Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sejatinya jangan hanya sebatas seremoni. Sebaliknya, Hardiknas harus menjadi momen introspeksi terkait pendidikan di Tanah Air.
Di Kota Taman, masih ada beberapa sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana (sarpras) yang lengkap, seperti yang terlihat di sekolah pesisir. Para guru pun harus terus berjuang dengan segala keterbatasan yang ada.
Kristina, salah satu guru di SDN 011 Bontang Utara yang berada di Pulau Gusung mengatakan, banyak suka duka yang ia lewati saat mengajar di pesisir.
Sebut saja sarana transportasi. Kata dia, kapal yang sering ia tumpangi kerap rusak ketika digunakan. Tak jarang, di tengah lautan, baling-baling kapal mereka terlepas dan harus menunggu hingga bantuan datang. Selain itu, faktor alam juga terkadang menghambat perjalanan para guru untuk menunaikan kewajibannya memberikan pendidikan kepada calon penerus bangsa. “Kami hanya memiliki satu kapal dari Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang. Memang kapalnya masih bagus, tetapi kadang ada saja kerusakannya,” jelas Kristina saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Limau, Rabu (2/5) kemarin.
Selain sarana transportasi, dari cara mengajar pun terdapat satu kendala yakni cara komunikasi. Banyak murid pesisir yang tidak paham dengan Bahasa Indonesia. Sehingga, para guru harus bekerja ekstra membuat murid-murid pandai mengartikan setiap pertanyaan pada mata pelajaran. “Mereka masih terbiasa dengan bahasa di rumahnya. Jadi kalau baca soal itu tidak langsung paham. Tetapi kami harus artikan terlebih dahulu agar mereka paham. Makanya kami terus biasakan untuk berbicara menggunakan Bahasa Indonesia,” bebernya.
Sebenarnya lanjut Kristina, para muridnya sudah pandai menggunakan Bahasa Indonesia. Tetapi jika ada kata baku yang baru didengar, maka mereka akan kesulitan memahaminya.
Tak hanya itu, ditambahkan Suharti guru lainnya di sekolah yang sama, di sekolah pesisir tidak ada listrik. Mengingat sollar cell yang tersedia tidak mampu untuk memfasilitasi seluruh listrik sekolah. Sehingga di SDN 011 tidak terdapat ruangan laboratorium komputer. “Memang ada beberapa unit komputer tetapi tidak bisa digunakan. Listriknya tidak kuat, dan alatnya juga tidak lengkap,” ujarnya.
Selain berperan di sekolah, para guru di wilayah pesisir juga perlu melakukan penyuluhan kepada orang tua siswa. Pasalnya, mereka tak bisa hanya meminta para siswanya untuk memahami kebutuhan sekolah. Tetapi, orang tuanya pun harus diberi pemahaman agar bisa sejalan. “Jadi kami bukan hanya di sekolah, bahkan sampai ke rumah-rumah berikan penyuluhan,” ungkapnya.
Salah satu contohnya untuk melanjutkan pendidikan anak muridnya dari kelas VI SD yang akan masuk SMP. Biasanya, guru pesisir akan menguruskan hingga anak didiknya bisa masuk SMP. Mengingat sistem pendaftaran sudah berbasis online.
“Dari pendaftaran sampai berkas kami siapkan hingga mereka diterima di sekolah negeri, jika sudah diketahui bahwa mereka diterima maka kami lepas karena bukan tanggung jawab kami lagi,” kata Suharti yang telah mengabdi selama 18 tahun menjadi guru.
Mendekati Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN), para murid kelas VI akan diberikan bimbingan belajar (bimbel) di luar jam sekolah. Jika hari libur, maka murid-murid tersebut diminta untuk datang ke rumah wali kelasnya untuk belajar. “Kalau try out dilakukan di sekolah, untuk hasilnya ada yang bagus ada yang kurang. Tetapi menghadapi USBN ini, kami optimistis mereka telah siap,” ujarnya.
Mereka hanya berharap anak didiknya bisa mengikuti USBN dengan lancar dan diterima di SMP yang mereka inginkan. Karena, ketika melihat anak muridnya sukses hal itu suatu kebanggaan yang luar biasa. “Alhamdulillah banyak murid kami di Gusung itu yang sudah sukses. Ada yang kuliah, ada juga yang kerja di perusahaan tambang. Kalau melihat mereka sukses, itu jadi kebanggaan tersendiri buat kami,” tandasnya. (mga)







