• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Nana Begitu Dibela Anak Autisnya

by BontangPost
15 November 2018, 06:00
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

 

Banyak yang punya anak autis. Tapi tidak seperti Nana. Yang habis-habisan. Mencarikan jalan keluar. Agar autis anaknya hilang selamanya.

 

Nana tinggalkan pekerjaannya. Dia lakukan penelitian. Dia temui banyak ahli. Dia baca banyak buku. Banyak artikel.

 

Berhasil.

Dia temukan ramuan yang cocok untuk menyembuhkan anak laki-lakinya itu.

Ramuan itu dirahasiakannya: hasil kombinasi biji-bijian. Yang dia olah menjadi susu bubuk. Dia minumkan ke anaknya itu tiap hari. Sebagai makanan utama sang anak.

Nana berharap banyak pada anaknya itu. Apalagi setelah Nana diceraikan oleh suaminya: seorang pengacara.

 

Setelah anaknya sembuh, Nana baru bisa tenang. Lantas berhasil kawin lagi. Dapat anak lagi. Perempuan. Normal. Lalu cerai lagi.

 

Saya bertemu Nana setelah itu. Setelah berstatus janda untuk yang kedua kalinya. Waktu itu umurnya masih 35 tahun. Kulitnya bersih terang. Wajahnya tampak cerdas. Kacamatanya agak tebal. Khas orang kebanyakan membaca. Model kacamatanya cocok dengan bentuk wajahnya yang agak bulat.

 

Dari nada bicaranya kelihatan jelas: Nana seorang yang antusias. Penuh semangat. Tapi juga sangat sopan.

 

Nana menemui saya untuk konsultasi. Mengenai usaha barunya: memproduksi susu bubuk untuk anak autis.

 

Saya mendengarkannya  dengan tekun. Setengah kagum. Pada jalan hidupnya.  Pada nasibnya sebagai  wanita.  Pada kegigihannya.

Baca Juga:  Kebaikan Bertemu Kebaikan untuk Semoga

 

Tentu saya tidak perlu memberi saran apa-apa. Saya percaya Nana sudah punya segala-galanya: produk yang orisinal, tekat yang membara dan usia yang masih muda.

 

Nana pun pulang dengan hati yang mantap: memproduksi susu bubuk biji-bijian. Untuk anak autis.

 

Saya sering menghubungi Nana. Menanyakan kemajuan usaha kecilnya.

Lalu hubungan itu putus.

 

Saya disibukkan dengan urusan-urusan yang tidak masuk akal itu. Usaha sosiopreneur saya lainnya juga langsung terhenti.

 

Sampai datanglah tahun 2018.

Awal tahun tadi Nana menemui saya lagi. Sudah begitu lama tidak ada berita. Rasanya Nana tidak bertambah umurnya. Tatapan matanya tetap tajam cendekia. Jilbabnya kian bagus modelnya.

 

Masih tetap menjanda. Dengan dua anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Saya belum pernah melihat anaknya itu. Baik yang autis maupun adiknya.

 

Tentu saya langsung menanyakan ini: bagaimana perkembangan susu bubuk autisnya.

Nana tidak segera menjawab. Wajahnya menunduk. Matanya sembab.

 

Saya tahu apa yang terjadi di balik kesedihannya itu.

 

Nana menghentikan usahanya.

 

Mengapa?

 

Beberapa usaha makanan temannya digerebek. Tidak punya izin. Ilegal. Jadi perkara. Jadi pemberitaan media.

 

Nana tidak mau usahanya digerebek seperti itu. Nana pilih menghentikannya. Kepada pelanggannya Nana beralasan: lagi melakukan perbaikan alat-alat produksi.

Baca Juga:  Penyelamatan

Nana tahu itu bohong. Tapi dia ingin menyelamatkan resep rahasianya. Untuk masa depannya.

 

Tapi Nana juga tidak tahu: kapan bisa produksi lagi. Dengan izin yang resmi. Agar tidak digerebek.

 

Untuk dapat izin, alat-alat produksunya harus baik. Harus standar untuk peralatan produksi makanan dan minuman. Yang lebih ketat dibanding produksi apa pun.

 

Berarti perlu modal besar. Perlu lokasi dan bangunan yang memenuhi syarat pula.

Nana hampir saja menyerah: menjual resepnya itu. Ke perusahaan asing. Perusahaan susu dari Kanada.

 

Nana sudah sering dihubungi. Rupanya perusahaan Kanada itu sempat memonitor pemasaran susu bubuk milik Nana. Yang menjadi pesaing di kelasnya.

 

Itulah sebabnya Nana menemui saya. Minta pendapat saya.

 

Saya tidak sampai hati kalau Nana harus menyerah ke perusahaan asing. Itu melawan hati nuraninya.

 

Maka saya pun mencarikan jalan keluar. Saya ajak dia meninjau lokasi yang saya incar.

 

Tiba-tiba saya mendengar ini: Nana meninggal dunia.

 

Terkena kanker pankreas. Yang tidak pernah dia rasakan.

 

Kalah dengan antusiasmenya.

 

Saya pun melayat ke rumahnya. Setelah saya menjadi pembicara di seminar internasional Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia.

Baca Juga:  Hijab Pertama

 

Tiba di rumahnya saya disambut seorang lelaki tua di kursi roda. ”Saya ayah Nana,” katanya lirih. ”Nama kita sama, Dahlan,” tambahnya.

 

Oh makanya nama lengkap Nana adalah Nana Dahlan. Ia seorang pensiunan jaksa.

 

Tapi jenazah Nana lagi dibawa ke masjid. Siap-siap dimakamkan setelah salat dzuhur.

Saya pun ke masjid. Berdoa di dekat kerandanya.

 

Lalu ada anak muda yang memperkenalkan diri. ”Nama saya Rangga,” katanya.

Itulah anak Nana yang dulunya autis. Sekarang smester pertama di fakultas hukum sebuah perguruan tinggi swasta.

 

Dari gaya bicaranya masih terlihat sisa-sisa autisnya.

 

”Mengapa memilih fakuktas hukum?,” tanya saya.

 

”Saya mau jadi jaksa. Saya akan hadapi bapak saya di sidang-sidang,” jawabnya.

Terasa pahit kata-katanya. Begitu tinggi pembelaan pada ibunya.

 

”Senang di fakultas hukum?” tanya saya lagi.

 

”Tidak,” jawabnya.

 

”Kesenangan Anda apa?,” tanya saya.

 

”Menciptakan permainan game di komputer,” jawabnya.

 

”Pakai sofware apa?,”

 

”Yang gratisan. Seperti Opentoonz, Krita, Shotcut dan Blender 3D,” jawabnya.

 

Ia pun sangat antusias membicarakan software apa saja. Di penciptaan game itu. Yang saya tidak sepenuhnya mengerti.

 

Begitu cerdas anak ini. Saya menjadi was-was: jangan-jangan lingkungannya tidak memahami kecerdasannya. (dahlan iskan)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

4 TKA Asal Tiongkok Ilegal

Next Post

M Nurdin Berlabuh di Partai NasDem

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Investasi Bodong Rugikan Rp18 Miliar, Istri Anggota DPRD Bontang Ikut Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Bontang Gelar Mutasi Besok, Nama Pejabat Masih Dirahasiakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Didominasi Perempuan, Wali Kota Bontang Lantik Camat dan 10 Lurah Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Bulan, Polisi Ringkus 24 Tersangka Narkoba, Kasus Terbanyak di Bontang Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.