bontangpost.id – Persoalan banjir menjadi salah satu pokok pertanyaan dalam debat publik kedua kandidat Wali Kota dan Wali Bontang, Rabu (18/11/2020) malam. Bila diberi kepercayaan memimpin, calon nomor urut satu, Basri Rase, berjanji akan kendalikan persoalan banjir dalam 3 tahun.
Menurut Basri, penanganan banjir tidak cukup retorika. Hal pertama yang mesti ditekankan ialah komitmen pemimpin. Dalam hal ini Wali Kota. Dalam beberapa tahun ini, Bontang kerap menghadirkan tim ahli dan konsultan berpengalaman. Tapi persoalan banjir masih saja terjadi. Bahkan dalam catatan bontangpost.id juga melakukan kunjungan ke Belanda, yang diikuti wali kota, ketua DPRD, dan LSM.
Kata Basri, penanganan banjir tidak bisa dengan revitalisasi saja. Juga mesti membendung sungai Bontang. Membangun empat sampai lima folder di titik rawan banjir. Meliputi bilangan HM Ardans (Pisangan), Kelurahan Tanjung Laut, Kanaan, Rawa Indah, Guntung, dan Telihan.
“Kalau banjir masuk ke sungai, maka terjadi pendangkalan. Intinya adalah pengendalian banjir bagaimana membendung Sungai Bontang dan membangun polder. Juga merevitalisasi Danau Kanaan yang selama ini diabaikan,” tegasnya.
Untuk memastikan seluruh program penanganan ini berjalan, Basri memastikan akan memperkuat komitmen eksekutif dan legislatif. Untuk memastikan anggaran 10 persen dari APBD dikucurkan untuk penanganan banjir Bontang.
Ditambahkan juga, dengan program stimulan Rp 50-250 juta per rukun tetangga (RT), diharapkan bakal mendukung upaya ini. Yakni dengan perbaikan saluran drainase di seluruh RT di Bontang.
Penanganan banjir juga menjadi program prioritas pasangan Neni Moerniaeni-Joni. Menurut Neni, salah satu permasalah banjir adalah aktivitas di hulu sungai.
“Kami mendorong gubernur membangun Bendali Suka Rahmat,” katanya.
Di samping itu, 10 persen APBD juga akan dialokasikan untuk penanganan banjir. “Karena banjir memporakporandakan ekonomi masyarakat, menyebarkan penyakit,” terangnya.
Salah satu yang sudah dilakukan untuk penanganan banjir adalah normalisasi Sungai Kanibungan dan Sungai Guntung. Dengan melakukan penurapan serta pemasangan bronjong. Normalisasi tersebut menggunakan anggaran APBD Kaltim.
“Alhamdulillah ketika hujan deras banjir tidak seperti 2018. Jadi komitmen Neni dan Joni salah satunya mengintegrasikan program banjir dengan program Pemprov Kaltim dan pemerintah pusat,” tuturnya.
Ditambahkan Joni, pihaknya juga akan membangun folder di tiga titik. Yakni, Tanjung Laut, Bontang Kuala, dan Danau Kanaan. “Juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke parit-parit. Nanti kami punya program setiap Jumat, yaitu Kali Bersih,” ujarnya. (*)







