• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Ragam

[RESENSI] Mengaca Diri Sendiri

by M Zulfikar Akbar
26 April 2020, 14:41
in Ragam
Reading Time: 2 mins read
0
Share on FacebookShare on Twitter

KITA mungkin hebat dalam membicarakan orang lain. Ambil saja contoh tayangan infotainment yang selalu menghiasi layar kaca Anda. Satu orang saja bisa dikupas persoalan pribadinya sampai ke akar-akarnya. Dari yang bersifat publik sampai personal. Pun mungkin Anda termasuk yang ikut bergosip ria dengan tetangga. Ini menunjukkan kemampuan kita membicarakan orang lain begitu besar.

Namun, tak banyak yang mampu membicarakan dirinya sendiri. Apalagi membicarakan bangsa ini dengan gaya satire. Buku “Agama Saya Adalah Uang” karya Nurudin ini merupakan salah satunya. Anda akan diajak mengaca diri sendiri, sekaligus mengaca bangsa ini dengan sudut pandang yang kadang membuat kita terpingkal, namun juga bisa membuat mengelus dada.

Buku setebal 182 halaman ini tersaji dalam empat bagian. Di bagian pertama, Nurudin mengupas soal pluralisme. Bangsa Indonesia disatukan karena perbedaan. Perbedaan agama, suku, dan ras. Bentuk muka dan perangai yang berbeda-beda. Pun dengan cara pandang yang berbeda pula.

Baca Juga:  [RESENSI] Politik Sandiwara

Namun bangsa ini disatukan dengan satu keyakinan adanya Tuhan. Dengan adanya perbedaan, manusia dituntut untuk bisa belajar satu sama lain. Belajar dari pengalaman. Ini mungkin merupakan pesan, agar kita mampu menghargai apa pendapat dan pilihan orang lain. Jangan sampai kita “menuhankan” pandangan terhadap orang yang tak sepaham.

Bagian ini juga mengulik kebiasaan sebagian masyarakat membagikan informasi tanpa menyaringnya terlebih dulu. Nurudin menekankan, masih banyak orang yang senang dan menjadi agen penyebaran informasi. Beruntung, jika informasi yang disebarkan itu berasal dari sumber yang jelas, data yang akurat, dan dampak yang ditimbulkan tidak menjadi buruk. Masalahnya, banyak orang maunya hanya menyebar informasi saja, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Baca Juga:  Selamat Datang Masyarakat Berbudaya Komentar

Semangat berbagi informasi ini yang mungkin lebih akrab di telinga dengan kata “gosip”. Entah informasinya benar atau tidak, dari sumber terpercaya atau tidak, yang penting dibagikan dulu di whatsapp grup atau media sosial. Urusan informasinya ternyata hoaks, belakangan. Nurudin mengibaratkan, seseorang semangat beribadah, tetapi tidak memakai ilmu yang cukup, tentu tak ada gunanya.

Di buku ini pula, Nurudin ikut menyindir kelakuan para politisi. Mereka yang suka melempar tanggung jawab kepada anak buah, disebut sebagai wani silit wedi rai. Ungkapan itu menggambarkan seseorang yang hanya berani dari belakang, tidak bertanggungjawab terhadap apa yang diperbuatnya.

Sebagai contoh, bentuk tidak bertanggungjawabnya pejabat adalah dengan melakukan korupsi. Hal itu tampak saat seseorang yang benar-benar terlibat korupsi mengatakan, “Saya bukan koruptor,” hanya karena hukum memutuskan dia tidak korupsi berdasarkan hukum positif. Sementara hati nuraninya mengatakan bahwa ia memang korupsi.

Baca Juga:  Soal Hoaks, Dosen UMM: Otak Kita Seringkali Kalah Cepat dengan Jempol Kita

Buku yang ditulis dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga banyak menggunakan majas sebagai judul. Ambil contoh “BPJS: Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita”, “Padamu Negeri, Jiwasraya Kami”, atau “Tangkaplah Daku, Kau Ku-shutdown”. Jenis tulisan satire ini membuat kita dapat saling mengaca perilaku kehidupan sehari-hari.  Tak peduli Anda pro pemerintah atau oposisi, bacaan ini cocok agar Anda berpikiran terbuka, sekaligus menertawakan diri sendiri. Anda seorang netizen? Silakan baca buku ini. Siapa tahu, kebiasaan asal bagi informasi Anda bisa berubah. Selamat membaca! (*)

Data Buku:
Judul: Agama Saya Adalah Uang
Penulis: Nurudin
Penerbit: Intrans Publishing
Halaman: xv+182
ISBN: 978-602-6293-90-9
Peresensi: Muhammad Zulfikar Akbar

Tags: agama saya adalah uangintrans publishingnurudinresensi buku
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Dinkes Bontang Bantah Dua Rumah Sakit Tutup, Masa Isolasi Diperpanjang

Next Post

Resep Berbuka Super Segar: Es Cendol Dawet Istimewa

Related Posts

[RESENSI] Politik Sandiwara
Ragam

[RESENSI] Politik Sandiwara

26 Agustus 2020, 08:00
Soal Hoaks, Dosen UMM: Otak Kita Seringkali Kalah Cepat dengan Jempol Kita
Nasional

Soal Hoaks, Dosen UMM: Otak Kita Seringkali Kalah Cepat dengan Jempol Kita

17 Januari 2019, 17:22
Pilkada, Medsos, dan Generasi Pembual
Opini

Selamat Datang Masyarakat Berbudaya Komentar

21 April 2018, 09:20

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.