SANGATTA – Sistem pengaturan ritme tanam belum sepenuhnya berjalan di Kutim. Hal ini menyebabkan harga hasil perkebunan tak stabil.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kutim Hormansyah mengatakan, karena ritme tanam tak diatur, hasil panen dari petani pun tak bisa diprediksi. Akibatnya, berpengaruh terhadap harga dan kesejahteraan petani.
“Kalau tanam bersamaan, maka panen juga bersama. Akhirnya panen melimpah, otomatis harga turun,” terang Hormansyah, ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Hasil yang didapat akan berbeda jika diterapkan sistem ritme tanam. Pasalnya, akan diatur waktu tanam masing-masing kelompok tani. Bukan hanya waktu, jika memungkinkan juga komoditi yang ditanam.
“Jadi waktu panen beda-beda, pasokan stabil, harga juga stabil. Kalau semuanya tanamannya sejenis, kesulitan dipasarkan, ” katanya.
Agar sistem ritme tanam berjalan, dia mengatakan saat ini tim penyuluh terus memberikan pemahaman ke petani.
“Sistem itu dibangun pelan-pelan. Tim penyuluh terus bergerak untuk sosialisasi, ” ujar Hormansyah.
Selain soal sistem tanam, salah satu persoalan yang membuat kesejahteraan petani adalah monopoli dari oknum tengkulak. Pasalnya, para tengkulak justru mendapat untung jauh lebih besar dari para petani.
“Ada juga oknum tengkulak yang menjual dengan harga tidak proporsional. Maka yang kena imbasnya juga ya masyarakat,” ungkapnya.
Maka dari itu, DKP sudah membuat pasar tani yang digelar sepekan sekali. Pasar ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada petani menjual langsung hasil panennya. Di sisi lain, agar stabilitas harga bisa terjaga.
“Tujuan kami agar bisa memasarkan hasil pertanian mereka kepada masyarakat tanpa perantara tengkulak. Karena kasihan mereka menjual kepada tengkulak dengan harga murah. Jika di pasar tani, mereka bisa langsung menjualnya dengan harga miring namun tetap menguntungkan. Hanya saja masih terbatas. Tetapi kami tetap tampung asal yang dihasilkan berbeda. Sehingga semua hasil panen tersedia semuanya,” ujarnya. (hd)






