bontangpost.id – Ketua Komisi III DPRD Bontang, Amir Tosina meminta pihak terkait menertibkan pengguna knalpot racing. Persoalan dikeluhkan publik. Lantaran dinilai sangat menggangu kenyamanan. Baik di jalan lingkungan pun di jalan protokol.
Dijelaskan Amir, sekilas persoalan ini terlihat remeh. Pengguna knalpot racing, menggeber motor hingga suara bising kendraaan menggangu pendengara. Ini bisa memicu warga yang tidak tahan untuk naik pitam. Walhasil, baku hantam atau gesekan amat mungkin terjadi.
Amir memberikan dua contoh kasus. Pertama di Guntung, Kecamatan Bontang Utara. Belum lama ini seorang warga nyaris saja baku hantam dengan pengguna knalpot racing. Musababnya tak lain karena merasa terganggu dengan bising kendraaan. Lantaran kadung emosi, warga juga membawa parang dan nyaris dihantamkan ke pelaku. Untuk kejadian buruk tak terjadi.
“Hampir diparangi anak itu,” beber Amir kepada bontangpost.id.
Kasus lain. Terjadi baku hantam antara seorang warga dan pengguna knalpot racing. Ceritanya begini. Sekira pukul 23.45 Wita warga hendak mengantar istrinya yang mau melahirkan. Tepat di depan rumah ada anak muda sengaja menggeber motor hingga suaranya demikian bising. Merasa kesal, warga tersebut menampar pengguna motor tersebut. Untungnya kejadian lebih parah terhindarkan. Karena warga yang melihat kejadian itu segera melerai.
“Knalpot begitu kan bising sekali. Memang jatuhnya emosi warga kalau dengar,” kata Amir.
Sebabnya dia meminta pihak terkait, baik Dinas Perhubungan (Dishub) Bontang atau Satlantas Polres Bontang memberi perhatian untuk persoalan ini. Terlebih selama pandemi, Amir melihat trend pengguna knalpot racing makin marak. Ini dibuktikan dengan kerapnya mereka memenuhi beberaoa jalan protokol di Bontang. Seperti di Gunung Sari, Tanjung Laut, dan Berebas Tengah.
“Mungkin karena selama pandemi tidak ada razia makanya mereka ini seenak-enaknya. Saya minta tolong masalah ini diperhatikan,” tandasnya. (*)







