• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Lain Bos Anbang Lain Pak Wang

by BontangPost
17 April 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Pistol. Lalu pisau. Lantas kantongan. Tiga kata itu populer di Tiongkok. Sejak Xi Jinping jadi presiden. Empat tahun lalu.

Itulah tahapan strategi. Dalam pemberantasan korupsi. Sekaligus menyelamatkan keuangan negara. Terutama akibat ancaman kredit macet gila-gilaan di bank pemerintah.

Pistol adalah perlambang angkatan bersenjata. Pisau melambangkan kepolisian. Kantong simbol dari pengusaha.

Tahap pertama Presiden Xi Jinping menertibkan dulu lingkungan angkatan bersenjata. Di samping jabatan presiden dia memang panglima tentara. 路海空 (lu hai kong). Darat, laut, udara. Polisi tidak menjadi bagian lu hai kong.

Tahap berikutnya adalah membersihkan kepolisian. Dua tahap itu dilakukan dalam dua tahun pertama masa jabatannya.

Setelah dua tahap itu presiden  lebih mudah membersihkan yang lain-lain. Termasuk kalangan pengusaha.

Anbang, perusahaan asuransi dari Ningbo itu (lihat disway kemarin) tidak berkutik. Backing-nya,  dari kalangan pistol dan pisau sudah tidak ada. Wu Xiaohui, bos besar Anbang, terlalu pede. Mokong. Tidak kooperatif. Kini dia tidak bisa lagi selamat.

Perusahaannya diambil alih pemerintah. Sepenuhnya. Wu Xiaohui ditangkap. Tunggu hukuman mati. Paling hoki seumur hidup. Tanpa potongan.

Konglomerat lain berpikir tujuh keliling. Ada yang langsung kooperatif: contohnya grup Wanda. Perusahaan real estate terbesar di Tiongkok.

Baca Juga:  Tafsir Baru Usep

Pemiliknya: Wang Jianglin. Orang terkaya nomor 2 di Tiongkok. Topnya ampun-ampun. Bisnisnya merambah dunia, ke Hollywood, dan ke sepak bola Eropa.

Ke mana pun pergi Anda akan bertemu mal grup Wanda. Kemarin siang, di Ningbo ini, saya juga makan di mal Wanda. Ada Walmartnya. Saya kembali jadi orang kuno di mal ini. Akan saya ceritakan tersendiri kapan-kapan.

Wang Jianglin tidak mau senasib dengan Wu Xiaohui dari Ningbo. Pak Wang langsung ambil putusan: jual aset grup Wanda. Jual. Jual. Jual.

Begitu banyak mal yang dijual. Juga real estatenya. Di berbagai kota. Juga theme parknya. Di mana-mana. Juga sahamnya di beberapa perusahaan di Hollywood.

Minggu kemarin deal lagi: jual sahamnya di Atletico Madrid. Klub sepak bola di Spanyol itu. Dari 20 persen dia sisakan tinggal 3 persen.

Pak Wang memang berusaha seirama dengan program pemerintah. Termasuk dalam hal membeli Atletico Madrid itu. Tiongkok memang pengin membangun habis-habisan bidang yang paling gagal selama ini: sepak bola.

Presiden Xi Jinping sendiri yang ingin memajukan  sepak bola Tiongkok. Agar bisa ikut Piala Dunia tahun 2030an.

Baca Juga:  Xingpake Terbesar di Dunia

Tiongkok sudah bisa unggul di segala bidang. Mengapa  sepak bolanya memble.

Didoronglah pengusahanya masuk ke sepak bola. Mulailah ada yang beli klub di Italia. Di Spanyol. Dan  masih selalu gagal nego dengan klub di Inggris.

Kompetisi dalam negerinya juga dibenahi. Pemain-main mahal dunia mulai merumput di Tiongkok. Kelak beberapa pemain Tiongkok akan dititipkan di klub Eropa.

Sepakbola Tiongkok memang hancur sejak lama. Akibat perjudian dan taruhan. Yang merajalela. Merusak pemain, pelatih, wasit dan pengurusnya. Bahkan sampai merusak rumputnya.

Pak Wang sudah menjual hampir separo asetnya. Untuk membayar hutangnya ke bank pemerintah. Untuk menyehatkan perekonomian negara. Tapi hidupnya bebas. Tetap mengendalikan grup Wanda. Tidak seperti Wu Xiaohui. Bahkan bulan lalu pak Wang masih tercatat sebagai orang terkaya nomor 4 di Tiongkok.

Dan pak Wang tetap membantu program pemerintah di bidang ini: sepakbola. Dia ingin memajukan sepakbola di kota kelahirannya: Dalian. Kota setingkat kabupaten di propinsi Liaoning.

Pak Wang membeli klub Dalian Yifang FC di kota itu. Kota tempat Wanda memulai usaha. Juga kota …hahaha… tempat anak pertama saya Azrul Ananda …. hahahha … bermalam berhari-hari bersama Ivo …. hahaha … dan hamil pula istrinya itu. Hamil pertama. Lahirlah Ayrton Seninha Ananda.

Baca Juga:  Mengapa Tiongkok Melulu?

Maka guyon kami sekeluarga: cucu saya itu made in China. Waktu itu, 11 tahun yang lalu, mereka ikut lama di Tiongkok.  Menunggu saya. Menjelang operasi ganti hati di Tianjin.

Pak Wang ingin menyelamatkan klub di kota asalnya itu: Dalian. Yang sekarang, minggu ini, berada di posisi terbawah. Terancam degradasi.

Jual, jual, jual adalah strategi pak Wang menghadapi keseriusan pemerintah menyelamatkan ekonomi negara.

Grup Wanda sebenarnya juga merambah Jakarta. Bekerjasama dengan salah satu real estate terbesar Indonesia. Entahlah. Apakah keikutsertaannya di situ juga dilepaskannya.

Sikap pak Wang dari Dalian itu bertolak belakang dengan Wu Xiaohui dari Ningbo. Dua-duanya jadi model. Baik dan buruk. Bagi konglomerat lainnya.

Tapi ada satu model lagi. Ada unsur dramanya. Dilakukan oleh konglomerat muda yang coba-coba. Tidak mokong seperti Wu Xiaohui. Tapi juga tidak kooperatip seperti pak Wang. Dia punya cara sendiri.  (Bersambung)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: catatan dahlan iksan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Curi dua Motor, Residivis Ditembak

Next Post

Kebakaran di Samarinda, Enam Nyawa Melayang

Related Posts

Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dag Dig Dug Pemilu Malaysia

9 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Manufacturing Hope

8 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Adu Kuat Kereta Cepat

4 Mei 2018, 09:15
Obat #Stress2019 Ala Shanghai
Dahlan Iskan

Obat #Stress2019 Ala Shanghai

3 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Problem Bule Baca Disway

2 Mei 2018, 09:15
Ideologi Republik dari Kansas
Dahlan Iskan

Ideologi Republik dari Kansas

1 Mei 2018, 09:15

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masuk Aturan KTR, Vape Tak Lagi Boleh Dihisap di Tempat Umum Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.