bontangpost.id – Persentase penduduk miskin di Kaltim pada Maret 2022 tercatat sebesar 6,31 persen, meningkat 0,04 poin persen terhadap September 2021 dan menurun 0,23 poin persen terhadap Maret 2021. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 236,25 ribu orang, meningkat 3,12 ribu orang terhadap September 2021 dan menurun 5,52 ribu orang terhadap Maret 2021.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana mengatakan, secara umum pada periode September 2015–Maret 2022, tingkat kemiskinan di Kaltim naik baik dari sisi jumlah maupun persentase. Hal itu menggambarkan masih dirasakan dampak pandemi Covid-19 dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kaltim dalam kurun dua tahun terakhir.
“Persoalan kemiskinan bukan hanya berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan juga tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” tuturnya, Jumat (15/7).
Dia menjelaskan, indeks kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.
Pada periode September 2021–Maret 2022, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan mengalami penurunan. “Indeks kedalaman kemiskinan pada Maret 2022 sebesar 0,989, turun dibandingkan September 2021 yang sebesar 1,037. Demikian juga dengan indeks keparahan kemiskinan, pada periode yang sama mengalami penurunan dari 0,231 menjadi 0,226,” ungkapnya.
Menurut dia, jumlah orang miskin diukur dari garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum, kebutuhan makanan dan nonmakanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Garis kemiskinan pada Maret 2022 sebesar Rp 728.208 per kapita per bulan. Dibandingkan September 2021, garis kemiskinan naik sebesar 3,55 persen. Sementara jika dibandingkan Maret 2021, terjadi kenaikan sebesar 5,69 persen.
Dengan memerhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan.
Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2022 sebesar 70,57 persen, lebih dari sumbangan GKBM terhadap GK yang hanya sebesar 29,43 persen. Pada Maret 2022, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama.
“Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 14,88 persen di perkotaan dan 17,41 persen di perdesaan. Sedangkan komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, listrik, bensin, pendidikan, dan air,” pungkasnya. (ndu/k8)







