BONTANG – Belum stabilnya harga komoditas pangan pasca Lebaran, membuat Komisi II DPRD mengambil sikap. Sekretaris Komisi II DPRD Suwardi meminta kepada Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskop-UKMP) untuk melakukan pengawasan untuk menekan terjadinya kenaikan harga. Caranya dengan melakukan monitor rutin di lapangan terkait mahalnya beberapa komoditas pangan seperti telur, cabai, tomat, dan daging ayam.
“Diskop-UKMP harus lakukan monitor rutin untuk mencari tahu penyebab mahalnya beberapa komoditas pangan. Supaya ditemukan solusi agar harga dapat stabil kembali,” kata Suwardi kepada Bontang Post, Senin (16/).
Pasalnya, kenaikan harga ini sangat memberatkan bagi masyarakat, terlebih bagi yang kurang mampu. Apalagi komoditas pangan masuk dalam kebutuhan pokok yang dibutuhkan warga. “Sudah ada beberapa keluhan masyarakat yang disampaikan kepada saya terkait mahalnya beberapa sembako,” tuturnya.
Terkait pedagang, politisi Partai Gerindra ini juga mengimbau untuk tidak memanfaatkan momen, ini walaupun harga telah stabil. Pasalnya kerugian nantinya juga akan diterima mereka mengingat tingkat mobilisasi warga Bontang ke luar daerah sangat tinggi.
“Jika pedagang pun bermain tentunya akan ditinggalkan konsumen. Dikarenakan banyak konsumen yang sering ke luar daerah seperti Samarinda, dan pasti akan membandingkan harga di Bontang dan di sana (Samarinda, Red.),” ungkapnya.
Sementara, Wakil Ketua Komisi II Arif mengatakan, dalam waktu dekat akan memanggil Diskop-UKMP untuk diminta keterangannya. Pemanggilan ini juga bertujuan untuk mencari akar permasalahan terjadinya kenaikan harga di beberapa komoditas pangan.
“Kami (Komisi II DPRD, Red.) akan panggil Diskop-UKMP untuk rapat kerja dalam waktu dekat,” kata Arif.
Politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini menuturkan, salah satu penyebab mahalnya beberapa komoditas pangan sehubungan dengan belum lancarnya sarana transportasi. Mengingat beberapa kapal yang datang beberapa hari lalu masih memprioritaskan penumpang untuk arus balik.
“Saya koordinasi dengan pelayaran memang kapal yang datang di Bontang maupun Samarinda masih fokus untuk arus balik dikarenakan libur sekolah juga baru usai,” tuturnya.
Dikatakannya, naiknya harga telur di Pulau Jawa dikarenakan proses pengiriman bahan pangan ayam pun terkendala sarana transportasi. Apalagi di laut kondisi beberapa hari ini kerap dinaungi cuaca buruk, sehingga berdampak terjadinya gelombang besar. Oleh sebab itu maskapai pelayaran pun melakukan pembatasan muatan kapal.
Ia berharap program pembangunan tol laut yang dicetus pemerintah pusat segera terealisasi. Sehingga proses distribusi sembako antar pulau tidak terhambat saat musim liburan berlangsung. “Tol laut harus segera terealisasi untuk menekan kenaikan harga sembako,” harapnya.
Seperti diketahui, harga telur di Kota Bontang saat ini mencapai Rp 60 ribu per piringnya untuk ukuran besar. Daging ayam per ekornya dijual seharga Rp 53 ribu. Cabai pun mengalami lonjakan harga pasca Idulfitri. Untuk jenis cabai rawit dijual seharga Rp 60 ribu per kilogramnya, sementara cabai besar Rp 45 ribu. Kenaikan harga drastis juga terjadi pada komoditas pangan tomat, saat ini harga di pasaran mencapai RP 18 ribu per kilogramnya. (ak)






