BONTANG – Polemik mengenai gagalnya salah satu calon pasukan pengibar bendera pusaka (Capaskibraka) Bontang mendapat respon balik dari Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar). Kepala Disporapar Bambang Cipto Mulyono mengaku bahwa mulai dari tahapan seleksi hingga saat ini, petugas telah melakukan sesuai dengan mekanisme yang ada. Termasuk pada saat melakukan pengumuman capaskibraka yang lolos seleksi.
Ia membantah jikalau proses pengumuman dilakukan dengan media sosial whatsapp. Seluruh capaskibraka mengetahui apakah mereka lolos dari sekolahnya masing-masing berbentuk surat edaran yang dibuat Disporapar.
“Jadi pengumuman bukan melalui whatsapp, tetapi kami surati sekolah-sekolah tempat dimana capaskibraka itu belajar,” kata Bambang, Kamis (12/7).
Tak hanya itu, persoalan mengenai lingkaran “misterius” yang ada di lembar tes kesehatan kolom leukosit milik Achmad Adies Saputra tidak mengubah hasil pemeriksaan. Pasalnya nominal angka pun sama sekali tidak berganti. Ia menyebut lingkaran itu sebagai tanda bahwa terdapat hasil pemeriksaan yang di bawah angka normal.
“Jadi mau dilingkari, garis bawah, atau silang tidak mengubah hasil pemeriksaan. Jadi kenapa harus dipermasalahkan,” terangnya.
Dalam rapat pleno sebelum pengumuman, Bambang pun tidak pernah menyinggung bahwa Achmad Adies Saputra menderita penyakit kanker darah berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan. Dijelaskannya, saat itu paman dari pihak capaskibraka menanyakan kepada staf Disporapar mengenai hasil pengumuman.
Lantas staf tersebut memberikan jawaban kalau Achmad Adies Saputra tidak lolos seleksi dikarenakan leukositnya turun. Saat ditanya lebih lanjut , staf tersebut memaparkan dampak dari turunnya leukosit. Itu pun berdasarkan hasil pencarian informasi di internet. “Jadi itu hanya pribadi saja dan sifatnya bukan memvonis,” jelasnya.
Keadaan kondisi kesehatan ini sangat menjadi perhatian panitia paskibraka dalam memberikan keputusan seleksi. Pasalnya beberapa waktu lalu terjadi kondisi hampir serupa, seorang paskibraka meninggal dunia setelah dua pekan pelaksanaan upacara 17 Agustus.
“Hal tersebut menjadi acuan kami. Mengingat yang fisiknya sehat saja juga ada yang drop saat mengikuti latihan,” tuturnya.
Bambang juga mengatakan data kesehatan ini hanya berlaku saat seleksi paskibraka saja. Kekhawatiran orang tua mengenai masa depan putranya, tidak bergantung pada hasil pemeriksaan kesehatan ini.
Beberapa waktu lalu, Panitia Paskibraka Bontang mengeliminasi 10 capaskibraka dari total 55 siswa yang masih bertahan. Kendati tidak lolos, kesepuluh pelajar tersebut dijadikan cadangan. Beberapa tahapan sebelumnya telah dilalui capaskibraka meliputi seleksi di tiap sekolah, tes tertulis, hingga tes peraturan baris berbaris (PBB). Proses seleksi dilaksanakan bulan Februari silam oleh tim dari Polres, Kodim 0908/BTG, Denarhanud Rudal 002/Bontang, Disporapar, serta tim kesehatan dengan komposisi satu orang dokter dan lima tenaga medis. (ak)







