• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Rela Jalan Kaki demi Belajar Musik, Perbedaan Karakter Jadi Tantangan

by BontangPost
17 Januari 2017, 13:01
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Muhammad Yahya Pantari(Dok Pribadi)

Muhammad Yahya Pantari(Dok Pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Muhammad Yahya Pantari (137)

Keinginan Muhammad Yahya untuk belajar musik terbilang tinggi. Pernah berjalan kaki demi bertemu sang guru, Yahya kini menjadi salah satu pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MBBPKT). Melatih di seksi perkusi atau alat pukul, setiap hari dia menghadapi kadet-kadet baru marching band kebanggaan Kota Taman.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Ketertarikan Yahya pada marching band mulai terbentuk ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu dia menyaksikan penampilan tim marching band di lapangan Tanjung Laut di dekat kediamannya. Karenanya, ketika di bangku SMP ada teman yang mengajak bergabung dengan MBBPKT, Yahya pun langsung bergabung di tahun 1995.

“Hasil seleksi saya bagus di semua alat musik. Tapi pilihan saya jatuh pada perkusi atau alat musik pukul. Kebetulan saya suka itu,” kenang Yahya.

Sebagai kadet atau pemain junior, Yahya pun mulai mengikuti latihan rutin yang digelar di GOR PKT setiap senja hari Senin dan Kamis. Bakatnya perlahan mulai tampak dan mendapat perhatian dari para pelatihnya. Sehingga, ketika tim senior kekurangan personel untuk tampil dalam kegiatan HUT RI tahun itu, Yahya dipercaya mengisi kekosongan tersebut.

“Biasanya junior mesti setahun dulu mengikuti latihan baru bisa tampil dalam tim. Tapi karena waktu itu ada salah satu pemain senior yang keluar, saya diminta untuk menggantikannya,” ungkapnya.

Pertunjukkan dalam peringatan HUT RI tersebut menjadi penampilan pertama Yahya bersama MBBPKT di depan umum. Sempat grogi, Yahya mampu mengikuti irama para pemain senior lainnya. Sejak itulah dia mulai dipercaya tampil bersama tim inti dalam setiap kegiatan MBBPKT. Termasuk mengikuti event nasional Grand Prix Marching Band (GPMB).

“Tahun 1995 saya sudah ikut bersama MBBPKT di GPMB Jakarta. Saat itu kami berhasil mempertahankan juara umum. Itu pertama kalinya saya tampil di ajang nasional dan merasakan juara,” sebut Yahya.

Sejak itu, sulung dari tujuh bersaudara ini aktif menggeluti marching band. Berbagai jenis alat perkusi sudah dijajal dan dikuasainya. Mulai dari simbal, timpani, kuarto tom-tom, dan snare drum pernah dipegangnya. Dia terlibat tampil dalam setiap event GPMB yang diikuti MBBPKT. Selama keikutsertaannya itu pula, MBBPKT selalu berhasil menjadi yang terbaik setiap tahunnya.

Baca Juga:  Meiliana, Honorer yang Sukses Jadi Sekprov Kaltim 

Bukan cuma event nasional, event internasional juga pernah dirasakan Yahya. Yaitu dalam Kuala Lumpur World Marching Band Competition (KLWMBC) di Malaysia. Dia turut ikut dalam keberhasilan MBBPKT menjadi juara ketiga di tahun 2007 dan juara kedua di 2010. Peringatan HUT RI tahun 2011 menjadi penampilan terakhirnya bersama MBBPKT dalam pertunjukkan marching band.

“Di antara event yang saya ikuti, GPMB tahun 1995 tetap jadi yang berkesan. Karena itu pertama kalinya saya ke Jakarta. Karena bentuknya lomba, jadi ada tantangan tersendiri. Kami dituntut mempertahankan gelar juara yang didapat tahun sebelumnya,” jelasnya.

Kini Yahya berfokus menjadi pelatih seksi perkusi di MBBPKT. Dia dipercaya menjadi pelatih sejak 2004. Karier kepelatihannya dirintis di tahun 2001 sebagai asisten pelatih yang merupakan proses magang menjadi pelatih. Kala itu, banyak remaja Bontang yang berminat mendaftar di MBBPKT. Karena kekurangan tenaga pelatih, Yahya pun diangkat menjadi pelatih tahun 2004.

Selain karena kebutuhan, keseriusan Yahya dalam belajar musik turut menjadi alasan pengangkatannya menjadi pelatih. Dia dilirik pelatih utama MBBPKT kala itu, Rene. Memang saat masih jadi pemain, Yahya giat belajar langsung ke Rene dan sempat bekerja membantu legenda marching band Indonesia tersebut.

“Dulu sepeda motor masih jarang ada di Bontang. Jadi setelah turun dari angkutan umum di pos PKT kilometer 6, saya jalan kaki ke rumah Rene di perumahan PC. Lumayan jauh. Di sana saya membantu Rene memindahkan notasi-notasi musik ke dalam komputer. Di situ saya sambil belajar autodidak,” ungkap pria kelahiran Bontang yang hari ini tepat berusia 35 tahun.

Awal-awal menjadi pelatih bukan hal yang mudah bagi Yahya. Karena dia mesti menyamakan teknik-teknik dari masing-masing pemain yang berada di bawah bimbingannya. Dijelaskannya, menjadi pelatih bukan sekadar mengajarkan teknik-teknik bermain alat musik. Melainkan juga bagaimana caranya menjalin kekompakan sesama anggota tim. Serta menyelesaikan berbagai masalah yang ada, mengatur kedisiplinan, dan juga organisasi antar pemain.

Baca Juga:  Ratusan Santunan Ahli Waris Belum Terbayar

“Saya sempat kesulitan untuk itu. Saya juga pernah terbawa emosi. Yaitu ketika ada training center, saya instruksikan kepada pemain untuk kumpul latihan gabungan. Mungkin karena mereka sudah lelah, saat saya perintahkan mereka malas-malasan. Akhirnya saya marahi mereka,” kisahnya.

Memang, berbagai latar belakang pemain membuat Yahya mesti bersabar dan pandai mengatur. Dia pun jadi mengenal berbagai karakter anak didiknya. Misalnya ada pemain yang bandel atau ada yang sering datang terlambat. Ada pula yang daya tangkapnya lambat, serta ada pula yang kecerdasannya melampaui pemain lain.

“Itu tantangan saya. Misalnya bila ada yang daya tangkapnya cepat, mesti saya sesuaikan dengan pemain-pemain yang lain agar seimbang,” jelas Yahya.

Selama menekuni marching band, baik sebagai pemain maupun pelatih, beragam suka dan duka telah dilalui Yahya. Hal yang terberat baginya ketika ada anggota tim yang tidak hadir latihan mendekati waktu tampil. Sebagai pelatih, dia mesti mengupayakan agar pemain tersebut dapat hadir dalam latihan. Karena latihan marching band membutuhkan konfigurasi tim secara penuh.

“Sulitnya itu bila ada pemain yang bermasalah. Kadang juga mesti dijemput ke rumah. Harus cari solusi agar mereka bisa tetap datang,” ujarnya.

Termasuk ketika akan tampil, dia mesti berlatih lebih keras untuk bisa menghasilkan penampilan yang bagus. Namun perjuangannya tersebut terbayarkan ketika MBBPKT berhasil menjadi juara. Memang sudah jadi prinsipnya siap menghadapi apapun tantangan yang ada di depannya. Bagaimanapun hasilnya nanti, yang penting dia sudah berusaha melakukan yang terbaik.

“Rasanya senang bila berhasil menang lomba. Salah satunya saat MBBPKT juara penilaian video terbaik tahun 1998 dan menjadi band of the year tahun 2001 versi World Association of Marching Show Band yang merupakan asosiasi marching band dunia,” ujar Yahya.

Baca Juga:  Berbagi Kisah dengan Alfiq Sofyan, Backpacker Kota Tepian, Jelajahi Mancanegara Bermodalkan Kemauan Tinggi,

Dia menyebut, banyak hal yang didapatkan dari kiprahnya di marching band. Karena marching band, dia menjadi pribadi disiplin yang menghargai waktu. Sebelum bergabung dengan MBBPKT, Yahya mengaku sebagai pribadi yang kurang percaya diri. Kini tampil di depan umum bukan lagi masalah baginya. Bahkan dia mengaku suka tampil beraksi di depan orang banyak.

Kebanggaan lainnya bagi Yahya yaitu bisa terlibat dalam pembuatan film “12 Menit Kemenangan untuk Selamanya” yang terinspirasi perjalanan MBBPKT. Walaupun, dia mesti ekstra bekerja hingga pukul 03.00 Wita pagi demi ikut menyukseskan pembuatan film tersebut.

“Saat awal-awal menjadi pelatih, pekerjaan saya ini sempat diremehkan teman-teman. Tapi setelah mereka tahu bahwa pekerjaan saya ini juga menghasilkan, barulah mereka bisa menyadari bahwa bekerja di bidang seni juga memiliki masa depan,” tuturnya.

Bukan hanya Yahya, semua saudara kandungnya juga pernah mencicipi pengalaman marching band di MBBPKT. Ada yang diajak olehnya, ada juga yang atas keinginan sendiri. Salah satu adiknya yaitu Hudri, pemeran Lahang dalam film “12 Menit Kemenangan untuk Selamanya” mengikuti jejaknya menjadi pelatih di MBBPKT.

Yahya sendiri sempat beberapa kali mendapat tawaran menjadi pelatih untuk marching band lain dari luar Bontang. Namun, kecintaannya terhadap MBBPKT dan juga Kota Taman membuatnya tetap bertahan. “Saya memilih tetap di MBBPKT. Saya juga ikut membantu marching band Dinas Pendidikan Kutai Timur, tapi hanya sebatas konsultan,” tutup alumnus SMAN 2 Bontang ini. (bersambung)

Nama: Muhammad Yahya Pantari

TTL: Bontang, 17 Januari 1982

Ortu: M Yusuf Pantari (ayah), Jamiah (ibu)

Status dalam keluarga: Sulung dari 7 bersaudara

Pendidikan: SD 001 Tanjung Laut (lulus 1994), SMP YPPI Bontang (lulus 1997), SMAN 2 Bontang (lulus 2000)

Alamat: Jalan WR Supratman Gang Batubira Nomor 25 RT 27 Tanjung Laut

Print Friendly, PDF & Email
Tags: kisah inspiratifwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Polling Pilgub Kaltim 2018, Rita Lompat ke Posisi Pertama

Next Post

Perjuangan Nandang Yang Jajakan Pisau hingga Tanah Seribu Sungai

Related Posts

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang
Bontang

6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang

31 Januari 2023, 16:08
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup
Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup

4 Desember 2018, 17:00

Terpopuler

  • Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    Tak Sanggup Kembalikan Rp226 Juta, “Sultan UMKM” Bontang Pilih Akui Perbuatan di Sidang Perdana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antrean Truk Solar di SPBU Tanjung Laut Bontang Kian Parah, Usaha Warga Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerindra Kaltim Semprot Rudy Mas’ud usai Bandingkan Diri dengan Hashim Djojohadikusumo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Investasi Bodong Emas Digital di Bontang, Terlapor Mulai Diperiksa Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mini Soccer HOP 1 Bontang Ditutup Mulai Mei, Proyek Lanjutan Rp17,5 Miliar Segera Dikerjakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.