<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pembunuhan sadis Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/pembunuhan-sadis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/pembunuhan-sadis/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jul 2024 07:49:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>pembunuhan sadis Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/pembunuhan-sadis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Balita di Berau Tewas Dibunuh Ayah Kandung</title>
		<link>https://bontangpost.id/balita-di-berau-tewas-dibunuh-ayah-kandung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jul 2024 07:49:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=128499</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Sadis nian kasus yang satu ini. Di Kabupaten Berau ada ayah yang membunuh anaknya yang masih balita, usia tiga tahun. Mirisnya lagi, balita itu dihabisi dengan cara digorok. Kasus ini terjadi pada Rabu (10/7) pukul 06.00 di RT 12, Kecamatan Sambaliung. Kapolsek Sambaliung, AKP Amin Maulani, menjelaskan personelnya mendapatkan informasi ada kasus penganiayaan seorang ayah kepada anaknya yang masih [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/balita-di-berau-tewas-dibunuh-ayah-kandung/">Balita di Berau Tewas Dibunuh Ayah Kandung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id &#8211;</strong> Sadis nian kasus yang satu ini. Di Kabupaten Berau ada ayah yang membunuh anaknya yang masih balita, usia tiga tahun. Mirisnya lagi, balita itu dihabisi dengan cara digorok.</p>
<p>Kasus ini terjadi pada Rabu (10/7) pukul 06.00 di RT 12, Kecamatan Sambaliung.</p>
<p>Kapolsek Sambaliung, AKP Amin Maulani, menjelaskan personelnya mendapatkan informasi ada kasus penganiayaan seorang ayah kepada anaknya yang masih berusia 3 tahun.</p>
<p>Tersangka berinisal BAP (38) itu tega mengabiskan nyawa anak kandungnya tersebut dengan menggorok leher korban. “Begitu menerima informasi, personel langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP),” ujarnya, Rabu (10/7/2024).</p>
<p>Menurut keterangan saksi Yana, yang merupakan ibu korban, pagi itu dirinya mendengar suara anaknya mendengkur (mengorok). Dia pun kaget dan langsung ke kamar. Di kamar dia melihat pemandangan yang menyayat hati. Suaminya, BAP (38) dalam posisi membekap mulut korban.</p>
<p>“Saat dilihat tangan tersangka sudah penuh dengan darah, sehingga saksi  langsung berteriak histeris untuk meminta bantuan kepada warga sekitar,” jelasnya.</p>
<p>Setelah warga berdatangan, korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai untuk penanganan lebih lanjut. Sayangnya, sesampainya di RSUD, korban dinyatakan sudah meninggal dunia saat perjalanan.</p>
<p>“Tersangka sudah ditahan dan penanganan perkara selanjutnya akan dilimpahkan ke Satreskrim Polres Berau,” tutur kapolsek. <strong>(aky/far)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/balita-di-berau-tewas-dibunuh-ayah-kandung/">Balita di Berau Tewas Dibunuh Ayah Kandung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suami Mutilasi Istri di Hadapan Anaknya yang Masih Balita</title>
		<link>https://bontangpost.id/suami-mutilasi-istri-di-hadapan-anaknya-yang-masih-balita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2022 03:22:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=107058</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Harapan Munte (44) tega menghabisi nyawa istrinya secara sadis hingga menggegerkan warga Kecamatan Doloksanggul, Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, tempat peristiwa itu terjadi. Harapan membunuh istrinya Nurmaya Situmorang (43), lalu memutilasi tubuh korban dan membakarnya. Tersangka tega melakukan perbuatan keji itu di hadapan anaknya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (12/11/2022) pagi hari [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/suami-mutilasi-istri-di-hadapan-anaknya-yang-masih-balita/">Suami Mutilasi Istri di Hadapan Anaknya yang Masih Balita</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id &#8211;</strong> Harapan Munte (44) tega menghabisi nyawa istrinya secara sadis hingga menggegerkan warga Kecamatan Doloksanggul, Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, tempat peristiwa itu terjadi. Harapan membunuh istrinya Nurmaya Situmorang (43), lalu memutilasi tubuh korban dan membakarnya. Tersangka tega melakukan perbuatan keji itu di hadapan anaknya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (12/11/2022) pagi hari pukul 06.00 WIB di Desa Pasaribu.</p>
<p>kasus pembunuhan sadis itu terungkap setelah tersangka berterus terang kepada seorang warga. Saat itu, tersangka memanggul sebuah karung menuju belakang rumahnya dan bertemu Hari pada Sabtu pukul 07.30 WIB. Tersangka kemudian mengaku bahwa ia sudah membunuh istrinya sendiri. &#8220;Mama Udamu (Inang Uda) sudah kumatikan,&#8221; kata Hari meniru ucapan Harapan.</p>
<p>Sontak Hari pun kaget lalu memberitahukan hal itu kepada ayahnya, Marnangko Munte. Marnangko selaku kakak kandung tersangka kemudian memeriksa kebenaran pengakuan adiknya itu. Setibanya di rumah tersangka, Marnangko melihat potongan tubuh tanpa kepala, tangan dan kaki. Lalu Marnangko mencari tersangka dan mendapati adiknya itu sedang membakar sesuatu yang belakangan diketahui adalah potongan tubuh berupa kaki.</p>
<p>Marnangko selanjutnya melaporkan kejadian itu ke Kapolres Humbahas AKBP Achmad Muhaimin. Achmad mengatakan, tersangka membunuh korban secara sadis di hadapan anaknya sendiri yang berusia 3,5 tahun. &#8220;Iya, kejadian awal di hadapan anaknya yang masih berusia 3,5 tahun. Dan, untuk anaknya sudah ada pendampingan dari kita, unit PPA dan Dinas PMD untuk yang bagian anak-anak itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Tersangka kemudian diringkus kepolisian pada pukul 11.00 WIB. Sementara korban dibawa ke RSUD Doloksanggul untuk divisum luar. Motif pembunuhan dikatakan Kasat Reskrim Polres Humbahas Iptu Maruli Purba Tanjung, tersangka membunuh, memutilasi dan membakar potongan tubuh korban karena merasa sakit hati. Tersangka mencurigai korban berselingkuh. &#8220;Untuk sementara, motifnya sakit hati terhadap istrinya. Namun kita perlu dalami sakit hati yang seperti apa. Karena keterangan dari dia (tersangka) masih simpang siur,&#8221; kata Iptu Maruli.</p>
<p>Pihaknya masih mendalami motif yang sesungguhnya pelaku membunuh istrinya secara sadis. &#8220;Untuk sementara, motifnya karena sakit hati,&#8221; kata Maruli. <strong>(kompas)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/suami-mutilasi-istri-di-hadapan-anaknya-yang-masih-balita/">Suami Mutilasi Istri di Hadapan Anaknya yang Masih Balita</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Disaksikan Anak Tiri, Ini Kronologis Ibu Bunuh 2 Anak Kandung</title>
		<link>https://bontangpost.id/disaksikan-anak-tiri-ini-kronologis-ibu-bunuh-2-anak-kandung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2020 02:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bunuh anak]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=81060</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Misteri masih menyelubungi kematian dua anak di Desa Pagat, Kecamatan Batu Benawa, Hulu Sungai Tengah. Hingga kemarin, petugas kepolisian masih memeriksa beberapa saksi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada Rabu, 25 November itu. &#8220;Kami sudah memeriksa dua saksi. Tapi belum menemukan fakta baru. Kemungkinan akan ada tambahan saksi yang dimintai keterangan,&#8221; kata [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/disaksikan-anak-tiri-ini-kronologis-ibu-bunuh-2-anak-kandung/">Disaksikan Anak Tiri, Ini Kronologis Ibu Bunuh 2 Anak Kandung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id &#8211;</strong> Misteri masih menyelubungi kematian dua anak di Desa Pagat, Kecamatan Batu Benawa, Hulu Sungai Tengah. Hingga kemarin, petugas kepolisian masih memeriksa beberapa saksi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada Rabu, 25 November itu.</p>
<p>&#8220;Kami sudah memeriksa dua saksi. Tapi belum menemukan fakta baru. Kemungkinan akan ada tambahan saksi yang dimintai keterangan,&#8221; kata Kasat Reskrim Polres HST, AKP Dany Sulistiono, Kamis (26/11).</p>
<p>Apakah belum ada dugaan awal setelah meninjau langsung ke TKP untuk mengumpulkan bukti-bukti? &#8220;Kondisi TKP berantakan. Tapi belum berani menyimpulkan apa-apa kami menunggu hasil pemeriksaan saksi-saksi,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Sejauh ini, polisi sudah mengamankan S, wanita 27 tahun ibu kandung dua anak itu. KTP dan kartu keluarganya serta baju anaknya, bocah lelaki berusia 6 tahun berinisial MNK dan adik perempuannya, SNH berusia 3 tahun.</p>
<p>Kejadian memilukan ini terjadi pada Rabu (25/11) tadi. Bermula dari warga desa yang lewat di depan rumah S dan mencoba menanyakan MNK dan SNH. Dua anak itu biasanya bermain di pekarangan.</p>
<p>S kemudian mengatakan kedua anaknya sudah dibunuh. &#8220;Setiap warga menanyakan hal itu jawabannya selalu sama,&#8221; ucap seorang tetangga yang namanya enggan namanya disebut.</p>
<p>Karena curiga S serius dengan kata-katanya, warga pun mulai mendatangi rumahnya. Rumah itu ternyata terkunci dari dalam. Seorang warga yang mencoba mengintip melihat sesuatu yang mengejutkan. Kedua anak itu ternyata sudah terkapar tanpa baju. Sementara S yang juga telanjang, mulai berteriak. &#8220;Jadi kami tidak berani masuk ke dalam rumah sebelum polisi datang,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Setelah polisi datang mereka kemudian masuk dengan mencongkel pintu rumah. Di dalam MNK dan SNH sudah tak bernapas. Sementara S langsung ditutupi dengan kain dan dibawa ke kantor polisi.</p>
<p>Saat diamankan itu, S mulai histeris. Ia meracau tak jelas. Videonya yang sedang mengoceh itu belakangan viral di media sosial.</p>
<p><a href="https://images2.prokal.co/prokalco/source/image/radar_banjarmasin/z-2020/PEMBUNUHAN.png" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://images2.prokal.co/prokalco/source/image/radar_banjarmasin/z-2020/PEMBUNUHAN.png" alt="" width="682" height="341" /></a></p>
<p>S sendiri adalah janda. Dia diduga mulai mengidap depresi setelah suaminya meninggal sebulan lalu. Suaminya berprofesi sebagai tukang bangunan. Polres HST saat ini masih menunggu hasil observasi kejiwaan di RS Kandangan untuk melihat kondisi kejiwaan S.</p>
<p>Namun dugaan depresi itu berlawanan dengan pernyataan adik ipar S, Haji Ipul. Sebab sehari sebelum kejadian S sempat datang ke warungnya yang letaknya sekira 50 meter dari TKP untuk membeli air minum. Saat itu, tidak ada keanehan. S dalam keadaan sehat walafiat.</p>
<p>Haji Ipul juga baru mengetahui jika dua keponakannya meninggal setelah puluhan warga berduyun-duyun mendatangi rumah S. Ia langsung mengamankan anak tiri S yang baru berusia 10 tahun. Bocah perempuan itu sempat kabur setelah melihat dua adiknya tak bernyawa lagi.</p>
<p>&#8220;Katanya, dia (anak tiri S) melihat pembunuhan itu. Tapi dia tidak berani cerita karena takut,&#8221; ucap Ipul yang langsung membawa bocah itu ke rumah keluarga di desa Waki, Hantakan.</p>
<p>Si anak tiri ini pun sudah diperiksa oleh polisi sebagai saksi. &#8220;Saat ditanya dia menjelaskan kalau kedua adiknya itu meninggal karena dibalut dengan kain seluruh tubuh seperti pocong sampai tidak bisa bernafas,&#8221; kata Haji Ipul menceritakan kembali.</p>
<p>Jika kesaksian ini benar, ini sekaligus menjawab penyelidikan polisi atas cara S menghabisi dua anaknya. Saat mereka ditemukan, tidak ada darah dan luka lebam. <strong>(mal/ran/ema/prokal)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/disaksikan-anak-tiri-ini-kronologis-ibu-bunuh-2-anak-kandung/">Disaksikan Anak Tiri, Ini Kronologis Ibu Bunuh 2 Anak Kandung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dewan Minta Pemprov Tegas </title>
		<link>https://bontangpost.id/dewan-minta-pemprov-tegas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2018 03:33:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[dprd]]></category>
		<category><![CDATA[orang gila]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=44262</guid>

					<description><![CDATA[<p>KEMATIAN seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim Muhammad Riharza (38) di tangan Sarifuddin (52) mendapat reaksi keras dari publik Kaltim. Pasalnya, pelaku diduga mengidap penyakit stres atau gila. Salah satu reaksi dan kritik datang dari anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Siti Qomariah. Meski begitu, Qomariah meminta agar membuktikan kebenaran [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/dewan-minta-pemprov-tegas/">Dewan Minta Pemprov Tegas </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KEMATIAN seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim Muhammad Riharza (38) di tangan Sarifuddin (52) mendapat reaksi keras dari publik Kaltim. Pasalnya, pelaku diduga mengidap penyakit stres atau gila. Salah satu reaksi dan kritik datang dari anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Siti Qomariah.</p>
<p>Meski begitu, Qomariah meminta agar membuktikan kebenaran kondisi kejiwaan pelaku. Sebab hingga kini Kepolisian Resort (Polres) Samarinda belum mengumumkan dan memastikan kondisi kejiwaan pelaku.</p>
<p>Menurutnya, pembunuhan tersebut bisa terjadi karena motif lain. Misalnya tekanan kerja, keluarga, dan hubungan yang kurang harmonis dengan korban. Atas dasar itu, praduga diperlukan sebelum kasus tersebut diungkap aparat kepolisian.</p>
<p>Namun jika benar pelaku mengidap stres dan sakit jiwa, Pemprov Kaltim diminta untuk menelusurinya. Salah satunya mengamankan orang gila yang masih berkeliaran di Kaltim.</p>
<p>“Artinya kita ini kan pengen rasa aman. Kalau kayak gitu, sama saja tidak aman lagi. Nah ini juga susah dideteksi. Maka harus dilakukan penelitian dan pendalaman kasus,” ujarnya, Selasa (17/7) kemarin.</p>
<p>Semakin maraknya orang gila yang berkeliaran membuat rasa aman masyarakat tergerus. Hal itu, kata dia, diperlukan langkah cepat agar tidak timbul korban baru.</p>
<p>Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) itu berpendapat, jika pelaku yang mengidap penyakit stres, perlu terlebih dulu dilakukan pendalaman kepada keluarga dekatnya. Karena bisa saja kondisi keluarga membuat pelaku tidak dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Sehingga dengan bebas berkeliaran.</p>
<p>“Makanya harus ada kerja sama dan sinergi antara masyarakat dan pemerintah. Karena bisa jadi masyarakat tidak tahu gimana caranya memasukkan anggota keluarganya di RSJ,” tuturnya.</p>
<p>Diketahui Muhammad Riharza meninggal dunia setelah dihantam palu oleh pria tidak dikenal. Kejadian tersebut berlangsung pukul 15.35 Wita di Jalan Pelita-Jalan Kemakmuran Samarinda.</p>
<p>Korban dipalu oleh pelaku di lokasi yang tidak jauh dari kontornya di Disnakertrans Kaltim di Jalan Kemakmuran. Riharza meninggal setelah mendapat pukulan berkali-kali oleh pelaku yang menggunakan palu.</p>
<p>Bahkan karena pukulan tersebut, helm korban pecah. Setidaknya terdapat empat kali pelaku menghantam korban menggunakan palu. Sehingga korban terkapar di jalan raya.</p>
<p>Pada saat kejadian tersebut, terdapat seorang anggota kepolisian yang sedang melintas. Melihat aksi pemukulan tersebut, anggota Polres Samarinda tersebut langsung melepaskan tembakan.</p>
<p>Namun pelaku berusaha menyerang aparat tersebut. Sehingga aparat itu melepaskan tembakan. Karenanya, Sarifuddin berhasil dilumpuhkan karena terkena timah panas.</p>
<p>Kapolres Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto mengaku, pelepasan timah panah tersebut sudah sesuai prosedur. Pasalnya pelaku berusaha menyerang anggota kepolisian yang berupaya menyelamatkan korban.</p>
<p>“Kalau tidak ada anggota kami, bisa jadi pelaku diamuk massa. Waktu kejadian hampir mau dipukul sama warga. Waktu itu anggota kami sedang bertugas di sana,” bebernya. <strong>(*/um)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/dewan-minta-pemprov-tegas/">Dewan Minta Pemprov Tegas </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepolisian Tunggu Hasil Pemeriksaan Kejiwaan Tersangka Pembunuhan PNS Disnakertrans</title>
		<link>https://bontangpost.id/kepolisian-tunggu-hasil-pemeriksaan-kejiwaan-tersangka-pembunuhan-pns-disnakertrans/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2018 03:32:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[orang gila]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=44259</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAMARINDA – Penyelidikan terhadap meninggalnya Muhammad Riharza (38), salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim, akibat dipukul menggunakan palu oleh seorang pria yang bernama Saripuddin, Senin (16/7) masih menyisakan tanya. Pasalnya, kepolisian belum dapat menelusuri motif di balik pembunuhan yang dilakukan pria berusia 52 itu. Lantaran yang bersangkutan diduga [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kepolisian-tunggu-hasil-pemeriksaan-kejiwaan-tersangka-pembunuhan-pns-disnakertrans/">Kepolisian Tunggu Hasil Pemeriksaan Kejiwaan Tersangka Pembunuhan PNS Disnakertrans</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SAMARINDA – Penyelidikan terhadap meninggalnya Muhammad Riharza (38), salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim, akibat dipukul menggunakan palu oleh seorang pria yang bernama Saripuddin, Senin (16/7) masih menyisakan tanya. Pasalnya, kepolisian belum dapat menelusuri motif di balik pembunuhan yang dilakukan pria berusia 52 itu. Lantaran yang bersangkutan diduga stres atau mengalami gangguan kejiwaan.</p>
<p>Kapolres Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto mengatakan, untuk saat ini pihaknya masih melakukan penjagaan di RSUD AW Syahrani tempat pelaku menjalani operasi. Setelah sebelumnya mendapatkan tembakan timah panas dari petugas kepolisian.</p>
<p>Kata dia, saat ini pelaku sudah sadar secara medis. Namun untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh pihaknya masih menunggu hasil pengecekan lebih lanjut dari pihak rumah sakit. Walaupun begitu, jika nantinya pelaku terbukti bersalah, maka yang bersangkutan dapat dijatuhi hukuman penjara.</p>
<p>“Saat ini kami masih menunggu proses penyembuhan lukanya dulu. Setelah itu, akan kami bawa ke RSKD Atma Husada guna menjalani observasi kejiwaan. Dan kalau sudah memenuhi syarat maka akan di pidanakan,” tutur Vendra, Selasa (17/7) kemarin.</p>
<p>Melihat gerak-gerik pelaku, Vendra pun berpendapat ada kemungkinan pelaku mengalami gangguan perilaku seperti skizofernia. Hal ini dikarenakan pelaku merasa seperti dikejar-kejar orang. Inilah yang membuatnya panik ketika melihat kepadatan lalu lintas dan menyerang orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Diakui Vendra, sebelumnya pelaku pernah berurusan dengan pihak berwajib. Namun ia pun belum mengetahui secara pasti terkait kasus apa. “Sebelumnya pelaku pernah ditahan di Polsek Samarinda Ilir, namun untuk mengetahui lebih jelas, bisa ditanyakan langsung kepada petugas di sana,” kata dia.</p>
<p>Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda, Ridwan Tassa, memiliki pendapat yang berbeda tentang kondisi kejiwaan pelaku. Ia menuturkan bahwa pelaku pembunuhan PNS golongan IIIB itu sebenarnya tidak gila, melainkan hanya mengalami stres.</p>
<p>Hal itu ia ketahui setelah mengirim petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk memverifikasi data pelaku yang ditenggarai mengalami gangguan jiwa tersebut.</p>
<p>“Kebetulan saat kejadian itu, saya juga berada di sekitar tempat kejadian. Saya langsung memanggil petugas TKSK. Dari hasil verifikasi itu, dikatakan dia tidak gila. Hanya mengalami stres karena sebelumnya dituduh mencuri,” tutur Ridwan saat disambangi awak media di kantornya di Jalan Dahlia.</p>
<p>Ia juga meyakinkan, bahwa pelaku sudah sadar dan merasa menyesal akan apa yang telah ia perbuat. Apalagi setelah mengetahui korban yang ia renggut nyawanya juga memiliki istri dan anak.</p>
<p>Berkeliarannya Saripuddin dengan palu di tangannya diketahui karena ia bekerja sebagai tukang bangunan yang berlokasi di depan kantor korban. Oleh karena itulah, ia memukuli orang di sekitarnya menggunakan alat bangunan itu.</p>
<p>“Makanya kami anggap dia tidak gila. Hanya saja pada saat itu jiwanya sedang labil dan panik melihat keramaian lalu lintas di kawasan itu. Jadi, kasus ini harusnya diserahkan kepada Dinas Kesehatan untuk memeriksa kembali kejiwaanya,” ujarnya. <strong>(*/dev)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kepolisian-tunggu-hasil-pemeriksaan-kejiwaan-tersangka-pembunuhan-pns-disnakertrans/">Kepolisian Tunggu Hasil Pemeriksaan Kejiwaan Tersangka Pembunuhan PNS Disnakertrans</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tersangka Dikenal Penyayang oleh Keluarga</title>
		<link>https://bontangpost.id/tersangka-dikenal-penyayang-oleh-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2018 03:55:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=43192</guid>

					<description><![CDATA[<p>BUKAN hanya suami korban yang merasa terpukul, ibu dari tersangka pun cukup shock mengetahu anak yang dilahirkannya menjadi seorang pembunuh sadis. Halimah yang merupakan ibu tersangka mengaku kaget anak kedua dari 5 bersaudara itu harus menghabiskan waktunya di balik jeruji besi. “Anak itu baik kalau di rumah, pendiam enggak, nakal juga enggak. Malah dia paling [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/tersangka-dikenal-penyayang-oleh-keluarga/">Tersangka Dikenal Penyayang oleh Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BUKAN hanya suami korban yang merasa terpukul, ibu dari tersangka pun cukup <em>shock</em> mengetahu anak yang dilahirkannya menjadi seorang pembunuh sadis.</p>
<p>Halimah yang merupakan ibu tersangka mengaku kaget anak kedua dari 5 bersaudara itu harus menghabiskan waktunya di balik jeruji besi. “Anak itu baik kalau di rumah, pendiam enggak, nakal juga enggak. Malah dia paling akrab sama saya kalau di rumah. Paling senang bercanda juga dan paling rajin cium tangan kalau mau pergi. Jadi sangat berbanding terbalik kesehariannya dengan kejadian ini (pembunuhan, <em>Red</em><em>.</em>),” jelas Halimah di Polres Bontang..</p>
<p>Awal mula dirinya tahu kejadian pembunuhan tersebut karena tersangka malam hari saat kejadian dibawa oleh Polisi karena laporannya sebagai korban begal. “Polisi jemput dia mau diinterogasi soal begal, tidak tahu kalau sudah curiga sebagai pembunuh,” ungkapnya.</p>
<p>Memang dikatakan dia, beberapa hari sebelum kejadian tersangka terlihat seperti kebingungan. Saat Halimah bertanya usai kejadian, barulah anaknya mengaku butuh uang untuk bayar perpisahan sebesar Rp 1,5 juta. “Padahal seingat saya sudah saya kasih uangnya pertama Rp 1 juta dulu, baru Rp 500 ribu. Tetapi mungkin uangnya dia pakai dan bingung mau ganti pakai uang apa. Apalagi, besoknya itu sudah hari perpisahan,” bebernya.</p>
<p>Dia menceritakan, sebelum kejadian, anaknya tiba-tiba sering menginap di rumah temannya. Halimah dan suaminya melarangnya namun pelaku malah membantah. Terkait pacar pelaku, Halimah mengaku kenal dengan pacarnya bahkan dengan kedua orang tuanya. “Kan pas dia ke klinik usai kejadian pembunuhan itu sama pacar dan kedua orang tuanya, barulah HS menelpon bapaknya (suaminya, <em>Red</em><em>.</em>) pakai hp milik bapak pacarnya kalau dia mengaku dibegal,” ungkapnya.</p>
<p>Disinggung mengenai korban, Halimah mengaku kenal dan cukup akrab dengan korban. Bahkan, dirinya dan korban membuat komunitas “mamak rempong”. Di momen Hari Buruh 1 Mei lalu pun mereka telah membuat baju seragam untuk merayakannya dengan senam bersama.</p>
<p>Soal perasaannya sebagai ibu saat ini, Halimah mengaku sedih dan tak kuat dengan kenyataan bahwa anaknya seorang pembunuh. Namun, dirinya harus kuat agar bisa kembali menguatkan anaknya. “Saya maafkan anak saya walau macam manapun baik buruknya dia tetap anak saya, masa mau dibuang. Sejelek apapun dia tetap saya yang lahirkan. Dia juga mengaku sama saya tidak percaya kalau dirinya membunuh, selalu dia katakan ‘aku ga percaya kalau aku ngebunuh ma’. Tapi saya katakan apapun yang kamu lakukan itu salah, karena dengan datang ke rumah korban lewat plafon saja itu sudah salah,” pungkasnya. (mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/tersangka-dikenal-penyayang-oleh-keluarga/">Tersangka Dikenal Penyayang oleh Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suami Korban: Saya Ingin Cincang Pelaku</title>
		<link>https://bontangpost.id/suami-korban-saya-ingin-cincang-pelaku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2018 03:54:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<category><![CDATA[Reka Ulang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=43190</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sapta, sang suami dan ayah korban mengaku sangat terpukul. Sapta terpaksa harus kuat menerima kenyataan bahwa anaknya NV (6) telah berpulang bersama istri tercintanya LS (32). Marah, kesal, kecewa, dendam, dan sedih masih bisa dirasakan oleh Sapta. Saking tak terimanya, Sapta hingga mengucapkan kata-kata umpatan ketika menyaksikan langsung proses rekonstruksi pembunuhan istri dan anaknya. “Rasanya [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/suami-korban-saya-ingin-cincang-pelaku/">Suami Korban: Saya Ingin Cincang Pelaku</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sapta, sang suami dan ayah korban mengaku sangat terpukul. Sapta terpaksa harus kuat menerima kenyataan bahwa anaknya NV (6) telah berpulang bersama istri tercintanya LS (32).</p>
<p>Marah, kesal, kecewa, dendam, dan sedih masih bisa dirasakan oleh Sapta. Saking tak terimanya, Sapta hingga mengucapkan kata-kata umpatan ketika menyaksikan langsung proses rekonstruksi pembunuhan istri dan anaknya. “Rasanya saya ingin cincang-cincang pelaku itu,” katanya dengan nada tinggi.</p>
<p>Bagaimana tidak, selama ini dirinya mengenal tersangka HS (19) dengan baik. Selain rumah mereka yang berdampingan, Sapta juga sering bermain PlayStation bersama HS. Sehingga dia sama sekali tak menyangka bahwa HS pembunuh istri dan anaknya. “Saat kejadian itu saya lagi di Riau, sedang <em>training</em>,” ujarnya.</p>
<p>Saat mendapat kabar buruk tersebut, Sapta mengaku sedang berada di Pekanbaru dan mendapat telepon dari adik kandungnya. Setelah kejadian pembunuhan, malam harinya Sapta langsung kembali ke Kaltim.  “Sampai saat ini saya masih marah, ingin menghukum dia (pelaku, <em>Red</em><em>.</em>) mau saya cincang,” ujarnya lagi.</p>
<p>Sapta tentu sangat menyayangi anak semata wayangnya, NV. Apalagi anak lelakinya itu sudah mau masuk sekolah. Disebutkan bahwa dirinya berangkat ke Riau agar jenjang kariernya lebih baik lagi. Tetapi ketika mendapat kabar tersebut, Sapta langsung <em>shock</em>.</p>
<p>Beberapa waktu lalu sebelum kejadian, tidak ada firasat, tetapi dirinya sempat bermimpi bahwa anaknya benjol di bagian kepala. Tak ada firasat lain, Minggu (29/4) merupakan terakhir kalinya mereka berkomunikasi. “Tadinya Minggu mau video call, tetapi paket internet istri saya habis. Saat hari Selasa, saya coba telpon istri saya, tetapi tidak aktif,” ungkapnya.</p>
<p>Sejak pagi, ponsel istrinya sudah tidak aktif, dicoba lagi hingga siang dan malam masih sama. Di sana, perasaan Sapta mulai tak enak dan gelisah. Akhirnya dia mendapat kabar dari teman kerjanya bahwa kondisi rumahnya sedang tidak bagus. Tak lama, adik kandungnya yang kembali menelpon dan mengatakan istrinya sudah dibawa ke rumah sakit. “Saya pikir mungkin istri saya sakit, makanya saya sedikit lega karena masih bisa dirawat. Tetapi waktu saya menanyakan si kecil gimana? Adik saya malah menangis, disitulah saya kembali gelisah,” kata Sapta menahan tangis hingga keduanya matanya merah dan berkaca-kaca.</p>
<p>Sapta pun langsung bergegas pulang ke Kalimantan. Sesampainya di rumah sakit, dirinya baru mengetahui bahwa tersangka HS merupakan pelakunya. “Saya mau dia dihukum mati saja, karena kalau dia masih keluar dari penjara, saya khawatir ada kejadian seperti ini lagi,” tandas Sapta. (mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/suami-korban-saya-ingin-cincang-pelaku/">Suami Korban: Saya Ingin Cincang Pelaku</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hasil Autopsi Keluar, Navita Tewas Akibat Pendarahan Otak dan Banyak Fakta Baru Terungkap</title>
		<link>https://bontangpost.id/hasil-autopsi-keluar-navita-tewas-akibat-pendarahan-otak-dan-banyak-fakta-baru-terungkap/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 May 2017 04:56:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=13056</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Korban mengalami pukulan atau siksaan yang cukup mengerikan, prediksi kami juga korban tidak diberi makan sebelum dipukul, sampai isi lambungnya bersih tanpa makanan,” Iptu Rihard Nixson &#8212; Kasat Reskrim Polres Bontang BONTANG – Dua pekan lebih pasca pembunuhan Navita (3) yang tewas di tangan ayah tirinya masuk babak baru. Dari hasil autopsi yang sudah diterbitkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/hasil-autopsi-keluar-navita-tewas-akibat-pendarahan-otak-dan-banyak-fakta-baru-terungkap/">Hasil Autopsi Keluar, Navita Tewas Akibat Pendarahan Otak dan Banyak Fakta Baru Terungkap</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Korban mengalami pukulan atau siksaan yang cukup mengerikan, prediksi kami juga korban tidak diberi makan sebelum dipukul, sampai isi lambungnya bersih tanpa makanan,” Iptu Rihard Nixson &#8212; Kasat Reskrim Polres Bontang</p></blockquote>
<p>BONTANG – Dua pekan lebih pasca pembunuhan Navita (3) yang tewas di tangan ayah tirinya masuk babak baru. Dari hasil autopsi yang sudah diterbitkan dokter forensik RS AW Syahrani pada Selasa (16/5) lalu, terdapat beberapa luka yang tersembunyi, termasuk fakta jika Navita tewas akibat pendaraan otak. Selain sekujur tubuhnya mengalami luka memar bekas hantaman benda tumpul, dubur bocah malang itu pun sobek.</p>
<p>Peristiwa penganiayaan ayah tiri Fardi Saldi alias Ardi (20) terhadap anaknya Navita memang sangat memilukan. Fakta baru pun banyak terungkap dari hasil autopsi. Bahkan, Polisi pun harus melakukan penyidikan ulang karena ada luka yang tidak diketahui Polisi dan perlu mendapat jawaban dari tersangka Ardi.</p>
<p>Kapolres Bontang AKBP Andy Ervyn melalui Kasat Reskrim Iptu Rihard Nixson mengatakan, hasil yang dikeluarkan dari dokter forensik menjelaskan tulang atas tengkorak mengalami retak.</p>
<p>“Kesimpulannya, penyebab kematian korban Navita akibat pendarahan pada otak yang menyebabkan kegagalan fungsi susunan syaraf pusat, selain itu diperberat juga dengan luka akibat kekerasan benda tumpul di sekujur tubuhnya,” jelas Rihard saat ditemui di ruangannya, Rabu (17/5) kemarin.</p>
<p>Dirincikan dia, pemeriksaan luar jenazah Navita bocah dengan tinggi badan 92 cm, warga Jalan KS Tubun, Gang Arwana 1 RT 17, Kelurahan Tanjung Laut Indah ini dari ujung kepala sampai ujung kaki terdapat luka memar.</p>
<p>Kulit kepala luka memar, dahi, mata, hidung dan mulut sampai mengeluarkan darah. Pipi kiri dan kanan korban juga terdapat luka memar dan luka lecet bulat menyerupai bekas gigitan.</p>
<p>Gigi seri korban ada yang patah dengan rahangnya. “Adanya luka gigitan berati korban digigit juga selain dipukul, kami harus memeriksa kembali tersangka. Karena saat diperiksa tersangka tidak bilang sempat menggigit korban, sementara hasil autopsi terdapat luka gigitan,” ujarnya.</p>
<p>Kedua telinga dan leher korban, lanjut dia, juga terdapat luka memar dan luka lecet. Sementara di dada dan perut juga terdapat luka memar di luar dan pendarahan di dalam. Bagian lengan keduanya, punggung, paha hingga kaki juga terdapat luka memar.</p>
<p>Di lubang anus korban terdapat luka sobek sampai ke otot. “Terkait luka robek pada dubur korban hingga menembus otot, kami juga harus tanya kembali ke tersangka,” kata Rihard.</p>
<p>Yang lebih miris, Rihard menyatakan dari hasil autopsi didapati bahwa lambung korban kosong tanpa makanan ataupun minuman.</p>
<p>Termasuk dalam usus korban hanya terdapat gas pembusukan tanpa ada kotoran sisa makanan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa korban tidak mendapat asupan makanan atau susu sebelum dianiaya. Sementara kedua ginjalnya mengalami pendarahan.</p>
<p>Tulang tengkorak retak disertai pendarahan di otak. “Korban mengalami pukulan atau siksaan yang cukup mengerikan, prediksi kami juga korban tidak diberi makan sebelum dipukul, sampai isi lambungnya bersih tanpa makanan,” ungkap Rihard.</p>
<p>Banyaknya fakta baru yang terkuak, Rihard pun menyatakan akan kembali memeriksa tersangka. Selanjutnya, pihaknya akan melanjutkan ke proses rekonstruksi. “Saat ini, kami masih merampungkan berkas rekonstruksi untuk dikirim ke Kejaksaan,” pungkasnya.</p>
<p>Sebelumnya, diberitakan bahwa pada Senin 1 Mei 2017 lalu terungkap kasus pembunuhan ayah tiri terhadap anaknya. Awalnya, tersangka Ardi mengaku korban Navita meninggal akibat menjadi korban tabrak lari. Namun berkat ketelitian dan kejelian Bhabinkamtibmas Kelurahan Tanjung Laut Indah Aiptu Mulyo, pembunuhan tersebut bisa terungkap lantaran terdapat kejanggalan.</p>
<p>Polisi pun mengamankan Ardi dan istrinya Nita (20) yang menikah sejak bulan November 2016 lalu. Navita, merupakan anak kandung Nita dari hasil pernikahan pertamanya. Diduga karena cemburu terhadap anak tirinya, Ardi tega membunuh Navita dengan cara dianiaya hingga Navita menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan pulang dari Melak menuju Bontang.</p>
<p>Pasangan tersebut pun sepakat membuat skenario dan menguburkan Navita dengan cara tidak layak di tengah hutan di wilayah Prangat Kecamatan Marangkayu. Saat dibongkar Polisi, jasad Navita dipenuhi luka memar disekujur tubuhnya. Ardi pun ditetapkan sebagai tersangka, sementara istrinya masih sebagai saksi. (mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/hasil-autopsi-keluar-navita-tewas-akibat-pendarahan-otak-dan-banyak-fakta-baru-terungkap/">Hasil Autopsi Keluar, Navita Tewas Akibat Pendarahan Otak dan Banyak Fakta Baru Terungkap</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KEJAM!!! Jasad Navita Ditemukan Penuh Lebam, Dikubur dengan Cara Tak Laik</title>
		<link>https://bontangpost.id/kejam-jasad-navita-ditemukan-penuh-lebam-dikubur-dengan-cara-tak-laik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2017 04:58:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=12095</guid>

					<description><![CDATA[<p>BONTANG &#8211; Jenazah Navita (3), korban pembunuhan oleh ayah tirinya Fardi Sali (20) ditemukan penuh dengan luka lebam disekujur tubuhnya. Kedua orang tuanya memakamkan jenazah Navita seperti layaknya binatang. Hanya dibungkus kain putih tanpa dimandikan dan masih menggunakan pempers. Hal tersebut terungkap setelah jajaran Sat Reskrim Polres Bontang membongkar kembali kuburan Navita di Kilometer 28 [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kejam-jasad-navita-ditemukan-penuh-lebam-dikubur-dengan-cara-tak-laik/">KEJAM!!! Jasad Navita Ditemukan Penuh Lebam, Dikubur dengan Cara Tak Laik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BONTANG &#8211; Jenazah Navita (3), korban pembunuhan oleh ayah tirinya Fardi Sali (20) ditemukan penuh dengan luka lebam disekujur tubuhnya. Kedua orang tuanya memakamkan jenazah Navita seperti layaknya binatang. Hanya dibungkus kain putih tanpa dimandikan dan masih menggunakan pempers.</p>
<p>Hal tersebut terungkap setelah jajaran Sat Reskrim Polres Bontang membongkar kembali kuburan Navita di Kilometer 28 Desa Prangat Selatan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (1/5) kemarin pukul 24.00 Wita.</p>
<p>Kapolres Bontang, AKBP Andy Ervyn melalui Kasubag Humas Iptu Suyono menceritakan kronologis kejadian, peristiwa memilukan tersebut bermula dari Sabtu (29/4) lalu. Saat itu, Fardi alias Ardi hendak ke Kutai Barat bersama istrinya Reni Candra Anita (20) dan anak tirinya Navita. Saat hendak pulang Minggu sekira pukul 19.00 Wita, di tengah perjalanan tersangka menghentikan kendaraannya di Kota Bangun untuk istirahat.</p>
<p>Saat istirahat, anak tirinya duduk di atas perut tersangka Ardi yang sedang berbaring. Tak disangka, Navita buang air besar di atas perutnya. Ardi pun meminta istrinya untuk mengangkat dan membersihkannya, tetapi sang istri menolak membersihkan kotoran di perutnya dan hanya membersihkan kotoran di tubuh anaknya. “Merasa sangat emosi, Navita pun terkena pukulan sebanyak 3 kali di kepalanya hingga mengenai tengkuknya dan pingsan,” jelas Suyono, Selasa (2/5) kemarin.</p>
<p>Melihat anaknya pingsan, kedua orang tuanya berusaha membangunkannya dengan menyiramkan air dan memberi minyak kayu putih di hidungnya agar sadar kembali. Selepas itu, mereka melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Mendekati Tenggarong, mereka kembali beristirahat. Saat istirahat itu, anaknya kembali kencing di celana tersangka. Lagi-lagi, sang istri tak mau membersihkannya.</p>
<p>“Disitu, tersangka akhirnya turun dari mobil dan marah-marah sambil membawa anak tirinya turun lantas dia pukuli kembali sampai dilempar ke bak truk hingga melambung ke atas,” ujarnya.</p>
<p>Setelah dilempar, anak itu dibawa kembali ke istrinya dalam kondisi pingsan. Di perjalanan menuju Samarinda, mereka mengecek bahwa anaknya sudah tak bernyawa. Akhirnya, sampai di Samarinda pada Senin subuh, keduanya singgah untuk membeli kain kafan dan cangkul.</p>
<p>Sebelum sampai di Gunung Menangis atau Kilometer 28 arah Samarinda Bontang, Desa Prangat Selatan, jenazah anak tersebut dibungkus dengan cara yang tidak layak dan dikubur di tengah hutan dengan lubang kuburan yang tidak sesuai. “Barulah saat sampai di Bontang, dia bercerita kepada penjual bakso bahwa anaknya sudah meninggal karena menjadi korban tabrak lari dan sudah dimakamkan,” terang dia.</p>
<p>Mendengar kabar tersebut, tukang bakso tersebut langsung melaporkan ke Ketua RT 17. Dari Ketua RT melaporkan lagi ke Bhabinkamtibmas Tanjung Laut Indah, Bripka Mulyono. Karena menemukan kejanggalan, keduanya lantas digiring ke Polsek Bontang Selatan.</p>
<p>Disana, barulah sang istri mengaku dan bercerita bahwa anaknya meninggal karena dipukuli suaminya. “Dari keterangan itu, Sat Reskrim dan Inafis langsung memastikan ke Prangat, lokasi kuburan Navita,”ungkapnya.</p>
<p>Ternyata benar, setelah digali, kondisi jenazah Navita penuh dengan luka lebam. Mulai dari kaki, hingga mukanya yang penuh luka lebam dan menyebabkan matanya bengkak. Tak hanya itu, tangan kanan Navita seperti dalam keadaan patah. Mulutnya juga mengeluarkan darah bercampur cairan.</p>
<p>Sementara di tangan, badan serta kedua lututnya mengalami bengkak dan memar hingga membiru. “Jenazahnya pun lantas dibawa ke RS AW Syahrani untuk menjalani autopsi, memastikan apakah penyebab meninggalnya, apa karena dipukul atau dikubur dalam kondisi masih hidup,” terang Suyono.</p>
<p>Sementara sang istri, hanya bisa terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa. Nita beralasan takut karena diancam suami dan diminta menceritakan kepada tetangga sesuai dengan skenario Ardi yakni korban tabrak lari.</p>
<p>Saat dikonfirmasi, tak tampak raut wajah sedih dari Ardi yang memakai baju tahanan Polres. Dirinya mengaku tak berniat membunuh anaknya. Tetapi dirinya cemburu, karena sang istri sering melawan karena anaknya.</p>
<p>Sehingga, apabila melihat anak tirinya, Ardi seakan melihat bapak kandung Navita. Ardi juga mengaku bahwa mereka selama di perjalanan singgah 4 kali dan 4 kali juga memukuli Navita. “Saya kesal, istri mulai melawan, makanya diluapkan emosi saya sama Navita, karena saya sayang sekali sama istri saya dan tak mau memukulinya,” ujar Ardi.</p>
<p>Ardi juga mengaku jika saat dia kecil sering dipukuli oleh bapaknya dan kejadian itu dia ulangi ke anak tirinya. Sebelum Navita meninggal, Ardi bercerita selalu dimimpikan Navita yang akan meninggalkannya. “Pas belum kubunuh itu sempat dimimpikan, dia (Navita, Red.) bilang: Ayah dadah,” ungkapnya. (mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kejam-jasad-navita-ditemukan-penuh-lebam-dikubur-dengan-cara-tak-laik/">KEJAM!!! Jasad Navita Ditemukan Penuh Lebam, Dikubur dengan Cara Tak Laik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyidikan Pembunuhan Novita Tetap di Bontang</title>
		<link>https://bontangpost.id/penyidikan-pembunuhan-novita-tetap-di-bontang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 May 2017 04:57:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan sadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=12098</guid>

					<description><![CDATA[<p>MESKIPUN kasus pembunuhan anak tiri tempat kejadian perkara (TKP) masuk di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar), namun proses penyidikan tersebut tetap di Polres Bontang. Hal tersebut demi efisiensi waktu dan biaya. Mengingat kebanyakan saksi merupakan warga Bontang. Kapolres Bontang, AKBP Andy Ervyn melalui Kasat Reskrim Polres Bontang Iptu Rihard Nixson mengatakan, awalnya kasus tersebut akan dilimpahkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/penyidikan-pembunuhan-novita-tetap-di-bontang/">Penyidikan Pembunuhan Novita Tetap di Bontang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MESKIPUN kasus pembunuhan anak tiri tempat kejadian perkara (TKP) masuk di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar), namun proses penyidikan tersebut tetap di Polres Bontang. Hal tersebut demi efisiensi waktu dan biaya. Mengingat kebanyakan saksi merupakan warga Bontang.</p>
<p>Kapolres Bontang, AKBP Andy Ervyn melalui Kasat Reskrim Polres Bontang Iptu Rihard Nixson mengatakan, awalnya kasus tersebut akan dilimpahkan ke Polres Kukar. Bahkan, pihaknya pun sudah berkoordinasi dan akan segera mengirimkan tersangka untuk dilakukan proses penyidikan di Kukar. “Tetapi mengingat saksinya banyak warga Bontang, makanya proses penyidikan dan proses hukum tetap dilakukan di Polres Bontang,” jelas Rihard, Selasa (2/5) kemarin.</p>
<p>Saat ini lanjut Rihard, kasusnya masih proses penyidikan. Polisi sedang mengambil keterangan dari para saksi serta melengkapi administrasi lainnya. Namun memang proses pemeriksaan saksi ada sedikit kemunduran hasil koordinasi dengan jaksa. Karena beberapa saksi ada yang melihat jika anak tersebut sudah sering menangis histeris karena dipukul.</p>
<p>“Mereka perlu waktu untuk kami panggil dengan memberikan keterangan tersebut,” ujarnya.<br />
Sementara untuk istri tersangka yakni Nita statusnya masih sebagai saksi dan bukan tersangka. Sedangkan untuk hasil autopsi, Rihard mengatakan akan keluar dalam waktu yang tak bisa dipastikan. Pasalnya, itu semua tergantung kinerja dokter. Karena prosesnya lama, dokter juga harus membuat laporan visum et Repertum.</p>
<p>Tersangka Ardi pun, disangkakan melanggar pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan berat yang menyebabkan korbannya meninggal dengan ancaman 7 tahun penjara, dilapis Pasal 338 KUHP dengan ancaman paling lama 15 tahun penjara. “Pelaku juga bisa dikenakan UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancama hukuman 15 tahun penjara,” pungkasnya.(mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/penyidikan-pembunuhan-novita-tetap-di-bontang/">Penyidikan Pembunuhan Novita Tetap di Bontang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
