BONTANGPOST.ID, Bontang – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Gusung dan Pulau Beras Basah ditargetkan terealisasi pada 2027. Persiapan program tersebut terus dimatangkan Pemkot Bontang bersama PT PLN UP2K Kalimantan Timur, mulai dari kesiapan lahan hingga perencanaan kapasitas pembangkit.
Salah satu perkembangan terbaru datang dari Pulau Gusung. Jumlah calon pelanggan yang sebelumnya tercatat 79 kepala keluarga (KK), kini bertambah menjadi 120 KK. Penambahan ini menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kapasitas listrik yang akan disediakan.
Sekretaris Kota Bontang Sony Suwito Adicahyono mengatakan, rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi bersama PLN UP2K Kalimantan Timur. Pertemuan itu turut membahas peta jalan pembangunan, termasuk aspek teknis, perizinan, dan kesiapan lokasi.
“Pemerintah Kota Bontang ingin memastikan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan kepulauan juga mendapatkan akses listrik yang layak,” ujarnya.
Sony menyebut, pembangunan tahap awal direncanakan menyasar Pulau Gusung dan Pulau Beras Basah dengan target realisasi pada 2027.
“Jumlah calon pelanggan di Gusung mengalami peningkatan. Awalnya 79 KK, sekarang sudah mencapai 120 KK,” tuturnya.
Untuk mendukung rencana tersebut, Pemkot Bontang telah menyiapkan lahan seluas 2.167 meter persegi di Pulau Gusung. Lokasinya berada di kawasan pasang surut dan masih memungkinkan untuk diperluas hingga area perairan.
“Kami juga sudah menyiapkan lahan di Pulau Gusung seluas 2.167 meter persegi untuk mendukung pembangunan PLTS,” terangnya.
Meski demikian, kepastian pemanfaatan lahan masih harus ditelusuri. Pemkot meminta inventarisasi dilakukan dengan memastikan adanya persetujuan masyarakat serta tidak menimbulkan persoalan atau gugatan di kemudian hari.
Dari sisi administrasi, penggunaan lahan pesisir dan kepulauan tidak dapat disamakan dengan lahan yang memiliki status hak milik. Pemanfaatannya mengacu pada Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) dari Dinas Kelautan Provinsi Kalimantan Timur.
“Untuk status pemanfaatan lahannya, mekanismenya akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, termasuk melalui mekanisme hibah,” sebut Sony.
Sementara itu, pimpinan PLN UP2K Kalimantan Timur Jaenuri menyampaikan, rencana pembangunan PLTS individual di Pulau Beras Basah telah masuk dalam peta jalan Kementerian ESDM. Terdapat 11 titik koordinat yang telah tercatat dalam perencanaan tersebut.
“Sebanyak 11 titik koordinat di Pulau Beras Basah sudah masuk dalam road map Kementerian ESDM. Karena itu, untuk pergeseran titik perlu ada pembahasan lebih lanjut,” jelasnya.
PLN juga akan memperhitungkan kondisi pasang tertinggi air laut sebelum menentukan konstruksi pembangkit. Langkah tersebut diperlukan agar fasilitas PLTS dapat menyesuaikan kondisi lingkungan pesisir dan tidak mudah rusak.
“Kami perlu mengetahui batas tertinggi pasang air laut sebagai dasar penyesuaian konstruksi agar fasilitas PLTS aman dan tidak mudah rusak,” katanya.
Untuk setiap rumah, PLN menyiapkan kapasitas daya maksimal 1.300 watt dengan rencana pasokan listrik selama 24 jam.
“Untuk setiap rumah, kapasitas daya yang disiapkan maksimal 1.300 watt dan listriknya direncanakan menyala selama 24 jam,” ungkap Jaenuri.
Sebelum pembangunan dimulai, PLN akan melakukan survei lapangan dan studi kelayakan atau feasibility study (FS) dengan dukungan Pemkot Bontang.
“Survei dan studi kelayakan akan dilakukan terlebih dahulu sebelum pembangunan dilaksanakan,” tambahnya.
Jaenuri menjelaskan, pemilihan konsep pembangkit akan disesuaikan dengan jumlah bangunan dan ketersediaan lahan. Untuk pulau dengan jumlah bangunan kurang dari 70 unit dan lahan terbatas, PLTS individual dinilai lebih efektif dibandingkan sistem komunal.
Pemkot berharap seluruh tahapan persiapan dapat berjalan sesuai rencana. Dengan demikian, pembangunan PLTS pada 2027 diharapkan bisa memperluas akses listrik bagi masyarakat yang selama ini belum menikmati layanan secara optimal. (*)







