Menelisik Gaya Kepemimpinan Wali Kota Neni Moerniaeni (1)
Gebrakan demi gebrakan program mewarnai setahun lebih kepemimpinan Wali Kota Neni Moerniaeni dan Wawali Basri Rase dalam menjalankan roda kepemimpinan Kota Bontang. Bencana defisit yang betul – betul menguras energi Neni, ternyata tak bisa menyurutkan Wali Kota Neni menuangkan gagasan dan kerja nyatanya untuk membangun Bontang. APBD yang hanya menyentuh Rp 800 Miliaran tak membuat semangat Neni luntur. Sederet keberhasilan memimpin kota berjargon Taman ini justru mulai nampak. Sebenarnya bagaimana Neni menjalankan amanahnya menjadi seorang kepala daerah di kota ini?
Muhammad Ali Akbar – Humas
Setahun ini nama Wali Kota Neni Moerniaeni boleh dibilang cukup moncer dikalangan pusat. Wara – wiri untuk mendapatkan peluang yang bisa dibawa ke Bontang menjadi musababnya. Salah satu yang cukup membuat warga Bontang senang adalah keberhasilan Wali Kota Neni ‘membujuk’ pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk kembali membangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di tahun ini. Padahal, sejumlah kota juga berebut mendapatkan program ini.
“Insya Allah sudah ditender dan sudah ada pemenangnya, tinggal dibangun kok,” kata Wali Kota Neni.
Di tengah proses tender inilah kata perempuan yang juga istri dari Mantan Wali Kota Bontang dua periode Sofyan Hasdam itu, Pemerintah Kota Bontang tengah mencari lokasi lahan yang strategis untuk pembangunan.
Sebenarnya, ia menginginkan lokasi pembangunan di Kelurahan Tanjung Laut, tepatnya di pinggir jalan raya. Namun, di atas lahan tersebut sudah dibangun Ruang Terbuka Hijau (RTH).
“Karena lahan disitu sudah dibebaskan untuk membuat RTH, makanya kami akan upayakan apa itu bisa diubah atau tidak,” ungkapnya.
Neni mengungkapkan, bantuan pembangunan rumah susun kali ini merupakan buah dari upaya yang dilakukannya dalam melobi anggaran ke pusat, di tengah krisis keuangan yang sedang melanda. Ia menambahkan, fasilitas Rusunawa yang akan dibangun tak jauh berbeda dengan dua Rusunawa sebelumnya.
“Berlantai 4 dengan 90 kamar tipe 24, lengkap dengan fasilitas lemari, meja dan kursi. Mohon doa dan dukungannya, agar semua bisa terwujud untuk masyarakat Bontang,” jelasnya.
Selain rencana Rusunawa itu, satu Rusunawa yang kembali akan dibangun adalah Rusunawa di wilayah Guntung. Memang sebelumnya, Rusunawa ini sudah pernah dilakukan. Tapi tak rampung. Tak ingin hilang kesempatan, Neni kembali menanyakan lanjutan pembangunan Rusunawa itu. Dan hasilnya cukup menggembirakan. Kementerian PUPR juga sudah melakukan proses lelang.
“Infonya sudah mulai lelang lagi, dan sepertinya kontraktornya akan berganti,” jelasnya.
Dengan begitu, jika dua Rusunawa ini benar – benar terealisasi, maka Bontang akan memiliki 3 Rusunawa. Yakni Rusunawa di Kelurahan Api – Api yang terlebih dahulu rampung, dan dua lagi yang akan segera dibangun.
Wali Kota Neni berharap, Rusunawa ini setidaknya bisa menjadi solusi bagi masyarakat Bontang berpenghasilan rendah bisa tinggal di rumah laiak huni dengan harga yang murah.
Terlebih kata Neni, warga miskin dan lanjut usia menjadi orang – orang yang prioritas tinggal di Rusunawa. “Tidak semua orang memiliki kesempatan tinggal di rumah yang laik huni. Saya sadar, pemerintah masih terus berupaya bekerja dengan baik untuk rakyat. Setidaknya, Rusunawa ini bisa menjadi solusi sementara bagi mereka yang ingin tinggal di rumah laik huni dengan harga terjangkau,” pungkasnya. (*)






