Defisit Keuangan Mulai Berdampak
BONTANG – Kondisi defisit keuangan mulai berdampak pada geliat usaha masyarakat di Kota Bontang. Salah satunya usaha kuliner dan perhotelan yang mulai mengalami penurunan pendapatan. Hal ini terlihat dari mulai berkurangnya pengunjung di rumah makan-rumah makan di Bontang dan menurunnya tingkat hunian hotel secara drastis.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bontang Rustam menuturkan, penurunan ini sudah terlihat sejak Januari tahun ini. Dari total 18 hotel yang tergabung dalam PHRI, rata-rata tingkat hunian atau okupansi hanya mencapai 30 persen. Bahkan ada salah satu hotel yang pengelolanya sudah angkat tangan dan pergi.
“Memasuki 2017 merupakan saat-saat yang berat bagi pengusaha hotel di Bontang. Dengan tingkat hunian yang rendah, berdampak pula pada usaha kuliner yang mengalami penurunan pelanggan,” ungkap Rustam saat dihubungi media ini, Sabtu (4/2) kemarin.
Dari pengamatannya, banyak rumah makan di Bontang yang tampak sepi bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di koperasi PKT dan kawasan Bontang Kuala misalnya, dulu selalu penuh setiap malam Minggu. Kini jumlah pengunjungnya tak lagi seramai dulu. Hal ini kemungkinan dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat akibat kondisi keuangan yang menurun. Adanya pemotongan gaji para pegawai baik honorer maupun PNS menjadi salah satu penyebabnya.
Sehingga ketimbang menikmati santapan di rumah makan, masyarakat lebih memilih berhemat dengan memasak di rumah sendiri. “Saya juga yang biasanya makan di luar, sekarang ini lebih banyak makan di rumah saja,” tambahnya.
Dengan kondisi seperti ini, Rustam yang juga ketua komisi III DPRD Bontang meminta para pengusaha kuliner untuk tidak menyerah. Dalam hal ini, diharapkan para pengusaha bisa bertahan hingga perekonomian kembali membaik. Dengan proyek-proyek besar siap dibangun di Bontang, tentu bisa menggerakkan kembali perekonomian di Kota Taman.
“Banyak teman pengusaha yang mengeluh dengan kondisi saat ini. Kalau kami sarankan untuk bertahan dulu hingga kondisinya membaik,” ujar Rustam.
Guna tetap bertahan, dia menyarankan agar para pengusaha bisa berhemat. Yaitu dengan menekan biaya operasional seminim mungkin. Namun bukan berarti mesti melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena bila hal itu dilakukan, justru akan menimbulkan masalah baru. Yang bisa dilakukan dalam menekan biaya operasional ini misalnya dengan mematikan lampu yang tidak perlu, atau dengan mengurangi biaya-biaya pengeluaran yang tidak perlu.
“Kondisi usaha yang lesu ini bukan hanya terjadi di Bontang. Para pengusaha di daerah-daerah lain di Kaltim rata-rata juga mengeluhkan hal yang sama. Apalagi di Bontang yang selama ini hanya mengandalkan sektor migas,” ungkapnya.
Lesunya kegiatan usaha ini juga diungkapkan Sumaryono, pedagang ayam potong di Pasar Taman Telihan. Kata dia, jumlah pesanan ayam potongnya mengalami penurunan drastis dalam kondisi defisit saat ini. Bila sebelum defisit dia bisa melayani pesanan ayam potong hingga 600 ekor dalam sehari, kini dia hanya mampu melayani sebanyak 400-an ekor.
“Permintaan dari pelanggan juga berkurang. Bila dulu dalam sehari pelanggan saya bisa memesan 35 sampai 40 ekor, sekarang ini hanya 15 sampai 20-an ekor,” kata Sumaryono.
Penurunan permintaan ini kata dia sudah terjadi sejak pertengahan tahun lalu. Karena itu dia saat ini lebih fokus bertahan dalam bisnisnya ketimbang mengejar omzet. Sama seperti Rustam, Sumaryono menyebut menurunnya pendapatan ini dikarenakan daya beli masyarakat yang menurun setelah terjadinya defisit. Belum lagi faktor-faktor lainnya seperti bertambahnya kompetitor dan juga penjualan secara online.
“Pedagang di sini banyak yang mengeluhkan kondisi ini. Makanya saya bilang bisa bertahan saja sudah bagus. Karena itu saya berusaha untuk tetap memberikan pelayanan yang terbaik dan menjaga komunikasi dengan pelanggan-pelanggan saya,” tandasnya. (luk)






