bontangpost.id – Balita terindikasi stunting di Bontang bakal memperoleh intervensi asupan makan. Dikatakan Wakil Wali Kota Bontang Najirah, pemerintah daerah tengah mengupayakan penurunan angka stunting.
Saat ini, pihaknya sedang mengagas program pemberian makanan bergizi kepada balita terindikasi stunting, selama tiga bulan secara rutin. “Setelah itu akan dilihat perkembangannya seperti apa,” katanya.
Makanan tersebut ditujukan langsung ke balita dan harus dikonsumsi oleh balita, bukan anggota keluarga. “Paling tidak dua kali sehari (pemberian makan). Walau memang lebih baik tiga kali sehari,” sambung dia.
Menurutnya, hal itu dinilai lebih efektif ketimbang pemberian makanan tambahan (PMT) yang hanya dilakukan satu kali dalam sepekan.
Begitupun dengan aksi makan telur bersama yang digelar saat event-event tertentu, disinyalir kurang berdampak signifikan.
“Kalau seperti itu (event tertentu) kan hanya sesaat saja. Perlu dilakukan pemberian makanan rutin,” jelasnya.
Disinggung mengenai realisasinya, ia menuturkan bakal segera dilakukan dalam waktu dekat. Mengingat upaya penurunan stunting menjadi salah satu prioritas.
Apalagi tugas pemerintah cenderung lebih berat, sebab ada kenaikan angka stunting dari tahun sebelumnya.
Pada 2022 lalu, prevalensi stunting di Bontang sekitar 21 persen. Sementara dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensinya mencapai 27,4 persen.
“Kami akan berusaha agar target 14 persen nasional pada 2024 itu tercapai. Tentunya dengan bantuan seluruh stakeholder terkait,” tandasnya. (*)







