Jalan Rusak Sangatta-Bontang
SANGATTA – Kondisi jalan poros Sangatta-Bontang kian parah. Mobil berkuran besar yang ‘amblas’ kini semakin intens. Teranyar, terjadi pada Rabu (26/4) kemarin. Sebuah truk sangkut di tengah tanjakan yang memang mengalami rusak parah. Kemacetan hingga ratusan meter tak terhindarkan.
Informasi yang dihimpun, truk yang menuju ke arah Sangatta melintas di tanjakan yang tak jauh dari kawasan Sangkima. Di tengah tanjakan, mobil tersebut tersangkut karena ada gundukan di tengah jalan. Gundukan itu timbul karena jalan yang rusak parah.
“Sekarang tambah parah. Kalau dulu dari Bontang ke Sangatta hanya butuh satu jam. Sekarang paling cepat 1,5 jam,” kata Parman, warga Sangatta Selatan yang berprofesi sebagai supir.
Bertambahnya waktu tempuh itu disebabkan kondisi jalan yang mengalami kerusakan parah. Apalagi jika terjadi insiden seperti kemarin.
“Kalau seperti ini tambah lama lagi sampai di Sangatta,” keluhnya.
Dia berharap agar pemerintah segera merospon untuk memperbaiki jalan tersebut. Pasalnya, kerusakan jalan juga menjadi salah satu pemicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.
“Misalnya truk ini tadi tidak kuat menanjak karena jalan rusak, lalu mundur dan menimpa kendaraan lain di belakang, bisa jadi petaka.Makanya kami harap segera diperbaiki,” pintanya.
Hal senada juga dikeluhkan Raihan Mahmud, warga yang mengaku tinggal di Jalan APT Pranoto Sangatta Utara ini meminta Pemerintah memperbaiki jalan tersebut.
“Kami masyarakat sudah bayar pajak. Tapi merasakan jalan yang seperti ini bertahun-tahun,” ujarnya.
Dari pantauan bulan lalu, sepanjang jalan poros Sangatta-Bontang terdapat paling sedikit 572 titik jalan rusak dan berlubang. Jumlah itu didapat Sangatta Post setelah menghitung satu per satu jumlah jalan rusak dan berlubang di sepanjang jalan. Secara keseluruhan, terdapat 59 titik yang kondisinya rusak parah.
Pekan lalu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kutim menyampaikan bahwa kondisi jalan nasional memang menjadi perhatian. Dinas PU pun terus melakukan upaya agar realisasi perbaikan segera terwujud. Selain itu, untuk mengurangi kerusakan , Pemkab Kutim juga telah mengusulkan pembangunan jembatan timbang.
Mengingat, kapasitas kendaraan yang melintas di jalan, dapat lebih dikontrol sesuai kondisi batas kemampuan jalan. Kepala Bidang (Kabid) Perhubungan Darat Dishub Kutim, Failu mengatakan bahwa sesuai Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Perhubungan, permasalahan buruknya kondisi ruas jalan nasional memang mencuat di seluruh daerah di Indonesia. Hal ini menyebabkan usulan pembangunan fasilitas jembatan timbang yang memang belum dimiliki sebagaian daerah dikemukakan dalam forum tersebut.
“Namun, beberapa persoalan masih jadi batu sandungan untuk merealisasikan pembangunan fasilitas itu,” jelas Failu pekan lalu.
Pertama, kata dia, soal status kewenangan pembangunan dan pengelolaannya. Sesuai aturan, hal tersebut merupakan tanggungjawab pemerintah pusat.
“Ki masih menunggu arahan lebih lanjut dari pusat terkait hal itu. Tapi yang jelas usulan sudah kami sampaikan. Sekarang masih dalam kajian pusat,” ucapnya.
Kemudian masalah kedua, lanjut Failu, kekhawatiran sejumlah pihak akan aktifitas pungutan liar (Pungli). Sebab, dari beberapa kasus pungli yang terungkap di sejumlah daerah, ada yang dilakukan oknum petugas jembatan timbang. Bahkan, ada yang sampai ditutup karena kasus itu
“Masalah ini juga yang jadi perhatian. Makanya pusat tidak mau sembarangan mengeluarkan ijin, dan masih melakukan kajian agar praktek pungli itu bisa dihindari,” ujar Failu.
Selain fasilitas utama jembatan timbang, tambah dia, pembangunan gudang penyimpanan barang juga perlu diperhatikan. Sebab, jangan sampai barang hasil penertiban dari kendaraan-kendaraan yang kelebihan muatan dibiarkan berada diluar ruangan.
“Jadi memang perlu dikaji lebih matang untuk menyiapkan semua fasilitas penunjangnya,” tutup Failu. (hd)







