BUKAN hanya suami korban yang merasa terpukul, ibu dari tersangka pun cukup shock mengetahu anak yang dilahirkannya menjadi seorang pembunuh sadis.
Halimah yang merupakan ibu tersangka mengaku kaget anak kedua dari 5 bersaudara itu harus menghabiskan waktunya di balik jeruji besi. “Anak itu baik kalau di rumah, pendiam enggak, nakal juga enggak. Malah dia paling akrab sama saya kalau di rumah. Paling senang bercanda juga dan paling rajin cium tangan kalau mau pergi. Jadi sangat berbanding terbalik kesehariannya dengan kejadian ini (pembunuhan, Red.),” jelas Halimah di Polres Bontang..
Awal mula dirinya tahu kejadian pembunuhan tersebut karena tersangka malam hari saat kejadian dibawa oleh Polisi karena laporannya sebagai korban begal. “Polisi jemput dia mau diinterogasi soal begal, tidak tahu kalau sudah curiga sebagai pembunuh,” ungkapnya.
Memang dikatakan dia, beberapa hari sebelum kejadian tersangka terlihat seperti kebingungan. Saat Halimah bertanya usai kejadian, barulah anaknya mengaku butuh uang untuk bayar perpisahan sebesar Rp 1,5 juta. “Padahal seingat saya sudah saya kasih uangnya pertama Rp 1 juta dulu, baru Rp 500 ribu. Tetapi mungkin uangnya dia pakai dan bingung mau ganti pakai uang apa. Apalagi, besoknya itu sudah hari perpisahan,” bebernya.
Dia menceritakan, sebelum kejadian, anaknya tiba-tiba sering menginap di rumah temannya. Halimah dan suaminya melarangnya namun pelaku malah membantah. Terkait pacar pelaku, Halimah mengaku kenal dengan pacarnya bahkan dengan kedua orang tuanya. “Kan pas dia ke klinik usai kejadian pembunuhan itu sama pacar dan kedua orang tuanya, barulah HS menelpon bapaknya (suaminya, Red.) pakai hp milik bapak pacarnya kalau dia mengaku dibegal,” ungkapnya.
Disinggung mengenai korban, Halimah mengaku kenal dan cukup akrab dengan korban. Bahkan, dirinya dan korban membuat komunitas “mamak rempong”. Di momen Hari Buruh 1 Mei lalu pun mereka telah membuat baju seragam untuk merayakannya dengan senam bersama.
Soal perasaannya sebagai ibu saat ini, Halimah mengaku sedih dan tak kuat dengan kenyataan bahwa anaknya seorang pembunuh. Namun, dirinya harus kuat agar bisa kembali menguatkan anaknya. “Saya maafkan anak saya walau macam manapun baik buruknya dia tetap anak saya, masa mau dibuang. Sejelek apapun dia tetap saya yang lahirkan. Dia juga mengaku sama saya tidak percaya kalau dirinya membunuh, selalu dia katakan ‘aku ga percaya kalau aku ngebunuh ma’. Tapi saya katakan apapun yang kamu lakukan itu salah, karena dengan datang ke rumah korban lewat plafon saja itu sudah salah,” pungkasnya. (mga)







