bontangpost.id – Kesetaraan penggunaan alat kontrasepsi bagi laki-laki ataupun perempuan di Kota Bontang tergolong rendah. Selama ini, perempuan yang lebih banyak menggunakan dibanding pria. Padahal, ada kondisi tertentu, yang mengharuskan perempuan tidak bisa lagi menggunakan kontrasepsi.
Untuk diketahui, penggunaan kontrasepsi sebagai langkah untuk memperkuat hak-hak perempuan dalam menentukan sendiri kapan mereka siap hamil, bagaimana mempersiapkan kehamilan, dan menjaga kesehatan saat hamil.
“Sebenarnya semua ada risiko kesehatannya. Misalnya ada perempuan usia subur yang enggak bisa pakai kontrasepsi lagi karena satu dan lain hal. Kalau seperti itu berarti pihak laki-laki yang seharusnya pakai kontrasepsi,” kata Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang Hernawati.
Dilansir dari data BKKBN mengenai jumlah peserta aktif program KB di Kalimantan Timur, tercatat ada penurunan jumlah peserta program KB aktif. Pada 2021, ada 487 ribu peserta. Sedangkan pada 2022, ada 258 ribu peserta. Sementara jumlah peserta program KB aktif laki-laki menurun dari 19,5 ribu menjadi 8,7 ribu.
Jika dilihat dari keadaan saat ini, banyak laki-laki yang tidak mau menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan yang beragam. Pun, penggunaan alat kontrasepsi seharusnya merupakan tanggung jawab bersama, terlebih bagi pasangan suami istri.
Menurut dia, penggunaan kontrasepsi diperlukan sebagai upaya pengendalian penduduk. Termasuk soal menjaga agar jarak usia anak agar tak terlalu dekat. Tak hanya itu, yang lebih penting, anak yang dilahirkan juga dalam keadaan sehat, hingga menjadi generasi yang berkualitas.
Dalam artian, kebutuhan sandang pangan, pendidikan, dan kesehatannya juga terjamin. “Tujuan penggunaan kontrasepsi sangatlah besar dalam kehidupan, baik dari aspek kesehatan, ekonomi, maupun sumber daya manusia yang dilahirkan,” ucapnya.
Dijelaskannya, berbagai alat kontrasepsi telah disosialisasikan, baik bagi pria maupun wanita. Mulai kondom, pil KB, suntik KB, IUD, tubektomi, hingga vasektomi. Pemilihan alat kontrasepsi juga perlu dibicarakan. Sebagai kesepakatan bersama tanpa mengesampingkan hak reproduksi masing-masing.
Adapun, partisipasi pria dalam program KB di Bontang yang minim dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yaitu minimnya akses ke pelayanan kesehatan, konstruksi sosial, dan rumor negatif terkait penggunaan kontrasepsi pada pria, seperti vasektomi yang dianggap sama dengan kebiri sehingga dapat mengakibatkan impoten. (*)

