bontangpost.id–MBAH Zaroh, begitu perempuan tua itu kerap disapa, duduk termangu di kursi rodanya. Air mukanya nampak bingung. Matanya tak mampu menerawang jelas. Lantaran sudah kabur dilibas zaman.
Masih di ruangan tempat mbah Zaroh berada, pun ada beberapa orang lanjut usia (lansia) lainnya. Mereka duduk berjejer. Diam saja. Memperhatikan sekitar. Yang memang beda. Lebih ramai dari biasanya.
”Mbah Zahro ini paling super perawatannya. Dia juga penghuni terlama di sini,” ujar Maryasih sembari tertawa.
Maryasih merupakan pengurus sekaligus pendiri Panti Jompo Yayasan Ponpes Manula Al-Magfirah. Sejak 2012 silam, dia mengabdikan diri bekerja di jalur kemanusiaan. Dengan merawat lansia yang terlantar.
Dikatakan Maryasih, panti ini lahir dari ketidaksengajaan. Kala itu, medio tahun 2012, mbah Zaroh terlantar di Pasar Citra Mas Loktuan. Ketika ditemukan, kondisinya amat memprihatinkan. Ia terlantar. Sebatang kara. Kelaparan, dan penyakit stroke sedang ganas-ganasnya menggerogoti tubuh perempuan yang diprediksi berusia 90 tahunan itu.
Akibat stroke yang diderita, mbah Zaroh bahkan tak sanggup membersihkan diri. Terlunta-lunta di pasar, tubuhnya mengeluarkan aroma tak sedap akibat berhari-hari tak mandi.
Melihat kondisi itu, beberapa orang di pasar dan anggota majelis taklim di Loktuan meminta bantuan Maryasih. Dia dimintai bantuan sebab kala itu posisinya sebagai pengurus inti majelis taklim Masjid Al Mubarok. Yang mana, majelis itu bukan saja membahas kajian agama dan hal-hal yang melingkupinya. Pun menangkap persoalan sosial di masyarakat dan berupaya mencari solusi atas permasalahan tersebut.
“Akhirnya kami tolong, awalnya mau dititipkan di panti jompo Samarinda. Tapi karena enggak bisa, jadi kami berpikir ulang cara membantu mbah Zaroh,” beber Maryasih.
Lepas berdiskusi dengan pengurus majelis taklim, pun bersama keluarga, khususnya suami. Akhirnya, dengan tekad membantu dan bekerja demi kemanusiaan, Maryasih mendirikan panti jompo ini.
“Modalnya cuma yakin. Insyaallah semua akan dimudahkan,” ujarnya bersemangat.
Panti jompo ini mulanya didirikan di Loktuan. Tepatnya di Jalan Kapal Pinisi (Pos 7). Dengan menyewa sebuah rumah, berada tepat di sisi kanan jalan. Dua tahun berselang, pengelola memutuskan pindah lokasi. Pertimbangannya, sebab lokasi itu dinilai kurang aman karena bersisian dengan jalan protokol. Juga tak nyaman akibat suara bising lalu lalang kendaraan.
“Jadi kami pindah di tempat ini. Sudah 6 tahun,” ujarnya.
Adapun lokasi panti ini terletak di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Kilometer 10 RT 8. Dusun Kemuning, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Panti jompo ini berdiri di lahan pribadi milik keluarga Maryasih. Lantaran kadung berkecimpung dalam kerja sosial ini, pun agar kelak tak ada polemik hadir, maka lahan itu dengan ikhlas diwakafkan.
“Lahan sekitar 1 hektar. Kami wakafkan untuk pondok pesantren ini. Insyaallah berkah,” ungkapnya.
Untuk saat ini, panti jompo ini hanya menerima mereka yang benar-benar terlantar, atau sebatang kara. Bukan orang tua yang memiliki sanak famili tapi ingin dititipkan ke panti.
“Untuk sementara kami tidak terima penitipan. Bukan karena menolak, tapi karena fasilitas dan SDM masih sangat terbatas,” katanya.
Untuk tenaga yang membantu pengelolaan panti, Maryasih dibantu 4 orang sukarelawan. Sebagian besar merupakan masyarakat yang bermukim dekat panti. Ada pula yang memang ingin mengabdikan diri di panti ini.
“Mereka kerja sukarela saja, membantu mbah-mbah kita,” ungkap Maryasih seraya menikmati nasi kuning di hadapannya.
Telah 8 tahun berdiri, sudah 10 penghuni panti kembali ke pangkuan Tuhan. Mbah Zaroh, yang menjadi penghuni pertama, masih di tempat ini. Dia pertama, dia pun tertua.
Selain mbah Zaroh, kini dia punya 8 kawan lain. Masing-masing 2 dari Kutim, 6 dari Bontang. Pun ada 2 anak yang tinggal di panti itu. Kata Maryasih, keduanya merupakan anak korban perceraian.
“Ikut ibu atau bapaknya bermasalah. Jadi dibawa ke sini, disekolahkan,” ujar Maryasih.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, panti jompo ini mengandalkan hasil pertanian sekitar. Sementara untuk membayar air, listrik, gas, dan membeli kebutuhan penghuni, semisal popok dan kebutuhan pangan lain berasal dari sumbangan donatur. LAZ Yaumil Pupuk Kaltim merupakan donatur utama.
“Sisanya bantuan donatur, kayak adik-adik ini,” ujarnya merujuk kepada awak media yang menyambangi pondokan manula itu. (*)







