Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Kutim, terus berperan megendukasi masyarakat tentang penyakit TB. Bahkan PPTI siap membuat program baru untuk terus meminimalisir angka penularan.
Recana itu didapat dari hasil kunjungan PPTI ke kota Cimahi pekan lalu. Rupanya kota ini dianggap berhasil mengurang angka penularan TB, makanya menjadi tunjuan bagi PPTI Kutim untuk belajar.
“Data Sistem Informasi Terpadu Tuberkulosis (SITT) yang ada di Dinas Kesehatan Kutai Timur, mencatat jumlah penemuan kasus TB semua tipe baru mencapai 461 kasus, dari 749 kasus yang ditargetkan pada 2017 atau masih 62 persen dari target 85 persen. Usaha penemuan kasus TB di Kutim, juga masih belum cukup untuk menghentikan penularan TB. Sehingga kita perlu mengetahui cara daerah lain menekan angka penyebaran TB. Salah satunya Kota Cimahi,” kata Ketua PPTI Kutim Hj Satriani Kasmidi Bulang.
PPTI Kutim, lanjut Satriani, juga telah membentuk kader Pengawas Menelan Obat (PMO) di beberapa desa dan kelurahan, yang selanjutnya akan terus merambah ke kecamatan lain hingga ke 18 kecamatan se Kutim. Para kader tak hanya mendampingi penderita agar rutin meminum obat dan mencari temuan penderita, tapi juga menggelar sosialisasi ke sekolah-sekolah, mulai tingkat SD sampai SMU. “Kami berusaha menggandeng seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah penularan TB bersama-sama. Para pelajar di sekolah, kita ajak hidup sehat dengan lingkungan yang sehat, dengan harapan bisa ditularkan juga di rumah serta lingkungan rumah,” kata Satriani.
PPTI Kutim, kata Satriani yang juga didampingi Sekretaris PPTI Artati Andi Nonci tertarik dengan program Gerakan Pemeriksaan Dahak (Gebrak) yang mungkin bisa diterapkan di Kutim. Agar bisa menaikkan tingkat temuan penderita TB.
Kunjungan kala itu diterima Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemkot Cimahi Hj Mariana, Plt Ketua PPTI Cimahi, dr Wahyu serta jajaran pengurus lainnya di Gedung B Pemkot Cimahi.
“Cimahi kota kecil padat penduduk. Buka pintu sudah rumah tetangga. Kalau ada TB, tak perlu bom untuk menghancurkan kota Cimahi. Satu orang bisa menularkan ke berapa orang, dalam waktu berapa hari. Betapa cepatnya,” ungkap Mariana.
Untuk itu, kata Mariana, PPTI Kota Cimahi membentuk kader-kader PMO di seluruh Puskesmas, untuk melakukan langkah-langkah pencegahan TB.
“Kader-kader di lapangan benar-benar mendampingi penderita untuk minum obat secara teratur. Karena tak semua penderita tetap semangat minum obat. Ada yang sudah putus asa, kemudian malas. Tapi bagaimana mereka yang malas dan putus asa tetap rutin minum obat tentu kader PMO ini yang terus dikuatkan,” ujar Mariana.
Selain itu, untuk menekan angka penularan TB, Pemkot Cimahi juga meluncurkan program Gerakan bersama Periksa Dahak (Gebrak) di Puskesmas. “Progam dilakukan dengan pemeriksaan dahak ke puskesmas, bila ada warga yang diduga menderita TB,” ujar Mariana. (hd/ril/ser)







