SANGATTA – Mata masyarakat Kaltim saat ini tengah fokus mengarah ke Kapolda. Pasalnya, Kapolda dinilai terlibat langsung dalam Pilkada Kaltim 2018 mendatang. Tentu saja aksi tersebut menjadi sorotan.
Ketua Sapma Kutim, Avivurrahman menuturkan, tak sepantasnya Kapolda melakukan pertunjukkan tersebut secara nyata. Sebab statusnya saat ini masih menjabat sebagai Kapolda yang fokus utama ialah melindungi dan mengayomi masyarakat.
“Beliau (Kapolda) masih aktif di kepolisian. Tentu saja menurut saya hal ini melanggar estetika dan etika. Tentu hal ini tidak sepatutnya dilakukan,” ujar Aviv.
Silahkan saja Kapolda mensosialisasikan diri untuk bertarung dalam Pilgub mendatang. Dengan catatan, mengundurkan diri sebagai Kapolda. Cara demikian lebih baik dan pastinya tidak menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat.
“Jika mau (jadi calon gubernur), etikanya harus mundur dulu (dari Kapolda). Jadi tidak ada permasalahan. Inikan tidak, beliau masih aktif menjadi Kapolda kita,” katanya.
Jikapun belum mengundurkan diri, diharap Kapolda tidak melakukan pandangan politik yang menggambarkan dirinya akan maju dalam Pilkada nanti.
“Kami hanya berharap tidak menimbulkan pandangan negatif saja dari masyarakat. Kemudian, jikapun akan maju baiknya mengundurkan diri saja,” pintanya.
Tidak hanya Aviv, warga lainnya juga berpandangan sama. Apa yang dilakukan Kapolda dianggap kurang baik. Karena sudah menimbulkan kontroversi. Bahkan cenderung mengarah ke pandangan negatif.
“Kalau saya memandang, jika mau maju di Pilgub baik mundur saja. Kalau enggak mau mundur enggak usah kampanyekan diri. Biarkan saja parpol yang menilai dan memilih pada waktunya. Tidak perlu memperkenapkan diri,” kata Rian, salah seorang warga Sangatta.
Mencuatnya kritik ini saat Kapolda Kaltim melakukan safari di beberapa daerah. Diantaranya Kutim. Selain itu, adanya video Kapolda yang menyatakan dirinya sebagai calon Gubernur dan Syahri Jaang sebagai wakilnya. (dy)







