BONTANGPOST.ID – Dendam akibat uang sewa mobil tak dikembalikan menjadi pemicu pembantaian lima anggota keluarga di Indramayu.
R (35), otak pembunuhan, mengaku kesal kepada Budi Awaludin (45), tetangganya, yang tak mengembalikan uang Rp750 ribu hasil sewa mobil Avanza.
Rasa kesal itu berubah jadi rencana pembunuhan. R kemudian menggandeng rekannya, P (29), dengan janji imbalan uang. Pada Kamis malam, 28 Agustus, keduanya mendatangi rumah keluarga Sahroni (76) di Jalan Siliwangi, Kelurahan Paoman. Pipa besi dibawa sebagai senjata.
Di dalam rumah, R memukul kepala Budi dan anggota keluarga lain: Sahroni, Euis Juwita (43), dan seorang anak berusia tujuh tahun. P, yang ikut masuk, menenggelamkan bayi berusia delapan bulan ke bak mandi.
Setelah memastikan semua korban tewas, kedua pelaku menyeret jasad ke halaman belakang, menggali lubang selebar empat meter, panjang 1,5 meter, dan dalam empat meter. Di situlah lima tubuh korban ditumpuk.
Tak berhenti di situ, R dan P kemudian mengepel lantai rumah untuk menghapus bercak darah. Mereka membawa kabur dua mobil, sejumlah perhiasan, serta uang milik korban. Pipa besi yang digunakan memukul kepala korban dibuang ke Sungai Cimanuk.
Warga sekitar mulai curiga karena rumah keluarga Sahroni sepi selama berhari-hari. Bau busuk yang menusuk hidung akhirnya membuat Ema (55), kerabat korban, mendobrak pintu rumah.
Dari halaman belakang, terlihat kaki manusia muncul dari gundukan tanah. “Itu jasad Haji Sahroni. Saya langsung minta tolong,” ujar Ema.
Polisi yang menerima laporan bergerak cepat. R dan P sempat melarikan diri hingga ke Surabaya, berniat bekerja sebagai anak buah kapal.
Namun, tim kepolisian berhasil menangkap keduanya sebelum kabur lebih jauh. Kapolres Indramayu, AKBP Fajar Gemilang, menyebut R adalah seorang residivis.
Kasus ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar korban. “Hukuman seberat-beratnya. Lima nyawa, termasuk bayi, tidak bisa dimaafkan,” kata Eni Sukaeni, sepupu korban. (KP)







