Desa Pela, rupanya sedang menyiapkan pelatihan gastronomi praktis.

Pelatihan yang bertujuan agar warga desa yang membuka rumah mereka sebagai homestay juga melengkapi diri dengan kemampuan mengolah dan menyajikan kuliner lokal kepada wisatawan.

Saya sungguh tertarik mengikuti. Sayang waktu saya tak cukup banyak di desa ini. Jadwalnya bertepatan waktu saya harus pulang.

Isna, perempuan berparas ayu alumnus UGM Yogyakarta ini rupanya begitu dikenal di Desa Pela. Ia supel, ramah, antusias menyambut perbincangan, dan lebih dari itu sejumlah pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat yang dikomandoinya setahun terakhir membuatnya populer dari ujung timur ke ujung barat desa. Bu Isna PHM, begitulah warga desa ini menyematkan identitas baginya.

Sebelum Isna datang ke Desa Pela, PHM juga pernah menempatkan “Bu Isna PHM” lainnya yang pada dasarnya memiliki peran yang sama. Mereka diutus PHM bekerja sama dengan Pokdarwis 3B dan stakeholders lainnya, menjadi jembatan antara program Komik Pesut Mahakam dan keinginan warga Desa Pela memiliki kehidupan yang lebih baik.

Dengan sederet dukungan yang memanjakan tersebut, tak heran jika kini Desa Pela menjelma desa wisata yang namanya berada di daftar atas destinasi alam yang harus dituju saat wisatawan datang ke Kaltim, khususnya ke Kabupaten Kukar.

Dukungan dari PHM makin menebalkan dan menebarkan cerita-cerita indah soal Desa Pela yang dihuni masyarakat ramah, super-hangat, dan sangat antusias menyambut pendatang.

Setidaknya itulah yang terekam saat saya akhirnya mengakhiri kunjungan singkat jelang pergantian musim kemarau ke musim hujan pada pertengahan September lalu.

Pesut Mahakam yang langka, danau indah sekaligus misterius, bentang alam yang menawan, warga yang serasa mendapat kehormatan saat kedatangan tamu, kearifan lokal, hidup selaras dengan alam, damai dalam kebersamaan dan perbedaan, dan tentu saja campur tangan positif PHM, adalah paduan yang mengubah sebuah potensi menjadi keniscayaan, sekaligus kekuatan besar untuk kemajuan warga Desa Pela.

Saat perahu kecil yang dikemudikan Handri, pemuda lokal multitasking yang kadang bertindak sebagai tour guide merangkap content creator, videografer plus editor video mengantar saya ke desa sebelah sebelum menempuh perjalanan darat untuk kembali ke rumah, saya teringat dengan sebuah kalimat yang pernah saya baca, bertahun-tahun silam. Bahwa sebuah perjalanan bukan sekadar melihat kehidupan di lokasi baru, tetapi juga mengambil refleksi dari kisah hidup dengan mata yang baru.

Rembang petang jelang surya tenggelam di Danau Semayang. Satu dari tiga danau destinasi alam di Desa Pela.

Mungkin hal itu saya dapat pada sore sebelumnya, dari menara pantau di pinggiran Danau Semayang, ditemani sejumlah warga desa, saat sinar kuning matahari senja yang bulat oranye perlahan tenggelam di cakrawala.

Momen sunset itu semakin dilengkapi bunyi lembut mesin perahu nelayan yang bergerak lambat beranjak pulang dari danau. Juga rombongan burung-burung pipit menembus lembayung senja, serta lengkingan dari langgar kecil menyuarakan azan Magrib. Sepertinya saya jatuh hati, dan saya tentu tak terkejut jika suatu hari akan kembali ke desa ini. (dwi)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: feature
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Kisah Tiga Nelayan Loktuan yang Hilang Selama Enam Hari; Bertahan Hidup di Lautan, Ditemukan di Perairan Gorontalo

Next Post

Sem Nalpa Soroti Akses Jalan ke Sekolah di Bontang Barat Kerap Banjir

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual
Feature

Kisah Penjaga Pintu Air Sungai Bontang: Buaya Mengintai, Bersihkan Sampah secara Manual

23 Oktober 2024, 13:05
Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien
Bontang

Mengenal Dokter Spesialis Bedah Fachrisatul Masruroh; Diharapkan Jadi Mantri, Belajar Banyak dari Pasien

30 Oktober 2023, 17:00
Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi
Feature

Mengenal Ulama Penyebar Islam di Bontang; Habib Ja’far bin Umar Al-Habsyi

1 Mei 2023, 10:00
Feature

Kisah Warga Kaltim yang Menjalani Puasa di Luar Negeri; Nisa (1)

29 Maret 2023, 21:00
Mengenal Sosok Suaji, Warga Bontang Penerima Kalpataru
Bontang

Mengenal Sosok Suaji, Warga Bontang Penerima Kalpataru

11 Juni 2022, 14:00

Terpopuler

  • Dua Pengedar di Muara Badak Ditangkap Saat Berboncengan, Polisi Sita 16,55 Gram Sabu

    Dua Pengedar di Muara Badak Ditangkap Saat Berboncengan, Polisi Sita 16,55 Gram Sabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Creative Night Market Bontang Kembali Digelar, 100 UMKM Ramaikan Jalan Cut Nyak Dien

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Daftar Tempat Parkir di Bontang yang Wajib Bayar Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rp1,7 Miliar untuk TMMD Bontang, Jalan 450 Meter hingga Sumur Bor Dibangun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.