BONTANG – Sekolah swasta terkena imbas dari penambahan jumlah rombongan belajar (rombel) dan kuota siswa tiap rombel pada sekolah negeri. Pada penerimaan peserta didik baru kali ini jumlah siswa yang didapatkan beberapa SMP swasta mengalami penurunan.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Bontang Syamsuddin mengatakan tahun ini hanya memperoleh 47 siswa. Penurunan ini terjadi dalam kurun waktu dua tahun belakangan. Tahun lalu sekolah ini memperoleh 62 siswa. Puncak kejayaan terjadi pada dua tahun lalu, saat jumlah siswa baru mencapai 118 anak.
“Akibat tambahan rombel smp negeri dan kuota siswa per rombelnya. Itulah mengakibatkan sekolah swasta kekurangan siswa baru,” kata Syamsuddin.
Jumlah ini pun mengakibatkan jumlah rombel berkurang. Dua tahun lalu, sekolah ini menyediakan empat rombel. Namun dua kali penerimaan murid baru hanya dapat mengisi dua rombel. Berdasarkan Permendikbud satu rombel maksimal diisi oleh 34 siswa.
“Bahkan tahun ini dapat dua rombel tapi kurus (tidak penuh, Red),” ucapnya.
Penurunan siswa ini berdampak pada kesejahteraan guru. Pasalnya sekolah swasta bergantung pada sumber pendapatan yakni Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Dana BOS itu tergantung jumlah siswa permasalahannya,” sebut dia.
Saat ini pihak sekolah melakukan kalkulasi penghitungan pendapatan guru per jam mengajarnya. Akan tetapi diprediksi terjadi penurunan nominal pada tahun ini. Sebelumnya, guru SMP Muhammadiyah 1 Bontang memperoleh Rp 8 ribu untuk satu jam mengajar.
“Pendapatan turun jelas. Tapi pastinya berapa belum diputuskan. Kami masih menghitungnya. Karena ajaran baru belum gajian,” terang Syamsuddin.
Penurunan jumlah murid juga terjadi di SMP Bahrul Ulum. Kepala SMP Bahrul Ulum Musthofa memaparkan tahun ini memperoleh 77 siswa baru. Padahal tahun lalu sekolah yang berlokasi di Jalan MT Haryono, Kelurahan Gunung Elai ini diisi oleh 110 siswa.
“Jumlah rombel pun turun terus-menerus. Dua tahun lalu kami membuka 5 rombel. Tahun lalu empat rombel. Sekarang tinggal tiga rombel,” papar Musthofa.
Selain pendapatan, penurunan jumlah siswa ini berdampak dirumahkannya tiga tenaga pendidik. Meliputi guru mata pelajaran olahraga, IPA, dan bahasa inggris. Masing-masing bidang studi satu orang.
“Keputusan ini diambil karena guru kekurangan jam mengajar,” terangnya.
Tak hanya itu, pihak sekolah wajib membantu dua guru yang telah bersetifikasi untuk mendapatkan jam sesuai dengan ketentuan. Yakni 24 jam mengajar. Solusinya mencari informasi di sekolah lain yang masih membutuhkan tenaga di mata pelajaran tersebut.
“Sebenarnya ini tanggung jawab pribadi guru bersangkutan. Kami menyampaikan kalau ada informasi dari sekolah lain,” sebut dia.
Sementara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang belum dapat memberikn data terkait jumlah siswa baru di seluruh sekolah swasta. Pasalnya saat ini petugas masih melakukan tinjauan lapangan.
“Masih proses pengumpulan data. Belum seluruhnya terkumpul,” kata Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Saparudin. (ak/prokal)







