bontangpost.id – Pemerintah mulai mengaktifkan pos penyekatan di 6 titik di Bontang, Kalimantan Timur sejak Rabu (7/7/2021) lalu. Pos penyekatan ini didirikan mulai gerbang masuk, hingga ruas jalan utama di pusat kota. Pemerintah mengambil langkah ini guna menekan angka paparan Covid-19 di Bontang.
Namun kebijakan ini mendapat sorotan dari anggota Komisi II DPRD Bontang Bakhtiar Wakkang. Menurutnya penutupan jalan di pusat kota sangat tidak efektif. Yang ada, hanya menyusahkan warga, khusunya para pelaku UMKM.
Pemerintah sejak Rabu (7/7/2021) mendirikan 6 pos penyekatan. Ada 3 pos buat membendung arus pendatang dari luar kota. Yakni Jalan S Parman (posko I Tugu Selamat Datang), Jalan Arif Rahman Hakim (posko V Bukit kusnodo) dan Jalan Soekarno-Hatta atau tepat di depan Polsek Bontang Barat. Sementara pos dalam kota, guna menekan mobilitas warga, membentang dari Jalan Bhayangkara (posko II Simpang 3, menuju Jalan Cipto Mangunkusumo), Jalan Ahmad Yani (posko IV Simpang 3 Gunung Sari), hingga Jalan Letjen Suprapto (posko III Simpang 4 Bontang Baru).
Kata Politikus NasDem ini, penyekatan dalam kota tidak menekan angka paparan Covid-19. Sebab yang dilakukan pemerintah sejatinya hanya mengalihkan arus. Dari jalan-jalan utama, menuju jalan lingkungan atau gang-gang kecil. Masyarakat, sebutnya, tetap keluar rumah. Hanya saja, rute dilalui mesti memutar dan lebih panjang.
“Tidak efektif sekali itu kalau jalan dalam kota ditutup. Untuk apa juga itu,” ujarnya kepada bontangpost.id, Senin (12/7/2021) pagi.
Lebih jauh, penutupan jalan di pusat kota bukannya menekan angka paparan Covid-19. Ia justru membuat pelaku UMKM sengsara. Entah berapa banyak, ujarnya, pelaku UMKM yang terpaksa harus tutup lantaran toko, warung, kafe, atau kedai mereka berada tepat di jalur penyekatan. Sudah jalan ditutup, pemerintah mengaktifkan pembatasan operasional pula. Yang ada, kata Bakhtiar, pemerintah cuma membuat rakyatnya menangis sembari menahan perut yang dirong-rong kelaparan.
“Coba pikirkan, betapa kasiannya mereka itu. Sudah jam operasional dibatasi, disekat pula,” ujarnya.
Dia menyarankan, bila memang ingin menekan angka paparan Covid-19, mestinya pemerintah mengalihkan fokus di titik masuk Kota Bontang. Ini meliputi Tugu Selamat Datang, Jalan Arif Rahman Hakim (Bukit Kusnodo) dan Jalan Soekarno-Hatta, Bontang Lestari.
Setiap kendaraan yang masuk ke Bontang mesti diperiksa dengan teliti oleh petugas. Petugas harus tegas. Kalau memang yang masuk adalah warga luar kota, maka wajib pakai antigen. Sementara bagi warga Bontang, bila memungkinkan, Bakhtiar menyarankan mereka di tes antigen dulu di gerbang masuk, sebelum diperkenankan masuk kota.
“Yang diperketat penjagaanya mestinya di pos masuk. Bukan di tengah kota. Itu cuma bikin sengsara rakyat saja,” tandasnya. (*)







