Kisah Inspiratif Warga Bontang: Parmono (156)
Menjadi guru dan dai sejatinya sudah cita-cita Parmono sejak kecil. Seiring berjalannya waktu, Parmono tidak hanya ditakdirkan sebagai guru, melainkan juga sebagai perintis berdirinya sekolah yang dia pimpin saat ini, MTs Al-Ikhlas.
Bambang, Bontang
BEBERAPA tahun setelah lulus dari bangku sekolah, Pria kelahiran Sleman 47 tahun silam ini sempat ditawari oleh pamannya hijrah ke Kalimantan untuk didaftarkan masuk tentara. Walau saat itu keinginanya bertentangan apa yang dia cita-citakan, namun baginya kala itu tak ada salahnya untuk mencoba peruntungan. Menjalani tes di Kota Minyak Balikpapan, rupanya nasib berkata lain. Parmono dinyatakan tidak lolos saat seleksi terakhir. “Jatuhnya saat tes Pantukhir. Tes ini merupakan penentuan terakhir,” kenangnya.
Karena tidak lolos, akhirnya anak dari pasangan Sajiman dan Samsu Rijah (alm) ini memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya, dengan berkuliah di IAIN Antasari Samarinda.
Selama menempuh bangku kuliah, untuk membiayai hidup ataupun biaya pendidikannya, Parmono memutuskan kuliah sambil bekerja. Di sela-sela waktu kosong kuliahnya, suami Lurah Satimpo Reni Eka Wahyuni itu juga menjadi tenaga pendidik di MTs Normal Islam dan SMP PGRI Samarinda. Selain itu, Parmono juga ‘nyambi’ bekerja sebagai tenaga honorer di Kantor Gubernur kaltim.
“Setelah lulus kuliah, baru mendaftar sebagai pegawai di Kementerian Agama. Saat itu kebetulan ada pembukaan lowongan untuk pegawai. Setelah ikut tes, Alhamdulillah lulus,” tuturnya.
Saat dinyatakan diterima, bapak tiga anak itu langsung ditempatkan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bulungan, Kalimantan Utara. Mengabdi di sana selama empat tahun, pada tahun 2001 Parmono dimutasi mengajar di MTs Darul Da’wahwall Irsyad (DDI) Bontang. Di MTs DDI sampai 2006, selain mengajar, Parmono juga diamanahi sebuah jabatan sebagi wakil kepala sekolah.
“Saat dimutasi itulah pertama kali saya mengenal Bontang,” kata dia.
Di 2006, alumnus Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Manajemen Pendidikan itu kemudian dipindah mengajar ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bontang. Walau statusnya sebagai pendidik kala itu, namun tahun 2007 sudah diminta untuk merintis berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlas di Bontang. Usai MTs berdiri, barulah di 2009 dirinya mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Kaltim menjadi Kepala Madrasah definitif MTs Al-Ikhlas.
“Awal berdiri tidak langsung punya gedung. Saat itu kami masih numpang di MAN Selama enam bulan,” ungkap pria yang juga sebagai dosen di STIT Syam tersebut.
Namun berkat usaha sungguh-sungguh dari seluruh komponen madrasah serta bantuan-bantuan dari luar seperti perusahaan dan pemerintah, lambat laun lokasi yang sebelumnya berupa hutan bakau itu perlahan mulai ‘disulap’ menjadi gedung-gedung sekolah.
Baginya, kunci bisa sukses merintis MTs Ikhlas dari nol adalah dengan bekerja secara semangat disertai rasa tanggung jawab. Dirinya pun selalu menanamkan kultur disiplin, berakhlakul karimah, serta kecerdasan imtaq dan iptek kepada peserta didiknya. Hal ini dialakukan karena dia yakin hal tersebut dapat menjadi modal bagi muridnya untuk menjalani kehidupan di masyarakat.
“Harapannya semoga MTs Al-Ikhlas bisa menjadi MTS yang terus unggul. Alhamdulillah nilai Ujian Nasional (UN) MTS Al-ikhlas selalu paling tinggi diantara MTs lainnya yang ada di Bontang,” tukasnya. (bersambung)
Biodata
Nama : Parmono S.Ag, M.Pd.
TTL : Sleman, 12 Agustus 1970
Alamat : Jalan Pontianak II, RT 23, Kelurahan Gunung Telihan
Istri : Reni Eka Wahyuni, SE
Anak : Rifa Nur Azizah, Indah Nur handayani
- Muhammad Afnan Atma Nugraha
Orang tua : Sajiman – Samsu Rijah (alm)
Pendidikan : S1 IAIN Antasari Samarinda Fakultas Tarbiyah jurusan PAI
S2 Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Manajemen Pendidikan
Motto Hidup : Bekerjalah dengan Semangat, Jangan Iri Hati, Jaga Keikhlasan.






