PENULIS:
Ufqil Mubin
Wartawan Metro Samarinda
MAR’I pernah sesumbar berujar, “pemerintah juga punya hutang. Kita sebagai rakyat tidak boleh meminta bantuan pemerintah.” Sekilas, ungkapan tersebut menunjukkan, betapa besar pondasi kemandirian yang tertanam dalam jiwa Mar’i.
Suatu hari dia pernah mendapat bantuan beras dari pemerintah. Ia tak enak hati. Kepada Sriwati, dia menyuruh supaya beras itu dikembalikan. Tapi istrinya bersih tegas menahan beras itu, karena menurutnya itu adalah bantuan berupa amanah dari pemerintah.
Saat pemerintahan Jokowi menerbitkan bantuan subsidi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Mar’i pernah kebagian. Namun ketika ketua RT meminta kartu keluarganya didata untuk mendapatkan kartu tersebut, dia menolak.
Satu waktu, kartu keluarga Mar’i habis masa aktifnya. Ketua RT 12 Kelurahan Sei Pinang Luar Samarinda Kota, pernah berang karena Mar’i masih memegang kartu keluarga dan kartu tanda penduduk keluaran zaman Megawati. Padahal, kartu-kartu itu beberapa kali diganti, bahkan sudah dialihkan jadi e-KTP.
Namun begitulah Mar’i, dia tipe laki-laki yang tidak senang berurusan dengan administrasi pemerintah. Mungkin dia berpikir, kehidupannya bisa tetap berjalan tanpa uluran tangan pemerintah.
Mar’i paling tidak senang menerima pemberian, walau itu dari keluarga dan saudarnya. Baginya, menerima pemberian sama saja menjatuhkan marwah pribadinya di hadapan manusia.
Ia tipe orang tua yang sangat giat bekerja. Dia tidak suka berpangku tangan, menunggu belas kasihan dari orang lain. Apalagi menunggu uluran tangan dari pemerintah. Itu jauh dari kamus kehidupan Mar’i. Tak heran, saban hari dia berjualan, beternak, dan berladang.
Di belakang rumahnya, terdapat Sungai Karang Karang Mumus. Sesekali Mar’i mencari ikan. Jika purnama sedang berpihak kepadanya, ia pulang membawa banyak ikan. Ikan itu dijual di pasar.
Tak berhenti sampai di situ, bila ada sawah atau ladang kosong dari warga, Mar’i menanam beragam jenis tanaman: cabai, kangkung, singkong, dan padi. Penghasilan dari pekerjaan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.
Karena keteguhannya dalam bekerja, seluruh buah hatinya disekolahkan di lembaga pendidikan unggulan di Samarinda. Prinsipnya, walau miskin, pendidikan anak adalah yang paling utama.
Anak-anak Mar’i tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang mengedepankan pendidikan. Tak heran, di sekolah, Idah dan Siah masuk dalam jajaran murid berprestasi, disegani, dan dihormati. Semua itu didapatkan karena kerja keras mereka menelaah buku-buku pelajaran, kepiawaian, dan penghormatan tulus terhadap guru.
Namun semua itu menjadi sirna kala kedua anak itu jatuh sakit, mengidap sakit jiwa yang sangat akut. Akhirnya, penyakit jiwa yang dialami Siah dan Idah membawa banyak dampak serius bagi Mar’i dan Sriwati. Pelan tapi pasti, pendapatan Mar’i berkurang. Sebabnya, perhatiannya lebih banyak diarahkan kepada anak-anaknya yang sedang sakit.
Ditambah lagi, Sriwati, perempuan yang selama ini menopang seluruh langkahnya telah dipanggil ke hadirat Tuhan. Maka, lengkaplah penderitaan Mar’i. Tiap hari, dia harus menahan tekanan jiwa karena kepergian istrinya. Ia juga harus menerima banyak cemoohan warga karena anak-anaknya satu per satu mengidap penyakit jiwa.
Siah, si bungsu yang belakangan terkena penyakit jiwa, pernah berjalan sendiri menyusuri Kota Samarinda. Dia memakai pakaian lusuh. Tak membawa bekal berupa uang dan makanan. Berhari-hari tak pulang. Mar’i kelabakan, takut anaknya diganggu orang.
Tak habis pikir, Mar’i kemudian berjalan dari satu kelurahan ke kelurahan lain. Ia bertanya kepada setiap pedagang di pinggir jalan. Beruntung, ia mendapat bantuan aparat kepolisian. Seorang polisi sempat melihat langsung putrinya.
Anak malang itu diboyong ke rumah. Awalnya dia tidak mau pulang karena senang hidup di jalan. Dia diangkut menggunakan mobil aparat. Hati Mar’i teriris. Tak tega melihat anaknya diangkut laksana penjahat kelas wahit.
Di hadapan warga, Siah sering bilang bahwa ia sudah menikah dengan seseorang.
“Siapa suamimu?” tanya seorang warga.
“Suamiku hidup di air,” demikian jawab Siah.
Benar, kian hari tubuhnya membesar bak seorang perempuan yang sudah memiliki anak. Sesekali dia mengisahkan kepada tetangga terdekat bahwa ia sudah memiliki seorang anak, buah pernikahannya dengan “makhluk dari alam ghaib.”
Saban pagi dia membawa sepotong kayu, menggendongnya bak seorang bayi. Kala siang hari, kayu itu diberikan susu yang dia beli dari kios terdekat. Potongan kayu itu diperlakukan layaknya seorang bayi yang baru saja dilahirkan.
Warga setempat menganggap itu hal biasa. Bukan menjadi rahasia lagi, Siah sudah mengidap penyakit jiwa yang akut. Maka wajar dia memiliki perilaku di luar nalar logis manusia waras.
Melihat kehidupan Mar’i, kita mungkin tercenung. Betapa bertahun-tahun dia harus hidup dalam kubangan beban berat yang menekan fisik dan jiwanya. Walau sekuat apapun, dia tetaplah manusia yang memiliki weakness. Karena, ujian hidup yang dialaminya sudah berada di luar jangkauan nalar logis manusia.
Mungkin sudah waktunya, ia membuka diri dari bantuan pemerintah. Supaya anak-anaknya mendapat perawatan yang layak. Begitu juga dengan pemerintah, harus ada langkah konkret yang diambil untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi keluarga itu.
Bila dulu putri-putri Mar’i pernah “diusir” dari rumah sakit jiwa karena berbagai alasan, sudah saatnya pemerintah bergerak, mengurai masalah yang dihadapai Mar’i dan keluarganya. Hanya dengan cara itu, anak-anak yang malang itu bisa segera mendapatkan perawatan medis, hidup layaknya warga negara pada umumnya yang mendapat pelayanan pemerintah. (habis)






