SAMARINDA – Perebutan kursi kekuasaan di tanah Borneo pada perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018 diprediksi bakal berlangsung cukup ketat. Selain dikarenakan kekuatan dari masing-masing bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang diyakini sama-sama kuat. Mereka yang bertarung pada Pilgub kali ini kebanyakan wajah-wajah baru dan punya pengaruh tersendiri di masyarakat.
Empat pasangan calon (paslon) yang telah mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim awal Januari lalu, antara lain, Syaharie Jaang dan Awang Ferdian Hidayat, Rusmadi dan Safaruddin, Isran Noor dan Hadi Mulyadi, serta Andi Sofyan Hasdam dan Nusyirwan Ismail.
Dari sisi kekuatan politik, duet Jaang secara profil adalah Wali Kota Samarinda dua periode. Sedangkan pasangannya Ferdian adalah mantan anggota DPD RI dan kini menjabat anggota DPR RI. Kedua pasangan ini diusung koalisi Partai Demokrat, PKB, dan PPP.
Selain itu, keduanya juga mendapatkan dukungan dari partai Perindo dan PBB. Sedangkan duet lainnya, Rusmadi dan Safaruddin. Dari latar belakang, Rusmadi adalah mantan Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim dan Ketua Ikatan Paguyuban Keluarga Tanah Jawi (Ikapakarti) Kaltim.
Adapun sosok Safaruddin adalah mantan Kapolda Kaltim, dengan pangkat Irjen Pol. Duet Rusmadi dan Safaruddin diusung koalisi partai PDI Perjuangan dan Hanura. Adapun duet Isran Noor dan Hadi Mulyadi juga dua sosok politikus berpengalaman di Kaltim.
Isran merupakan mantan Bupati Kutim dua periode dan juga mantan ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Sedangkan Hadi Mulyadi adalah mantan anggota DPRD Kaltim dan kini dipercaya duduk di Senayan sebagai anggota Komisi VI.
Duet keduanya diusung oleh koalisi nasional tiga serangkai yakni Partai Gerindra, PAN, dan PKS. Sedangkan untuk duet Andi Sofyan Hasdam dan Nusyirwan Ismail, tampil sebagai perwakilan koalisi Partai Golkar dan NasDem. Secara profil, Sofyan Hasdam adalah mantan Wali Kota Bontang dua periode.
Selain itu, Sofyan Hasdam saat ini menjabat Pelaksana Tugas (Plt) DPD Golkar Kaltim dan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltim. Nusyirwan Ismail sendiri adalah Wakil Wali Kota Samarinda. Jabatan tersebut sudah dua kali dia duduki.
Pengamat Politik Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Budiman mengatakan, perebutan kursi panas gubernur dan wakil gubernur dapat dilihat dari karakter pemilih. Antara lain keputusan pemilih dapat ditentukan karena masyarakat melihat kapasitas, kapabilitas, dan elektabilitas paslon.
“Tapi di Kaltim, mayoritas pemilih tidak melihat kapasitas dan kapabilitas. Pemilih lebih banyak menentukan pilihan dengan melihat elektabilitas paslon,” kata Budiman ketika ditemui Metro Samarinda, Selasa (6/2) kemarin.
Sedangkan elektabilitas dapat ditentukan oleh aspek geopolitik, etnis, dan isitas (uang). Dilihat dari aspek geopolitik, setiap paslon memiliki kekuatan yang setara, baik paslon Jaang-Ferdi, Isran-Hadi, Sofyan-Nusyirwan, maupun Rusmadi-Safaruddin.
Menurut dia, secara geopolitik, Jaang semula pernah digadang-gadang sebagai kandidat kuat yang memenangkan kontestasi Pilgub Benua Etam. Namun itu dulu, ketika Jaang dikabarkan akan berpasangan dengan Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi.
Tapi belakangan, Jaang kemudian berpasangan dengan Awang Ferdian Hidayat. Ferdian secara geopolitik dinilai tidak memiliki basis massa yang cukup dominan. Selain itu, dominasi Jaang di Samarinda diyakini bakal pecah. Pasalnya, Samarinda memiliki dua calon yakni Jaang dan Nusyirwan.
“Ketika Jaang dikabarkan akan berpasangan dengan Rizal sebagai Wali Kota Balikpapan, maka dua kota yang memiliki dua suara mayoritas ini bisa kemungkinan besar akan memilih keduanya. Tetapi masalahnya Jaang tidak menggandeng Rizal,” katanya.
Suara pemilih untuk Jaang, kata dia, ketika berpasangan dengan Rizal akan mengantongi dua suara yang berasal dari Balikpapan dan Samarinda. Selain Kutai Kartanegara (Kukar), dua kota ini tercatat kantong suara mayoritas di Kaltim.
“Kalau saat itu Jaang-Rizal jadi berduet, tentu peluang kemenangan keduanya cukup besar. Tapi dengan keduanya pecah, tentu dukungan menjadi ikut pecah,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unmul itu.
Selain itu, perbedaan pilihan politik antara Jaang dan Nusyirwan juga menjadi alasan sehingga domininasi Jaang di Samarinda akan berkurang. Apalagi Nusyirwan juga ikut maju pada perhelatan Pilgub kali ini dengan menjadi wakil bagi Sofyan Hasdam.
“Padahal dalam sejarahnya diketahui Nusyirwan memiliki pendukung fanatik. Pada pemilu Samarinda lalu, suara mayoritas yang didapatkan Jaang tidak terlepas dari dukungan suara pendukung Nusyirwan,” sebutnya.
Sedangkan calon lainnya, Isran Noor dan Hadi Mulyadi, menurut Budiman, bahwa banyak kalangan yang berpandangan jika Isran memiliki kans besar mendulang suara mayoritas di daerah tersebut. “Tapi kenyataan membuktikan, istri Isran sendiri pernah mencalonkan diri sebagai bupati, tetapi akhirnya kalah. Artinya apa? Pemilih di Kutim sebagian besar berpotensi tidak akan memilih Isran dalam Pilgub nanti,” katanya.
Sedangkan untuk pasangan Sofyan Hasdam dan Nusyirwan, Budiman melihat, secara geopolitik memiliki kekuatan di dua wilayah berbeda, yakni Samarinda dan Bontang. “Bisa saya prediksi, pemilih Bontang akan memilih paslon ini. Paling kecil, mereka akan mendapat suara 80 persen di Bontang. Tetapi tidak menutup kemungkinan bisa sampai 90 persen,” sebutnya.
Alasan di balik suara mayoritas itu karena selama memimpin Bontang, Sofyan dikenal sebagai wali kota yang sukses membangun Kota Taman. Sedangkan Nusyirwan akan menyumbang suara dari pemilih yang berasal dari Samarinda. Pasalnya, pengaruh kepemimpinan Nusyirwan di Kota Tepian masih cukup besar.
“Tetapi pemilih di Samarinda akan terpecah, kemungkinan besar tidak akan bulat pada Jaang dan Nusyirwan. Karena ada pengaruh paslon lain yang akan merebut suara pemilih di Samarinda,” ucapnya.
Adapaun untuk pasangan Rusmadi dan Syafaruddin, Budiman mengatakan, secara geopolitik, kedua pasangan itu tidak mimiliki dominasi di salah satu kabupaten atau kota di Kaltim. “Mereka tidak pernah jadi kepala daerah di Kaltim. Jadi pemilih paslon ini kekuatannya tidak bisa dilihat secara geopolitik, tetapi bisa dianalisa kekuatannya dari aspek dukungan etnis mayoritas,” tuturnya.
Jika dilihat dari kecenderungan pemilih Kaltim, aspek etnis bisa lebih dominan suara akan didapatkan paslon Rusmadi dan Syafaruddin. Pasalnya, Rusmadi berasal dari etnis Jawa. Sedangkan Safaruddin berasal dari Sulawesi Selatan, etnis mayoritas kedua setelah Jawa yang menetap di Kaltim.
Wikipedia, pada 2010 pernah merilis angka penduduk berdasarkan etnis di Kaltim. Etnis Jawa menduduki posisi teratas dengan jumlah 1.069.605 atau 30,24 persen. Disusul etnis Bugis dengan jumlah 735.819 atau 20,81 pesen. Di posisi ketiga diduduki etnis Banjar dengan jumlah 440.453 atau 12,45 persen.
“Jika dilihat dari angka mayoritas penduduk pemilih di Kaltim dari segi etnis, maka pasangan Rusmadi dan Safaruddin bisa menang dalam Pilgub nanti. Ini bisa saja terjadi, karena etnis mayoritas dikabarkan akan memilih paslon ini,” ungkapnya.
Budiman mengungkapkan, secara mayoritas suara etnis Jawa akan memilih paslon tersebut. Walaupun ada sebagian kecil yang akan mengalihkan suaranya pada paslon lain. Tetapi itu hanya sempalan, tidak akan berpengaruh signifikan pada suara mayoritas etnis Jawa yang akan memilih paslon Rusmadi dan Safaruddin.
Ia kemudian menganalisa suara yang berasal dari etnis Bugis. Pilihan etnis mayoritas kedua setelah Jawa ini bakal terpecah pada dua pasangan yang berbeda. Sebabnya, ada dua orang paslon yang berasal dari etnis Bugis, di antaranya Safaruddin dan Sofyan Hasdam.
Etnis tersebut memiliki organisasi yang sangat kuat di Kaltim, yakni KKSS. Organisasi ini menjadi pemasok suara yang akan didulang setiap paslon yang berasal dari etnis tersebut. “Tetapi KKSS sendiri terpecah. Yang saya ketahui, Bugis, Mandar, dan Toraja menarik diri dari KKSS. Jadi pemilih Sofyan kemungkinan besar hanya dari etnis Makassar. Sedangkan kita tahu, Makassar di Kaltim ini jumlahnya kecil,” tandasnya. (*/um/drh)







