• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post | Mencerdaskan dan Menginspirasi
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post | Mencerdaskan dan Menginspirasi
No Result
View All Result
Home Feature

Perjuangan Nandang Yang Jajakan Pisau hingga Tanah Seribu Sungai

by BontangPost
17 Januari 2017, 13:01
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
JALAN HIDUP: Nandang dengan barang-barang dagangannya, berbagai jenis kerajinan benda tajam. (LUKMAN/BONTANG POST)

JALAN HIDUP: Nandang dengan barang-barang dagangannya, berbagai jenis kerajinan benda tajam. (LUKMAN/BONTANG POST)

Share on FacebookShare on Twitter

 

Bersabar Dengar Protes Sang Istri, Bersyukur Bisa Tetap Makan

Pria berkumis dengan kaus abu-abu itu berdiri dari duduknya di teras masjid besar kawasan Bontang Baru. Kakinya melangkah hingga batas teras, sandal-sandal berjejer di bawahnya. Cepat diketuknya sebatang rokok di ruas dua jari tangan kanannya. Abu-abu rokok berjatuhan ke bawah, sementara kepala pria tersebut mendongak ke atas. Memastikan tetesan-tetesan air mata langit tak lagi jatuh ke bumi.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Nandang, begitu nama pria berkulit gelap itu tercetak di kartu tanda penduduk. Sudah beberapa kali pria berambut pendek nan rapi itu bolak-balik dari tempatnya duduk ke luar masjid demi membuang abu rokok yang dihisapnya. Hujan deras yang mengguyur Kota Taman sejak waktu salat zuhur membuatnya tertahan di masjid.

“Takut berkarat,” bisiknya lirih seraya menunjuk sebuah tas hitam panjang yang menempel di dinding masjid.

Beberapa bilah pisau panjang tampak tersusun rapi dalam untaian tali yang mengikat menjadikannya satu di samping tas tersebut. Semuanya tertutup rapat sarung kayu mengkilat, termasuk pisau-pisau yang gagangnya menjuntai dari dalam kantong samping tas tersebut. Sementara di atas tas yang terbuka itu, terbaring lima pedang panjang dengan beragam bentuk, salah satunya yang menyerupai pedang samurai khas negeri matahari terbit.

“Samurai yang paling mahal, Rp 600 ribu. Kalau yang paling murah mah pisau, Rp 75 ribu,” jelasnya dalam logat Sunda yang kental.

Benda-benda tajam itu memang menjadi barang dagangan Nandang. Kesehariannya menawarkan berbagai jenis benda tajam baik untuk keperluan sehari-hari maupun kesenian atau koleksi. Untuk kebutuhan dapur dan kebun misalnya, ada pisau, parang, dan golok tajam dengan sarung yang terukir indah. Sedangkan bagi para kolektor, apa yang ditawarkan Nandang bisa jadi bikin terpesona.

Baca Juga:  Bertekad Jadi Guru sejak Muda, Temukan Kebahagiaan di TK

Pedang samurai, keris, sangkur, hingga kerambit, pisau melengkung yang diklaim sebagai senjata paling mematikan di dunia siap untuk berpindah tangan. Termasuk juga parang dengan gagangnya yang membentuk kepala harimau, juga ada dalam bawaan Nandang. “Ada juga pisau kecil untuk tentara dan polisi,” tambah pria yang lahir tepat di hari pertama Januari ini.

Nandang berkisah, semua jenis benda tajam ini dibuat dengan baja berkualitas. Makanya, dia ragu keluar dari masjid sekalipun hujan mulai rintik. Khawatir air hujan membuat baja-baja itu berkarat. “Yang bagus memang yang berkarat. Untuk mencegah karat, secara rutin diberi minyak sayur,” sebut Nandang.

Memang sudah menjadi bagian hidup Nandang menjajakan aneka benda tajam ini dari kota ke kota, dari rumah ke rumah. Sudah 15 tahun lamanya dia menggeluti perdagangan benda tajam yang dibawanya dari pusat kerajinan di Cibatu, Garut, Jawa Barat. Sebelumnya, berbagai profesi telah dilakoninya demi menafkahi istri dan dua anaknya di kampung halaman, Kondang Rege di Garut.

“Saya cuma lulusan SMP. Selesai sekolah ya kerja seadanya. Ikut proyek, jadi kernet pernah saya lakukan. Apa sajalah,” tutur pria 47 tahun ini.

Di awal abad 21, tahun 2000, Nandang mulai berdagang benda-benda tajam. Katanya, dia ikut bos di pusat kerajinan benda-benda tajam tersebut. Pada pembelian pertama, dia berutang sejumlah benda tajam untuk dijual. Nandang diberi kebebasan menentukan harga jualnya kembali ke para pembeli.

Bila uang sudah terkumpul dari penjualan, barulah secara berkala dia membayar utang pada sang bos. “Biasanya setiap 15 hari saya kirim uang ke bos, membayar utang,” tambah Nandang.

Baca Juga:  Kumpulkan 1 Ton Plastik, Perpanjang Umur TPA

Melangkah dari satu tempat ke tempat lainnya merupakan cara penjualan yang dilakukan Nandang. Pulau Jawa dan Sumatra sudah dijelajahinya demi membuat barang dagangannya laku. Barulah sejak enam tahun lalu dia menjejakkan kaki di tanah seribu sungai, Kaltim. Di Kaltim, barang-barang dagangannya dikirim dan disimpan di rumah kontrakan di Samarinda.

“Saya sudah sering ke Bontang. Kalau sekarang ini sudah dua hari di Bontang. Habis ini mau ke Sangatta,” ucapnya.

Nandang memasarkan dagangannya secara door to door. Dari pintu ke pintu dia menawarkan berbagai jenis benda tajam yang dijualnya. Pun begitu, sesekali dia nongkrong di acara-acara keramaian seperti pameran.

Berangkat pagi sejak pukul 07.00 Wita, Nandang berjalan menelusuri jalanan kota demi menemukan warga yang tertarik dengan dagangannya. Sebanyak 40 benda tajam dengan berat mencapai 30 kilogram dibawanya penuh kepasrahan. Berat memang, namun apa daya itulah yang dilakukan.

Langkahnya berhenti ketika lelah telah merayapi tubuhnya. Biasanya, dia berhenti berdagang saat senja mulai menyapa. Walaupun tak jarang juga perjalanannya diakhiri kala mentari telah hilang dari pandangan.

“Siang ini saya dari Tanjung Limau. Baru laku satu, pisau,” celetuk Nandang sembari menghisap rokoknya.

Tak banyak yang bisa didapatkan Nandang dalam sehari berjualan. Bisa untuk mengganjal perut saja dia sudah sangat bersyukur. Kalau sedang untung, dalam sehari dia bisa mengantongi dua lembar uang kertas bergambar proklamator. Selama berjualan, paling banyak dia bisa menjual 10 dagangan. “Pisau yang paling banyak dibeli orang,” jelasnya.

Diakui Nandang, penjualan benda-benda tajam miliknya mengalami penurunan sejak 2015. Akibatnya, dia pun jadi semakin jarang pulang ke rumah menemui anak istri. Dulunya, dia pulang setiap tiga bulan sekali dengan membawa uang hingga Rp 5 juta saja. “Uang segitu dicukupkan saja untuk sehari-hari di rumah,” sebutnya sambil kembali membuang abu rokok.

Baca Juga:  Tetap Dilarang Melintas Jalan Hauling, Warga Gelar Demo Pekan Depan

Namun untuk tahun ini, dengan pendapatan yang semakin menurun, kemungkinan dia akan pulang menjelang Idulfitri. Sementara, tiga bulan sudah dia berpisah dengan keluarga, berdagang di Kaltim. Artinya dia baru akan pulang setelah tujuh bulan lebih berdagang di Kaltim.

“Kalau kangen ya pasti. Yang penting bersabar. Setiap kali telepon, istri pasti protes kenapa kok tidak pulang-pulang. Katanya anak-anak sudah nanyain. Makanya saya terus minta maaf pada mereka karena belum bisa pulang,” urai Nandang menatap nanar.

Jalan hidup berdagang memang sudah dipilihnya. Berpisah jauh sudah jadi risikonya. Demi menghidupi istri dan kedua anaknya yang masing-masing masih sekolah. Masing-masing duduk di kelas 5 SD dan bangku taman kanak-kanak. Sebenarnya Nandang punya tiga anak, namun si sulung sudah dipanggil Yang Maha Hidup. Entah apa yang terjadi pada si sulung, Nandang tidak menceritakannya.

Lantas, di mana Nandang menginap selama keliling berdagang? Penginapan-penginapan murah menjadi tujuannya. Atau, bila memungkinkan menumpang di rumah warga Sunda yang dikenalnya. “Di dekat terminal itu ada penginapan murah yang per malamnya Rp 15 ribu. Kalau yang bagus ya saya tidak sanggup bayar,” tutup Nandang seraya berbaring di teras masjid, samping dagangannya.

Rupanya hujan masih ingin bermesraan dengan Kota Taman. Semakin deras malah, dengan kilatan petir yang menggetarkan atap masjid. Tapi tak menggoyahkan Nandang, yang perlahan alam sadarnya hilang berganti alam mimpi. Tanpa risau, bersandingkan pisau. (***)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: kisah inspiratifwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Rela Jalan Kaki demi Belajar Musik, Perbedaan Karakter Jadi Tantangan

Next Post

Cek Perpustakaan dan Kesiapan Produta, Komisi I Sidak Kecamatan Bontang Barat 

Related Posts

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor
Feature

Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

13 Juli 2025, 12:07
6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang
Bontang

6.892 Orang Pilih Hengkang dari Bontang

31 Januari 2023, 16:08
Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah
Ragam

Kisah Inspiratif Kakek Penjual Sapu Lidi: Selama Kuat, Bekerjalah

18 Desember 2020, 09:19
Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis
Feature

Di Palu, Kebaikan Menular dari Secangkir Kopi Gratis

11 Januari 2019, 15:40
Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup
Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup

4 Desember 2018, 17:00
Cerita Seru Carol Pio, Peserta Pertukaran Pelajar Asal Bontang (1)
Feature

Cerita Seru Carol Pio, Peserta Pertukaran Pelajar Asal Bontang (1)

30 November 2018, 17:00

Terpopuler

  • Pemkot Bontang Tawarkan 266 Rumah Subsidi untuk ASN, Cicilan Mulai Rp955 Ribu

    Pemkot Bontang Tawarkan 266 Rumah Subsidi untuk ASN, Cicilan Mulai Rp955 Ribu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gegara Ditegur saat Parkir, Pria di Bontang Ancam Warga Pakai Badik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pedagang Pasar Rawa Indah Minta Ketegasan Pemerintah Tertibkan Pedagang yang Buka Lapak di Trotoar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Terdakwa Korupsi Lahan Labkesda Bontang Ajukan Kasasi Usai Vonis Banding Diperberat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Tiga Besar Pejabat Bontang yang Lolos Seleksi Jabatan Kepala Dinas di Enam OPD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
No Result
View All Result

Komentar Terbaru

    Arsip

    • Desember 2025
    • November 2025
    • Oktober 2025
    • September 2025
    • Agustus 2025
    • Juli 2025
    • Juni 2025
    • Mei 2025
    • April 2025
    • Maret 2025
    • Februari 2025
    • Januari 2025
    • Desember 2024
    • November 2024
    • Oktober 2024
    • September 2024
    • Agustus 2024
    • Juli 2024
    • Juni 2024
    • Mei 2024
    • April 2024
    • Maret 2024
    • Februari 2024
    • Januari 2024
    • Desember 2023
    • November 2023
    • Oktober 2023
    • September 2023
    • Agustus 2023
    • Juli 2023
    • Juni 2023
    • Mei 2023
    • April 2023
    • Maret 2023
    • Februari 2023
    • Januari 2023
    • Desember 2022
    • November 2022
    • Oktober 2022
    • September 2022
    • Agustus 2022
    • Juli 2022
    • Juni 2022
    • Mei 2022
    • April 2022
    • Maret 2022
    • Februari 2022
    • Januari 2022
    • Desember 2021
    • November 2021
    • Oktober 2021
    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Desember 2020
    • November 2020
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Agustus 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Februari 2020
    • Januari 2020
    • Desember 2019
    • November 2019
    • Oktober 2019
    • September 2019
    • Agustus 2019
    • Juli 2019
    • Juni 2019
    • Mei 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Februari 2019
    • Januari 2019
    • Desember 2018
    • November 2018
    • Oktober 2018
    • September 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Juni 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Februari 2018
    • Januari 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2017
    • Juni 2017
    • Mei 2017
    • April 2017
    • Maret 2017
    • Februari 2017
    • Januari 2017
    • Desember 2016

    Kategori

    • Advertorial
    • Bontang
    • Breaking News
    • Catatan
    • Celoteh Edwin
    • Cerpen
    • Dahlan Iskan
    • Dispopar
    • DPRD Bontang
    • ekonomi
    • Entertainment
    • Feature
    • Hikmah
    • Hoaks atau Tidak?
    • Infografis
    • Internasional
    • Kaltim
    • Kesehatan
    • Kolom Redaksi
    • Kriminal
    • Kriminal
    • Kuliner
    • Lensa
    • Lifestyle
    • Lingkungan
    • Loker Bontang
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Pemkot Bontang
    • Pendidikan
    • Pilihan Editor
    • Politik
    • Polling
    • PON 2021 Papua
    • Pupuk Kaltim
    • Ragam
    • Society

    Meta

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org
    • Indeks Berita
    • Redaksi
    • Mitra
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Pedoman Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
    • Kontak

    © 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • Bontang
    • Kaltim
    • Nasional
    • Advertorial
      • Advertorial
      • Pemkot Bontang
      • DPRD Bontang
    • Ragam
      • Infografis
      • Internasional
      • Olahraga
      • Feature
      • Resep
      • Lensa
    • LIVE

    © 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.