Bagaimana para pelukis dan penyair merespons dinamika industri yang berlangsung di sekitar kerja PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang? Seperti apakah interaksi itu kemudian tergambar dalam karya-karya mereka? Tidakkah umumnya industri berkecenderungan kapitalistik, berjarak, atau biasa terasing dari kerja-kerja kebudayaan dan kesenian?
SYAFRIL TEHA NOER, Samarinda
SEMUA itu akan terjawab saat PKT Menyapa Budaya (PMB) usai dihelat di Bontang, 5–9 Juni nanti. Tak kurang dari 15 pelukis dan 9 penyair dari berbagai kota Tanah Air, termasuk Samarinda, Balikpapan, dan Bontang, direncanakan ambil bagian sebagai peserta.
Dari kalangan perupa ada nama-nama semisal Nasirun, Jumaldi Alfi, Ong Hari Wahyu, Putu Sutawijaya, Bambang Herras, plus tiga pelukis dari Bontang, Samarinda, dan Balikpapan–Makian’y Wahid, Uchie Axel, dan Cadio Tarompo.
Adapun dari jajaran penyair, antara lain, Joko Pinurbo (Jokpin), Triyanto Triwikromo, Hasan Aspahani, serta Andria Septy (Samarinda), Shopie Razak (Balikpapan), dan Sunaryo Broto (Bontang). Bermukim di Jakarta dan Batam, Hasan berasal dari Kutai Kartanegara.
Butet Kartaredjasa, inisiator dan peserta dalam kelompok pelukis, menyebut PMB adalah reaksi kreatif atas dunia industri dan kebudayaan yang sering dianggap saling memunggungi, bertolak belakang. “Padahal manusia-manusia di jagat industri adalah mahluk budaya yang senantiasa perlu asupan pemikiran dan ekspresi budaya. Salah satunya ekspresi kesenian,” katanya.
Melalui asupan pemikiran dan ekspresi kesenian itulah nilai-nilai kemanusiaan terasah, menjadi lebih peka. Sebetulnya itu bukan hal baru. Tahun 1970-an silam, Pertamina menyapa dan merangkul sejumlah pelukis untuk mengekspresikan hasil interaksi mereka dengan industri perminyakan nasional kala itu ke dalam karya-karya lukis.

Para pelukis itu, kata Butet, diundang untuk melihat dan menghayati dari dekat kegiatan di kilang-kilang minyak di berbagai sudut Indonesia. Mendengarkan apa yang terjadi, memperoleh informasi seputar peran industri bagi manusia Indonesia. Lalu lahirlah lukisan-lukisan yang secara tematik memberi nuansa baru pada konstelasi seni rupa Indonesia.
“Sebuah industri yang makhluk ekonomi lantas mengambil peran dalam khasanah budaya, yang tidak semata-mata berorientasi pada pendapatan keuntungan finansial, melainkan juga mengandung sentuhan budaya dan kemanusiaan. Dan terbukti di kemudian hari karya-karya itu menjadi koleksi Pertamina yang sangat bernilai,” kata aktor teater yang pelukis itu.
Sebagaimana Pertamina, PKT ternyata menyambut baik gagasan ini. Bagi PKT persinggungan dengan aktivitas kebudayaan dan kesenian sesungguhnya bukan perkara baru. Pada1990-an di tengah “belantara” instalasi pabriknya di Bontang berlangsung pergelaran Bontang Gugah, langsung di bawah arahan maestro tari Bagong Kussudiardja.
Lalu, pada 2001, lewat kerja sama Kaltim Post dan Komunitas Ladang, digelarnya pula pementasan teater minikata Rambate Raterata (Bengkel Teater) yang disutradarai begawan teater Rendra. Di situ pula, waktu itu Rendra berceramah sastra dan memberi Kuliah Subuh. Namun, aktivitas spesifik dalam PMB agaknya memang baru kali ini dilangsungkan.
“Ya untuk mengulang sejarah bagus yang pernah dicatatkan Pertamina. Yakni agar PKT juga memberikan kontribusi bernilai ekonomi melalui pendekatan kebudayaan. Melalui kesenian, perusahaan ini akan mengasah nilai-nilai humanitas, dan menggunakan hasil-hasil kreativitas seni sebagai elemen komunikasi, mengimbuh citra positifnya di masyarakat,” papar Butet.
PMB terdiri dari empat kegiatan. Tiga di antaranya dikhususkan bagi perupa dan penyair tadi. Masing-masing pendaftaran dan kurasi, riset dan observasi, serta penciptaan. Satu kegiatan lainnya adalah pertunjukan kolosal untuk ulang tahun PKT dengan 1977 pemain.
Pada riset dan observasi kelima belas pelukis dan penyair, bersama kurator (Sukardi Rinakit, Suwarno Wisetrotomo, Joko Pinurbo), dan peninjau mengunjungi PKT Bontang selama lima hari, mulai 12 Juni 2022.
Selama di Bontang mereka melihat kawasan pabrik, mendengarkan overview, dan berdiskusi, berkomunikasi dengan pimpinan, dan ahli. Juga mengunjungi kota dan perkampungan, melihat kehidupan nelayan dan petani, menemui masyarakat eks-transmigran, ke pasar tradisional, mendapatkan pengalaman kuliner tradisional, serta meninjau kawasan pertambangan.
Berikutnya para pelukis dan penyair berkarya sebebasnya, selain di studio masing-masing atau on the spot saat di Bontang. Karya-karya lukisan akan diseleksi untuk dipamerkan, dan karya puisi dikumpulkan untuk diterbitkan dalam buku antologi.
Di antara karya-karya pelukis, jelas Butet, September tahun ini diharapkan sudah terpilih masing-masing satu untuk ditampilkan sebagai elemen visual almanak PKT edisi 2023, yang bersama penggalan-penggalan teks puisi karya penyair dipasang sebagai elemen grafisnya.
Sangat mungkin PKT menjadikan tagline atau teks-teks puitis dan inspiratif, juga sebagai elemen-elemen grafis buku annual report, billboard, media periklanan, bahkan mural di dinding-dinding pabrik.
Lukisan-lukisan yang lahir dari proses kolaborasi itu bisa dikoleksi perusahaan pupuk terbesar se-Nusantara itu, atau dijual melalui pameran di sela ulang tahunnya kelak, atau dipamerkan ulang di kota-kota lain.
Pertunjukan kolosal dengan 1.977 pemain akan berisi gambaran peran industri PKT di Tanah Air melalui perpaduan elemen koreografi dan musik dari berbagai wilayah etnik, seperti Kutai, Dayak, Melayu, Bugis, dan Jawa. Dengan penataan musik dari Kua Etnika serta koreografer dan instruktur latihan dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Jogjakarta, para pendukungnya adalah pelajar. (rom/k8)
*) Penulis adalah ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltim






