SAMARINDA – Kemampuan strategi kampanye dapat menjadi salah satu kunci bagi para calon untuk meraih simpati masyarakat pada perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018. Selain merujuk pada visi dan misi para calon, hubungan emosional dengan calon juga menjadi alasan masyarakat menjatuhkan pilihannya.
Pengamat Politik Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Lutfi Wahyudi melihat, pola kampanye dengan cara mengumpulkan massa dalam jumlah banyak di suatu tempat atau lokasi, sepertinya tidak akan banyak terlihat di Pilgub Kaltim kali ini.
Menurutnya, ada kecenderungan dari para bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur, atau para tim sukses memilih bergerilya langsung ke masyarakat. Terutama melalui pertemuan individu ke individu. Selain dinilai efektif, pola ini dapat membangun langsung hubungan emosional dengan pemilih.
“Kalau hanya dilihat pada pertemuan massa, sepertinya tidak banyak dilakukan. Yang banyak dilakukan adalah pertemuan individu ke individu. Tim sukses bergerak pada tataran door to door. Ketimbang mengumpulkan massa,” jelas Lutfi.
Dia mengatakan, pola mengumpulkan massa seperti kebanyakan sistem kampanye selama ini, tidak lebih hanya untuk sekedar membangun opini masyarakat. Sehingga pola tersebut dirasakan tidak efektif. Dikarenakan cara itu tidak memberikan jaminan calon akan dipilih.
“Tetapi kalau door to door, itu sudah dari hati ke hati. Biasanya itu lebih melekat ketimbang sosialiasi atau kampanye dengan mengadakan kerumunan massa. Sekarang pola mengumpulkan kerumunan massa sudah mulai ditinggalkan. Karena terbukti tidak begitu efektif,” sebutnya.
“Massa yang datang ke pertemuan atau kerumunan, floating maps atau masa mengambang. Bisa mengalir kapanpun dan kemanapun. Kalau door to door, itu by name by address. Itu biasanya dicatat oleh tim sukses. Sehingga apa keperluan orang itu bisa didata secara detil. Misalnya, kalau orang itu perlu A, di kasih A. Perlu sesuatu yang lain pun akan mudah dikasih,” sambungnya.
Selain itu, dijelaskan Lutfi, di era digital saat ini, ada tren kampanye menggunakan jejaring media sosial (medsos), ketimbang dengan kampanye menggunakan massa dalam jumlah banyak. Menurutnya, bagaimanapun kampanye melalui medsos, media televisi dan elektronik, telah menjadi media alternatif yang jauh lebih efektif.
“Orang nonton kampanye itu lebih suka lewat media elektronik. Karena memang kampanye yang lebih masif sekarang ya menggunakan media sosial. Untuk daerah perkotaan, hampir jarang terlihat kerumunan massa. Kerumunan massa itu biasanya hanya untuk melakukan hiburan kepada rakyat,” jelasnya.
Selain itu, menurut Lutfi, pola kampanye dengan kerumunan massa tidak akan efektif untuk menyampaikan program kerja, atau visi dan misi calon. Kampanye melalui pola tersebut tidak memberikan gambaran yang utuh kepada masyarakat tentang program kerja para calon.
“Kalau untuk menanamkan program-program, itu nggak mungkin. Karena justru program itu lebih tertanam lebih baik ketika itu dilakukan dengan medsos. Orang sekarang kiblatnya medsos, bukan media komunikasi langsung seperti melalui kerumunan, mimbar, dan sebagainya,” pungkasnya. (drh)







