BONTANGPOST.ID, Bontang – Ketiadaan pagar di SMP Negeri 8 Bontang Selatan membuat pengawasan terhadap aktivitas siswa menjadi tantangan tersendiri. Lingkungan sekolah yang cukup luas dan berbatasan dengan kawasan hutan membuat akses keluar-masuk lebih sulit dikendalikan.
Guru SMPN 8 Bontang Selatan Rosidah mengatakan kondisi tersebut cukup berpengaruh terhadap pengawasan lebih dari 400 siswa. Saat tidak ada pembatas, siswa lebih leluasa keluar dari area sekolah sehingga keberadaan mereka tidak selalu mudah dipantau.
“Kalau misalkan kita punya pagar dinilai anak-anak, baik itu kegiatan keagamaan atau keseharian, lebih aman. Karena sekolah kami luas, anak-anak lari saja tidak kelihatan sudah,” ungkapnya.
Menurut Rosidah, persoalan bukan hanya menyangkut pergerakan siswa. Sejumlah fasilitas dan hasil kegiatan pembelajaran di lingkungan sekolah juga ikut terdampak karena area sekolah mudah diakses dari luar.
Ia mencontohkan tanaman yang dirawat siswa sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran bertanam. Tanaman tersebut beberapa kali diambil oleh orang dari luar sekolah.
“Karena tidak ada pagarnya, oknum-oknum di sekitar sini yang panen. Kadang sore anak-anak mau main di sekolah, ada dari luar yang sudah memakai sekolah kami,” tandasnya.
Kondisi tersebut kini menjadi perhatian DPRD Bontang. Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang Heri Keswanto mengatakan kebutuhan pagar perlu segera dicarikan jalan keluar, terutama untuk mengurangi risiko siswa keluar dari lingkungan sekolah tanpa pengawasan.
Ia menyebut persoalan tersebut akan dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk melihat kemungkinan penyediaan anggaran.
“Nanti kita diskusikan sama tim TAPD solusinya bagaimana, karena memang urgensinya pagar ini,” kata Heri.
Heri menilai pemerintah tidak harus langsung menunggu pembangunan pagar permanen apabila kebutuhan tersebut belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Menurutnya, pembatas sementara dapat dipasang lebih dahulu pada bagian yang dianggap rawan.
“Kalau bisa, pagar sementara dulu kita upayakan pagar seng,” lanjutnya.
Ia mengatakan pagar dibutuhkan bukan hanya untuk membatasi akses, tetapi juga membantu sekolah menjaga keamanan siswa mengingat luas lingkungan SMPN 8 Bontang Selatan.
“Supaya ada menghalangi dulu sementara, kan anak-anak enggak keluar masuk,” terangnya.
DPRD selanjutnya akan membahas kebutuhan tersebut bersama TAPD untuk menentukan bentuk penanganan yang paling memungkinkan. Sementara bagi pihak sekolah, keberadaan pagar diharapkan dapat memberikan pembatas yang jelas antara area sekolah dengan lingkungan sekitar sekaligus membuat kegiatan siswa lebih mudah diawasi. (*)







