Dari Proyek Kilang Bontang Sanggupi Pegang 10-20 Persen
JAKARTA – Meski sudah mendapat penugasan langsung dari pemerintah untuk proyek pembangunan New Grass Root Refinery (NGRR) di Bontang, ternyata Pertamina hanya menjadi pemegang sebagian kecil saham kilang tersebut. Banyaknya proyek kilang minyak yang dikerjakan perusahaan energi plat merah ini membuat Pertamina menghitung ulang kemampuan pendanaan mereka.
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi menyebut pihaknya hanya mampu memegang sekitar 10 hingga 20 persen saham di kilang Bontang. Dia mengungkap, dari enam proyek kilang yang dikerjakan Pertamina, proyek kilang Bontang menyedot anggaran yang paling besar, sekitar US$ 8 miliar. “Itu sudah termasuk investasi petrokimia,” kata Hardadi
Meski demikian, Pertamina ternyata tetap berniat agar bisa memiliki saham yang lebih besar di kemudian hari. Caranya, dengan menerapkan skema Build Operate Transfer (BOT). “Sehingga seluruh infrastruktur kilang saat kontrak berakhir, menjadi milik Pertamina,” jelasnya.
Rencananya, project expose kilang Bontang ini akan dilakukan pada minggu kedua Februari 2017. Hardadi berharap, pada April 2017 sudah dilakukan pemilihan mitra strategis Pertamina untuk pembangunan proyek kilang Bontang dengan kapasitas 300 ribu barel ini. “Kami harap 2023 sudah selesai,” harapnya.
Selain proyek kilang Bontang, Pertamina juga membangun lima kilang lain, seperti proyel Refinery Development Masterplan Program (RDMP) Cilacap, Balongan, Balikpapan, dan Dumai, serta proyek NGRR Tuban yang serupa dengan kilang Bontang. Untuk kelima proyek tersebut, Pertamina harus menyiapkan sekitar US$ 15,7 miliar yang terdiri dari investasi kilang Balikpapan sebesar US$ 5,3 miliar, kilang Balongan sebesar US$ 1,2 miliar, kilangTuban sekitar US$ 6,5 miliar, dan Cilacap sekitar US$ 2,7 miliar. (*/zul)






