SAMARINDA – Melemahnya ekonomi berdampak pada tingkat hunian hotel di Banua Etam. Dimulai sejak 2013, tingkat hunian hotel di Kaltim mulai mengalami penurunan. Hingga 2017 ini, persentase hunian hotel masih belum membaik. Selain itu, ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran layanan hotel semakin melemahkan tingkat hunian yang ada.
“Rata-rata tingkat hunian hotel di Kaltim mengalami penurunan antara 30 sampai 40 persen. Penurunan ini mulai terjadi sejak 2013,” kata Abdul Rasyid, Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group).
Salah satu penyebab penurunan tingkat hunian ini, lanjut Rasyid, karena adanya pengurangan efisiensi anggaran di kementerian dan kelembagaan yang ada di pemerintah.
Pengurangannya terbilang besar, mencapai hingga Rp 50 triliun untuk semua daerah. Aplikasinya dengan pemangkasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat di daerah-daerah.
“Termasuk di antaranya biaya perjalanan,” tambah Rasyid yang juga penasehat di Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Samarinda ini.
Kenaikan harga batu bara yang terjadi di awal tahun ini disebut Rasyid memberikan sinyal positif terhadap kebangkitan hotel-hotel di Kaltim. Namun, kenaikannya belum signifikan. Karenanya, PHRI menawarkan solusi kepada pemerintah di masing-masing daerah di Kaltim, untuk memberlakukan moratorium atau penangguhan pendirian hotel-hotel baru.
“Kami mengimbau pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk mengeluarkan moratorium hotel. Setidaknya sampai kondisi ekonomi kembali pulih,” ungkapnya.
Lesunya ekonomi ini diamini anggota DPRD Kaltim Masykur Sarmian. Beberapa waktu lalu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini sempat mengungkapkan mengenai dampak melemahnya ekonomi terhadap berbagai sektor bisnis. Salah satunya perhotelan. Bahkan dia menyebut ada beberapa hotel yang mendekati gulung tikar.
“Kondisi ekonomi saat ini berimbas pada berbagai sektor, di antaranya perhotelan. Pengusaha hotel banyak yang menjerit. Karena itu pemerintah diharapkan dapat memikirkan bagaimana agar kondisi ekonomi di Kaltim dapat kembali membaik,” tegas Masykur. (luk)







