• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Xinjiang

by M Zulfikar Akbar
8 Maret 2019, 09:58
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
DAHLAN ISKAN

DAHLAN ISKAN

Share on FacebookShare on Twitter

Erfan Hezim sudah terlihat merumput lagi. Di dunia sepakbola istilah ‘merumput’ artinya turun ke lapangan. Main bola lagi.

Erfan adalah bintang muda satu-satunya: dari Xinjiang. Sejak tahun 1955 Xinjiang jadi daerah otonom di Tiongkok. Lantaran kekhasan suku terbesarnya: Uyghur. Dan mayoritas agamanya: Islam.

Baliknya Erfan ke lapangan menjadi berita penting. Beberapa waktu lamanya ia tidak terlihat di lapangan. Ia dikabarkan harus ikut ‘penataran P7’. Istilah saya untuk program indoktrinasi ideologi negara di sana. Yang kelihatannya lebih berat dari P4. Yang pernah saya ikuti di zaman Orde Baru dulu.

Begitu banyak warga Xinjiang yang harus menjalani begituan. Semua dirahasiakan. Tidak ada yang tahu. Apakah yang sebenarnya terjadi? Sampai dunia menyorotinya. Termasuk  dunia Islam.

Erfan termasuk yang dicari-cari selama masa menghilangnya. Ke mana gerangan ia. Yang mempertanyakan itu termasuk dunia sepakbola internasional. Ibunya pun tidak tahu di mana ia. Anak berumur 20 tahun itu hanya pulang sebentar. Saat liburan kompetisi liga sepakbola di Tiongkok. Selama musim dingin yang bersalju.

Kampung halaman Erfan adalah Darbiljin. Lebih pelosok dari pelosok. Di Kabupaten Tacheng, Xinjiang.
Di mana itu? Jauuuuh sekali. Saya sudah pernah ke Xinjiang. Yang begitu jauh. Tapi belum pernah ke Tacheng. Yang lebih jauh lagi. Yang letaknya persis di perbatasan dengan Kazakstan.

Ia anak  tunggal. Main sepakbola sejak umur 15 tahun. Bakat sepakbolanya luar biasa. Sampai masuk tim nasional Tiongkok. Untuk kategori junior.

Baca Juga:  Menusuk Rindu

Dua tahun lalu Erfan sudah diikutkan perlawatan ke Spanyol. Selama 10 hari. Lalu ke Dubai. Ia tampil brilian. Lalu dikontrak oleh klub profesional dari Nanjing: Jiangsu Sainty FC. Meski usianya masih terlalu muda.

Waktu dimasukkan P7 status Erfan adalah pemain depan Jiangsu FC. Kini ia sudah bersama-sama teman timnya lagi. Liga sepakbola Tiongkok memang baru saja dimulai lagi. Minggu lalu. Jiangsu menjadi tuan rumah. Untuk pertandingan pertama musim ini. Jiangsu menang 3-2 lawan tim ‘kampung saya’ Tianjin. Saya lihat Erfan belum diturunkan.

Xinjiang punya sejarah panjang. Yang ruwet. Xinjiang menjadi bagian Tiongkok sejak dinasti Qing. Di tahun 1759. Sejak raja Islam di sana  menyerahkannya ke kaisar  Qing. Daripada jatuh lagi ke suku Dzung. Yang sudah nyaris menjatuhkan raja Burhanuddin.

Turki lah yang berjasa mengislamkan wilayah itu. Nama kawasan ini pun pernah disebut Turkistan. Xinjiang begitu luasnya. Tapi hanya 9 persen dari buminya yang bisa dihuni manusia. Sisanya gurun pasir. Dan gunung batu. Sangat panas di bulan Agustus. Sangat dingin di bulan Januari.

Xinjiang-lama juga tidak pernah menyatu dalam satu pemerintahan. Banyak penguasanya. Setiap suku punya daerah kekuasaannya sendiri. Saling perang pula. Setidaknya ada 9 suku yang saling berebut kuasa. Yang terbesar adalah suku Uyghur.

Banyak di antara tokoh masa lalunya yang sebenarnya idealis. Menginginkan agar Turkistan bersatu. Menjadi satu negara Islam yang rukun. Tapi tidak pernah kesampaian.

Baca Juga:  Pedicure Terpaksa

Begitu banyak kekuatan asing yang ikut bermain. Pun di zaman baheula: Rusia, India, Pakistan, Afganistan, Mongolia sampai ke Inggris.

Begitu sulitnya kelompok-kelompok Islam di sana bersatu. Kekuasaan telah mengalahkan ukhuwah Islamiyah. Pun zaman sekarang. Di mana pun.

Sampai-sampai pernah ada ide unik di Xinjiang. Sebuah ide yang sebenarnya ‘out of the box’. Para pimpinan Islam di sana membuat usul: bagaimana kalau semua suku Islam di sana  mengalah. Menyerahkan jabatan kepala negara kepada  orang luar. Sekalian agar bisa merukunkan mereka. Agar tidak ada lagi yang rebutan kekuasaan.

Kebetulan sekali. Waktu itu, awal tahun 1900-an, seluruh dunia Islam lagi gempar. Membicarakan adanya orang Inggris yang masuk Islam. Orang kulit putih. Kaya raya. Pedagang besar. ‘Raja’ bisnis kulit di Inggris.
Namanya: Beltram Sheldrake. Semangat keislamannya luar biasa pula.

Orang inilah yang membangun masjid di Inggris. Sekaligus. Di beberapa lokasi. Secara bertahap. Juga mendirikan masjid di Perancis. Di Belanda. Di Jerman.

Namanya menjadi pahlawan di dunia Islam. Mulai dari dunia Arab, Afrika Utara, Persia, India sampai ke Asia Tenggara. Ia diundang ke mana-mana. Untuk memberikan ceramahnya.

Para pemimpin Islam di Turkistan (Xinjiang) juga membicarakannya. Lalu muncullah ide out of the box itu: Sheldrake saja yang sebaiknya menjadi raja Islam di Xinjiang.

Baca Juga:  Ketika Erika Ingin Wortel yang Pendek

Maka diutuslah delegasi ke Inggris. Membawa banyak oleh-oleh khas Xinjiang.

Delegasi itu melamar Sheldrake. Untuk menjadi raja mereka. Ceritanya panjang sekali. Pun banyak versinya. Singkatnya: Sheldrake  bersedia.

Kebetulan ia akan melakukan perjalanan ke Asia Tenggara. Ke tanah Melayu. Lalu ke Jepang. Ia berjanji akan ke Beijing. Untuk membicarakan lebih detail tentang rencana itu.

Waktu di Beijing lebih banyak tokoh Islam yang bisa hadir. Mereka sepakat mengangkat Sheldrake menjadi raja Xinjiang. Dengan gelar Raja Khalid Sheldrake.

Berita itu mulai menyebar ke Xinjiang. Meluas. Dengan pro dan kontranya. Menghebohkan para penguasa lokal di sana. Ada yang setuju. Ada yang tidak. Ada yang mengancam. Ada yang akan membunuhnya.
Istri Sheldrake sudah terlanjur menyusul ke Beijing. Dengan gelar Queen Ghazi.

Maka Raja dan Ratu baru ini berangkat ke Xinjiang. Naik onta. Berduyun-duyun. Melewati gurun yang mahaluas.
Di Xinjiang sendiri situasi kian panas. Pro-kontra tidak terkendali.

Akhirnya Raja Sheldrake tidak jadi meneruskan perjalanan itu. Tidak sampai ke Kasghar. Ibukota Xinjiang lama.
Apa pun, Sheldrake sempat menjadi raja Islam di Xinjiang. Dengan nama kerajaannya: Islamistan. Meski hanya untuk beberapa hari. Meski belum sampai menduduki tahtanya. Bahkan belum sampai ke sana.

Tahun 1944 Raja Khalid Sheldrake dan Queen Ghazi balik ke Inggris. Kembali menekuni bisnisnya. Dan tetap menjadi tokoh Islam di seluruh Eropa. (DIS)

Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Tit-for-Tat

Next Post

Bu Ani Siap Terima Donor Sumsum Tulang dari Adiknya

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.