bontangpost.id – Pagi baru saja menyingsing di ufuk timur Banua Etam. Syamsuddin, tampak telah mulai beraktivitas pada lahan garapan yang dikelolanya dengan membersihkan beberapa gulma di sela tanaman. Pria paruh baya ini merupakan Ketua Kelompok Tani Qoryah Mubarokah, binaan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) yang satu tahun terakhir berfokus dalam pengembangan kawasan pertanian terintegrasi melalui sistem pertanian sawah surjan.
Di atas lahan seluas 1,1 hektare (Ha), Syamsuddin bersama 25 anggota kelompok taninya mengembangkan berbagai jenis tanaman pangan dan palawija, yang ditanam secara selang seling. Lahan yang berada di kawasan Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur itu sengaja dikembangkan dengan sistem sawah surjan, agar tetap mendapatkan hasil optimal meski dalam kondisi curah hujan tak menentu maupun kemarau.
“Sebentar lagi mulai bisa panen, ada padi dan cabai yang dikembangkan pada musim ini,” ucap Syamsuddin, saat disambangi belum lama ini.
Dikatakan Syamsuddin, pembinaan Pupuk Kaltim bagi kelompok taninya membawa perubahan signifikan dalam pengelolaan lahan dan tanaman. Terlebih dengan kondisi lahan yang tergolong rawa lebak, area pertanian pun tidak bisa dikelola optimal. Belum lagi tata cara yang digunakan para petani setempat masih sangat tradisional.
Pupuk Kaltim kata Syamsuddin, membawa angin segar dalam merubah pola pikir hingga pengetahuan para petani sekitar, sehingga tata kelola lahan kini bisa dimaksimalkan untuk berbagai komoditas.
Pembinaan Pupuk Kaltim berjalan sejak 2022. Tahap awal, para petani dibekali berbagai pengetahuan secara teoritis dan praktis terkait tata kelola lahan, pola pemupukan yang benar, hingga perawatan tanaman dari gangguan hama. Langkah ini secara perlahan mulai membawa perubahan. Kepercayaan diri anggota kelompok tani Qoryah Mubarokah makin tumbuh dalam menggarap lahan pertanian, sesuai bekal yang didapatkan.
“Awal dulu kami sangat kesulitan dalam mengembangkan potensi lahan. Tapi sejak dibina Pupuk Kaltim, kami mulai memahami dengan baik bagaimana tata kelola pertanian yang benar, sesuai dengan karakteristik lahan yang ada,” terang Syamsuddin.
Selama dua tahun dibina, lahan Kelompok Tani Qoryah Mubarokah makin berkembang dengan berbagai jenis tanaman pangan dan palawija. Bekal pengetahuan pun tak berhenti pada tata kelola lahan dan pengembangan potensi komoditas, tapi juga berbagai teknik pertanian seperti fertigasi hingga pemanfaatan kompos.
Apalagi sekitar kawasan Ponpes Hidayatullah memiliki peternakan yang cukup luas, sehingga kotoran hewan yang sebelumnya terbuang begitu saja, kini dimanfaatkan sebagai kompos menggunakan biodekomposer Biodex dari Pupuk Kaltim. Produk yang mengandung Trichoderma ini mampu menangkal berbagai macam patogen, maupun jamur yang sangat penting memperkaya kompos untuk mendukung produktivitas lahan pertanian secara berkelanjutan.
Dari serangkaian bekal yang diberikan, para petani pun tidak lagi dikhawatirkan dengan kondisi lahan ataupun curah hujan yang kurang. Hasilnya, tidak hanya satu jenis komoditas yang bisa dipanen dalam satu musim. Ada padi dan cabai dan secara tidak langsung, kondisi ini turut berdampak pada perekonomian serta kesejahteraan petani.
“Pelatihan demi pelatihan kami terus dibekali dengan baik oleh Pupuk Kaltim. Bahkan sejak panen perdana hingga kini, kami bisa mendapat hasil produksi yang jauh di atas sebelumnya. Kami sangat bersyukur untuk itu,” tandas Syamsuddin.
Syamsuddin tidak sendiri. Pembinaan anak usaha Pupuk Indonesia ini pun disambut hangat Ketua Badan Pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah, Jamaluddin. Kata dia, sebelum ada peran Pupuk Kaltim, pihaknya sangat kesulitan mendorong petani setempat mengoptimalkan produktivitas hasil dari lahan yang ada di sekitar Ponpes.
Lahan pertanian sengaja dihadirkan Ponpes Hidayatullah untuk memberikan manfaat dalam mendorong kemandirian masyarakat sekitar, di samping bidang dakwah dan pendidikan yang selama ini dijalankan. Dari lahan yang itu, diharap bisa menjadi sarana masyarakat untuk bertani, dan hasilnya dapat membantu perekonomian.
“Ini menjadi langkah baik, tidak hanya bagi kelompok tani tapi juga masyarakat sekitar. Dari awal hanya lahan tidur karena hasil yang tidak sesuai, kini kembali dimanfaatkan dengan hasil yang signifikan,” tutur Jamaluddin.
Jamaluddin menaruh harapan besar pada program pendampingan Pupuk Kaltim. Di mana kawasan ini berpotensi dikembangkan sebagai area yang jauh lebih produktif, dengan nilai manfaat terhadap penguatan kapasitas masyarakat untuk menggeluti sektor pertanian.
Sejauh ini, selain bermanfaat bagi petani, kawasan binaan pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara itu pun juga menjadi sarana belajar para santri untuk implementasi pertanian terintegrasi. Dari hal itu, santri tidak hanya kuat secara kapasitas keagamaan, tapi juga keterampilan sektor pertanian yang bisa menjadi bekal untuk dikembangkan ke depannya.
“Apalagi saat ini sudah zamannya petani muda. Terlebih tingginya potensi pertanian, diharap santri dapat melirik sektor ini dan menjadi generasi yang siap terjun di lapangan,” harap Jamaluddin.
Disiapkan Jadi Agrowisata Unggulan Berbasis Edukasi dan Pemberdayaan
Vice President Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pupuk Kaltim Sugeng Suedi, mengungkapkan pendampingan dan pembinaan kelompok tani Qoryah Mubarokah, merupakan langkah awal dari sebuah gagasan panjang dalam mendukung ketahanan pangan. Sekaligus upaya mendorong terwujudnya pertanian terpadu dan berkelanjutan, melalui implementasi pertanian presisi.
Program ini merupakan bentuk dukungan Pupuk Kaltim terhadap pertanian yang merupakan leading sector pembangunan berkelanjutan, utamanya dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Konsep ini dilaksanakan melalui sistem pentahelix, melibatkan berbagai unsur masyarakat hingga pemerintah dalam mewujudkan inovasi melalui kolaborasi aktif dan strategis. Hal ini pun diharap tak hanya mampu mendorong tata kelola pertanian secara optimal, tapi juga memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat sekitar.
Menurut Sugeng, kawasan pertanian ponpes Hidayatullah disiapkan sebagai destiasni agrowisata unggulan di Kalimantan Timur, berbasis edukasi dan pemberdayaan. Pada konsep ini, kawasan tidak hanya dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas pertanian dalam mendorong kesejahteraan petani, tapi juga menjadi sarana belajar bagi masyarakat maupun peserta didik yang tertarik menggeluti sektor pertanian.
“Itu semangat dan goals yang nantinya ingin dicapai. Dalam prosesnya, akan didirikan sebuah Smart Green House untuk dimanfaatkan sebagai sarana belajar dengan konsep agrowisata,” kata Sugeng.
Pencetakan sawah surjan yang kini digarap Syamsuddin bersama kelompok tani Qoryah Mubarokah, menjadi pijakan awal gagasan Smart Green House. Adapun Pupuk Kaltim memberikan bantuan budidaya dari awal melalui perbaikan irigasi, penyediaan pupuk memadai hingga dukungan alat pertanian untuk pengolahan lahan. Mulai dari traktor, alat semprot dan sebagainya.
Area rawa lebak yang sebelumnya menjadi kendala para petani dalam mengolah lahan, kini disulap menjadi kawasan produktif dengan hasil yang signifikan. Melalui sistem sawah surjan, petani binaan didorong untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dalam satu lahan pada berbagai komoditas, dengan sistem tanam selang seling.
Pada musim kemarau, praktis petani tidak dapat menanam padi sehingga bisa diganti palawija. Lalu pada musim hujan, sawah bisa digenangi air secara baik untuk ditanami komoditas padi.
“Tahap selanjutnya adalah penguatan kapasitas masyarakat pengelola program dari kelompok tani binaan. Makanya pelatihan dan bekal keterampilan tata kelola pertanian diberikan secara berkala, mendatangkan para praktisi di bidangnya,” lanjut Sugeng.
Pembinaan lanjutan diarahkan pada adopsi pertanian presisi, mengingat Smart Green House dijalankan melalui penerapan teknologi tinggi pertanian, sehingga petani dituntut memahami dengan baik seluruh alur dan proses secara matang.
Kesiapan ini menandai pengembangan potensi sektor pertanian di kawasan ini yang ke depannya tidak lagi mengandalkan pengolahan secara tradisional, namun lebih menekankan pada implementasi smart agriculture dengan pemanfaatan teknologi informasi.
Selain itu Smart Green House, nantinya lebih diarahkan pada pengembangan buah-buahan dengan kualitas premium seperti melon, semangka dan lainnya. Termasuk mencari peluang distribusi dan penjualan kepada offtaker, juga akan difasilitasi Pupuk Kaltim.
“Potensi perikanan dan peternakan juga akan disasar untuk dikembangkan di kawasan Smart Green House. Termasuk laboratorium pertanian yang bisa dijadikan sarana belajar oleh masyarakat maupun instansi pendidikan di Kalimantan Timur. Jadi semua terintegrasi dalam satu kawasan,” terang Sugeng.
Pilot project Smart Green House pun ditargetkan menjadi kawasan percontohan integrasi pertanian yang unggul dan berkelanjutan di Kalimantan Timur. Di samping mendorong optimalisasi sektor pertanian untuk pemenuhan kebutuhan pangan Benua Etam dalam menyambut IKN. Konsep ini direalisasikan melalui penerapan smart agriculture, dengan pemanfaatan teknologi pertanian modern untuk hasil yang lebih optimal.
Apalagi kebutuhan pangan dipastikan semakin meningkat seiring adanya IKN, sehingga upaya pemenuhan kebutuhan secara mandiri perlu disiapkan sejak dini. Dari hal itu, penguatan ketahanan pangan mampu tercapai, sejalan dengan kemandirian masyarakat melalui optimalisasi sektor pertanian secara terpadu dan berkelanjutan.
“Gagasan ini juga bagian dukungan Pupuk Kaltim terhadap pengembangan potensi sektor pertanian, yang dijalankan pada program Makmur dengan mendorong produktivitas hasil komoditas kesejahteraan petani. Melalui itu, ketahanan pangan semakin tercapai dan kesejahteraan petani juga mengikuti,” pungkas Sugeng. (*)







