bontangpost.id – Ketua Stitek Bontang Hardianto sepakat dengan grand design yang dilontarkan oleh Wali Kota Bontang Basri Rase terhadap civitas akademika tersebut. Menurutnya, gambaran itu dalam rangka mewujudkan cita-cita Pemkot Bontang. Stitek ini ialah lembaga pendidikan tinggi yang dilahirkan oleh Pemkot Bontang. Dengan mekanisme pembentukan Yayasan Bessai Berinta. Kemudian terwujudlah Stitek Bontang.
“Dalam perjalanan nya memang penuh dinamika untuk mewujudkan Perguruan Tinggi yang bermutu. Bahwa skala prioritas dalam pembentukan perguruan tinggi ini naik-turun tergantung dari skala prioritas kepala daerah itu sendiri,” kata Hardianto.
Tidak dapat ditampik ada pembenahan struktur yayasan di beberapa periode pemerintahan. Namun, pihak kampus tetap berjuang dalam mewujudkan harapan Pemkot Bontang. Terutama dalam meningkatkan sumber daya manusia supaya bisa menempuh perkuliahan di kota Bontang yang berkualitas.
“Kami sempat berdialog dengan pak Basri terkait histori kampus. Ini memang milik Pemkot Bontang dan tolong dirawat lagi dan diberikan dukungan. Supaya cita-cita itu terwujud,” pesannya.
Dijelaskan dia pada 28 September pihak kampus, yayasan, dan pemkot telah mensurvei kembali lokasi lahan yang sebelumnya diperuntukkan Stitek. Ini mengacu pada SK Wali Kota tahun 2001. Serta ditetapkan lagi tiga tahun kemudian. Luas lahannya sebesar 19,8 hektare di Bontang Lestari.
“Ini menjadi program prioritas pemkot untuk mewujudkan Bontang Technopark dengan Stitek Bontang. Nanti akan berdampingan di sana,” tutur dia.
Dua hari kemudian sudah melakukan rapat koordinasi untuk mempresentasikan dari Yayasan maupun pihak kampus. Terkait road map dari Stitek. Ia menjelaskan konsep itu sudah ada dari 2003. Hal ini membuktikan bahwa Stitek tidak dikuasi oleh orang tertentu.
“Stitek ini dikembalikan lagi ke pemerintah. Monggo silakan Pemkot mau membangun seperti apa. Yang duduk di yayasan hanya membantu mewujudkan cita cita besar tersebut. Di Yayasan ada perwakilan dari pemerintahan maupun perusahaan,” sebutnya.
Dikatakan dia, target tahun ini ialah sehubungan hibah legalitas lahan harus lebih jelas. Sesuai dengan peruntukkan dari awal. Sehubungan pembangunan gedung terkait APBD Bontang sedikit berkurang, pihak kampus akan mengupayakan mendapatkan kucuran dari pendapatan lain. Misalnya dari bantuan Pemprov Kaltim maupun pusat.
“Kami akan bergerilya bersama untuk memberikan support yang mana ingin membentuk perguruan tinggi negeri di Bontang. Memang perlu strategi tersendiri,” urainya.
Berkenaan prodi baru, memang pihak kampus diberi tantangan untuk mewujudkannya. Inipun sudah direncanakan oleh pihak kampus. Dijelaskan dia, nantinya program studi yang akan dibuka mengacu pada kearifan lokal sesuai dengan Bontang yang merupakan kawasan daerah industri berbasis Migas dan kondensat. Sambil menyesuaikan nomenklatur yang ada.
“Ada petrokimia dan gas, teknologi hasil laut, teknik industri, dan entrepreneur. Entrepreneur ini mengenai manajamen bisnis dan pariwisata. Itu gambaran secara umumnya,” sebutnya.
Terkait spesifikasi dan ketentuan umum akan dilakukan sebuah kajian. Harus sesuai dengan rumpun ilmu dan nomenklatur dari kementerian. Pembentukan prodi baru sesuai dengan peraturan menteri harus ada 14 item persyaratan yang dipenuhi. Mencakup legalitas dan kondisi yayasan, ketersediaan lahan, SDM tenaga pengajar, sumber pembiayaan dan sarana perkuliahan sesuai ketentuan dan lain lain. Harapannya
“Kalau sudah tambah tiga prodi baru maka akan beralih ke universitas,” pungkasnya. (*/ak)



