• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Bela Adat Kutai, Kumpulkan Tanda Tangan 

by BontangPost
7 Agustus 2017, 19:18
in Kaltim
Reading Time: 4 mins read
0
DUKUNGAN: Warga Kutai berkumpul untuk mengumpulkan tanda tangan menentang penistaan adat dan budaya.(LUKMAN/METRO SAMARINDA)

DUKUNGAN: Warga Kutai berkumpul untuk mengumpulkan tanda tangan menentang penistaan adat dan budaya.(LUKMAN/METRO SAMARINDA)

Share on FacebookShare on Twitter

Penistaan Tradisi Belimbur Sakiti Warga

SAMARINDA – Dugaan penistaan adat dan budaya Kutai dalam tradisi Belimbur pada Festival Erau di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membuat masyarakat Kaltim gerah. Khususnya warga Kutai yang berada di wilayah Tenggarong dan Samarinda. Makanya, sejumlah warga berinisiatif melakukan aksi pengumpulan tanda tangan menuntut pelaku penistaan diproses hukum.

Kegiatan pengumpulan tanda tangan mulai dilakukan pada Sabtu (5/8) lalu. Bertempat di Gelanggang Olahraga (GOR) Sempaja, sejumlah warga Kutai dari Samarinda dan Tenggarong melakukan aksi pembubuhan tanda tangan. Tanda tangan dikumpulkan dalam buku besar sejak pukul 15.00 Wita.

Edy Susanto, inisiator dan koordinator aksi menyebut, pengumpulan tanda tangan ini dilakukan menindaklanjuti postingan akun bernama “Pelita Senja” di Facebook yang dianggap telah menciderai adat dan budaya Kutai. Yaitu tradisi Belimbur yang menjadi penutup Festival Erau 30 Juli lalu.

Dalam postingannya, pemilik akun yang mendeskripsikan diri sebagai “Hantu Kacak” mengunggah foto Belimbur dengan tulisan “Hari Di mana Seluruh Pria Menyakiti Wanita Secara Terbuka dan Lazim Secara Tradisional”. Kalimat inilah yang memantik amarah masyarakat khususnya warga Kutai.

“Postingan itu sangat menyakiti kami sebagai orang Kutai, khususnya yang tinggal di Samarinda dan Tenggarong. Dalam tradisi orang Kutai, bahkan di daerah mana saja di Indonesia tidak ada dan tidak dibenarkan pelecehan seperti yang dituliskan akun tersebut,” jelas Edy.

Kata dia, sebelumnya warga telah memberikan semacam ultimatum kepada pemilik akun untuk memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Namun belum ada itikad baik dari yang bersangkutan. Malahan permintaan maaf yang diunggah melalui akun facebook seakan-akan menyalahkan pemerintah, keraton, dan masyarakat Kukar karena dianggap membiarkan pelecehan dalam tradisi Belimbur.

“Saya bersama saudara-saudara saya, teman-teman orang Kutai merasa hati tergerak karena Belimbur merupakan tradisi leluhur kami,” tambahnya.

Baca Juga:  PKB Tidak Mau Ingkar, Tetap Pada Paket Jaang-Rizal

Edy menyebut, tanda tangan yang dikumpulkan ditujukan untuk mendukung pihak kesultanan dan kepolisian. Agar bisa menindaklanjuti kasus penistaan ini sampai ke jalur hukum. Sebenarnya sudeah ada warga Kutai yang melaporkan kasus ini ke kepolisian. Namun, pelaporannya dilakukan di Polres Samarinda. Sementara laporan ke Polres Kukar sebagai tempat kejadian perkara belum dilakukan.

“Maksud kami, setelah tanda tangan terkumpul dan disepakati, selanjutnya mungkin paling lambat Senin sore kami melaporkan ke Polres Kukar. Karena tempat kejadian perkara di sana,” beber Edy.

Pelaporan yang dilakukan nantinya bukan hanya terhadap pemilik akun “Pelita Senja” yang dianggap telah melecehkan adat. Melainkan juga melaporkan para pelaku pelecehan dalam pelaksanaan Belimbur. Yaitu orang-orang tidak bertanggung jawab yang mengambil kesempatan dalam acara Belimbur dengan melecehkan perempuan-perempuan yang melintas.

“Kan ada barang bukti berupa video dan foto. Saya rasa kepolisian bisa cepat mengusut, mungkin laporan saja yang belum masuk,” imbuhnya.

Khusus untuk pelecehan adat yang dilakukan pemilik akun “Pelita Senja”, bila memungkinkan bukan hanya diselesaikan melalui jalur hukum. Melainkan juga dengan hukum adat. Kata dia, siapapun yang hidup di Kaltim mesti menjunjung adat istiadat yang berlaku di Kaltim. Khususnya adat Kutai mengingat menurut sejarah Kaltim berada di wilayah Kerajaan Kutai.

“Yang kami minta cuma di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tidak ada yang lain. Kami ini tidak suka cari perkara. Cuma kami ini warga Kutai ya Jangan dipancing,” tegas Edy.

Informasi pengumpulan tanda tangan ini sendiri disebarkan melalui Facebook. Sejumlah warga Kutai dari Samarinda dan Tenggarong datang ke GOR Sempaja Sabtu kemarin untuk membubuhkan tanda tangan. Bahkan kerabat Kesultanan Kutai ikut hadir dalam aksi ini. Targetnya, aksi ini mampu mengumpulkan seribu tanda tangan. Pengumpulan dilakukan dengan cara bergerilya menemui warga.

Baca Juga:  Meriahkan HUT ke-72 RI, ASTON Gelar Upacara dan Berbagai Lomba 

“Malahan informasinya teman-teman di Kaltara juga melakukan aksi serupa. Termasuk juga di Bontang. Mudah-mudahan ini bisa jadi respon yang baik,” ujarnya.

Diakui Edy, masyarakat Kutai menyayangkan adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Yaitu yang mengambil kesempatan dalam acara Belimbur dengan melecehkan perempuan yang melintas. Karenanya ada hikmah dalam kasus “Pelita Senja” sebagai momentum mengurangi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam Festival Erau.

“Harapannya hal-hal buruk jadi semakin berkurang. Mudah-mudahan dari tahun ke tahun jadi lebih baik. Itulah keinginan kami,” pungkas Edy.

Minta Aparat Bertindak

ADANYA oknum-oknum tak bertanggung jawab dalam kegiatan Belimbur penutup Festival Erau di Tenggarong, 30 Juli 2017 lalu disesalkan banyak pihak. Pasalnya, oknum yang melakukan pelecehan dengan menyentuh badan warga saat Belimbur dianggap memunculkan citra buruk terhadap tradisi ini. Karena itu aparat kepolisian diminta menindak para pelaku tersebut.

Hal ini diungkapkan Raden Dedy, kerabat Kesultanan Kutai yang datang dari Tenggarong ke GOR Sempaja untuk ikut mengumpulkan tanda tangan. Kata Dedy, pengamanan Festival Erau termasuk pelaksanaan Belimbur diserahkan kepada aparat keamanan. Akan tetapi, bukan hal mudah melakukan pengawasan di tengah banyaknya pengunjung yang hadir di Tenggarong.

“Kenyataannya di lapangan, pengunjung yang datang tempo hari begitu banyak. Ya pasti adalah yang kecolongan. Dan saya yakin para pelaku merupakan orang-orang yang tidak mengerti tentang budaya,” ungkap Dedy.

Sebagai pemilik kebudayaan, kesultanan mengimbau aparat tetap menertibkan dan memberikan sanksi kepada para pelaku pelecehan. Karena menurut Dedy, kasus pelecehan masuk dalam ranah tindak pidana. Kata dia, kerabat kesultanan siap membantu terkait pelaporannya bila memang ada bukti yang cukup untuk itu.

Baca Juga:  Pilbup PPU Terkendala Teknis

“Dengan kejadian ini kami mengambil hikmah. Artinya masih ada masyarakat Kutai yang mencintai budayanya. Untuk laporan, kami siap membantu kawan-kawan yang melaporkan bila bukti memang cukup. Intinya kami masih menghormati hukum dan aparatnya,” beber Dedy.

Karena itu dia berharap kejadian ini menjadi tonggak kebangkitan masyarakat Kutai. Agar masyarakat semakin mencintai budaya. Sehingga bisa menciptakan etos kerja yang baik dalam kehidupan.

Sementara itu Rudi Siswandi dari Keroan Pemuda Koetai 7 Benua (KPK-7B) meminta semua ormas kedaerahan untuk terus menjaga budaya Kaltim. Dia meminta semua ormas tersebut menyatukan suara untuk memperkuat adat Kutai. Adapun untuk kasus penistaan adat, Rudi meminta kepolisian untuk segera memrosesnya secara hukum.

“Kami minta agar kepolisian segera mengusut oknum-oknum yang kemarin merusak acara Erau. Ataupun yang menggungah di dunia maya agar segera diproses. Kami akan terus mengawasi, dan mungkin ada beberapa oknum yang akan kami antar laporannya besok (hari ini, Red.),” beber Rudi.

Untuk diketahui, Belimbur merupakan tradisi saling menyiram air bersih yang sudah berlangsung ribuan tahun. Tradisi ini punya makna penyucian diri masing-masing individu. Sayangnya tradisi ini tercoreng oleh aksi oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan pelecehan pada warga yang melintas di jalan saat Belimbur berlangsung.

Ditambah lagi muncul oknum warga yang mengunggah postingan di jejaring sosial facebook yang menyebut Belimbur sebagai hari menyakiti perempuan secara tradisional. Unggahan inilah yang lantas menyulut emosi masyarakat Kaltim khususnya warga Kutai. Akun bernama “Pelita Senja” yang mengunggah pun mendapat banyak tanggapan negatif dari warganet di media sosial.  (luk)

Tags: Metro SamarindaPenista Adat
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Empat Murid MAN Bontang Dilepas 

Next Post

Mengenal Sosok GM Grand Kartika: Armunanto (1); Bermodal Buku Manajemen, Sukses Rintis Karir di Dunia Perhotelan

Related Posts

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah
Kaltim

Kontrak LNG Habis, Isran: Tak Masalah

23 Desember 2018, 16:30
Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 
Kaltim

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh 

22 Desember 2018, 16:30
Pemprov Ingin Pembangunan Masjid Tetap Dilanjutkan, Kinibalu Bakal Dicarikan Pengganti 
Kaltim

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

22 Desember 2018, 16:10
Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat
Kaltim

Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat

22 Desember 2018, 16:00
Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 
Kaltim

Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar 

21 Desember 2018, 16:30
2019, Ekonomi Tumbuh Lambat 
Kaltim

2019, Ekonomi Tumbuh Lambat 

21 Desember 2018, 16:20

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0
  • (1) Madura United vs Borneo FC (1)  Penuhi Target

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.