Cerita Agus Chaidlori Jadi Tenaga Ahli di DPR-RI
Berbagai jenis profesi pernah ditekuni Agus Chaidlori dalam menjalani kerasnya hidup. Mulai dari asisten fotografer, tenaga marketing, teknisi ponsel, hingga wartawan pernah dirasakan. Kini, ayah tiga anak ini mengabdi untuk negeri dalam kapasitasnya sebagai tanaga ahli anggota DPR-RI asal Kaltim-Kaltara.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Kepergian sang ayah, Tofandi untuk selama-lamanya pada Mei 2014 menjadi salah satu alasan Agus Chaidlori untuk kembali ke Jawa. Setelah sebelumnya menetap dan bekerja di Kota Taman, Bontang. Sebagai seorang anak, Agus ingin dekat dengan ibunya, Tusiyah, di sisa usia sang ibunda.
“Karena itu saya ada niat pindah ke Jakarta minimal untuk sementara waktu,” kata Agus kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group), Jumat (31/3) kemarin.
Saat itu, ada informasi pembukaan lowongan staf anggota DPR RI. Mempunyai keinginan kuat untuk belajar di ibu kota, Jakarta, Agus lantas melamar dan memenuhi segala persyaratan yang ada. Persyaratan administratif di antaranya secara formal lulusan S2 atau S1 dengan pengalaman kerja 5 tahun. Secara substansial, memiliki kemampuan sebagai sumber daya yang mendukung kinerja anggota DPR.
Rupa-rupanya Tuhan menggariskan keinginan tulus Agus demi sang ibunda. Dia dinyatakan lolos seleksi administrasi dalam penerimaan itu dan mendapatkan rekomendasi dari anggota DPR RI terpilih asal Bontang waktu itu, Neni Moerniaeni.
“Saya direkomendasikan untuk membantu beliau sebagai staf administrasi. Mungkin sewaktu Bu Neni menjabat ketua DPRD Bontang sebelumnya, melihat saya sebagai jurnalis yang aktif di Kota Taman,” simpul anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Memang sebelum bekerja di Senayan, Agus sempat menjalani profesi kuli tinta di perusahaan media terbesar di Kota Taman, Bontang Post (induk Metro Samarinda). Sebagai wartawan, dia kerap meliput kegiatan-kegiatan politik, khususnya di DPRD Bontang. Pengalaman inilah yang menurutnya turut berperan membawanya menjadi staf administrasi, kemudian tenaga ahli di DPR RI.
“Di sini pengalaman berorganisasi dan jurnalis saya cukup mendukung. Saya mulai aktif menjadi staf di DPR RI pada Oktober 2014, tepat di awal masa jabatan anggota DPR RI periode 2014-2019,” terang Agus.
Di masa awal menjadi staf administrasi, Agus mendapatkan pembekalan resmi dari Setjen DPR RI. Tujuannya, agar dapat membantu kinerja anggota dalam mengabdi, kaitannya dengan fungsi sebagai wakil rakyat sekaligus pejabat negara. Pada Mei 2015, Agus dipercaya menjadi tenaga ahli anggota DPR RI pada anggota yang sama, Neni Moerniaeni.
Agus bekerja untuk Neni sampai mantan ketua DPRD Bontang itu terpilih menjadi Wali Kota Bontang. Sejak Oktober 2015 hingga sekarang, dia bekerja sebagai tenaga ahli untuk anggota DPR RI pengganti Neni, Hetifah Sjaifudian di Fraksi Partai Golkar.
“Saat pergantian ke Bu Hetifah, saya ikut seleksi lagi, administrasi, dan psikotes,” tambahnya.
Sebagai tenaga ahli, kegiatan suami dari Eka Zulistiyawati ini dari Senin sampai Jumat berkantor aktif di DPR RI. Sesekali, bergantian dengan tim, dia mendampingi anggota DPR RI saat turun ke daerah pemilihan (dapil).
Dia menjelaskan, sebagai tenaga ahli merupakan kewajibannya untuk menyiapkan bahan internal untuk rapat dengan mitra kerja anggota DPR RI. Dalam hal ini, di Komisi II dan Badan Anggaran DPR RI, karena Hetifah merupakan anggota dua alat kelengkapan dewan (AKD) tersebut.
“Saya juga mendampingi rapat, membuat ulasan dan analisis hasil rapat. Menyiapkan bahan release media, protokoler bekerja tim dengan staf lainnya,” urai Agus.
Dari pekerjaannya sebagai tenaga ahli, Agus mengaku berkesempatan belajar banyak secara langsung dengan para pemimpin negeri. Yaitu belajar kepemimpinan secara langsung, serta kepekaan terhadap politik dan kebijakan publik. Memang politik menjadi salah satu bidang yang diminatinya.
“Politik merupakan salah satu jalan untuk memenangkan keadilan, untuk kesejahteraan rakyat dan daerah,” terang pria kelahiran Tulungagung tepat di hari peringatan kemerdekaan RI, empat dekade lalu ini.
Dalam membantu kinerja wakil rakyat, tak jarang Agus harus memprioritaskan pekerjaannya saat dibutuhkan. Sehingga, kerap kali urusan pribadi dan keluarga mesti dia korbankan. Namun karena dari awal tujuannya bekerja secara moral adalah pengabdian, dia pun mulai jadi terbiasa. Bahkan dia tidak lagi menganggap pekerjaan sebagai beban, malahan sebagai sebuah tantangan.
“Tinggal pintar-pintarnya bagi waktu untuk keluarga dan aktivitas di luar DPR,” tuturnya.
Menurut Agus, pengalaman mendampingi para perempuan wakil rakyat Kaltim-Kaltara merupakan pengalaman yang paling berkesan. Baik Neni Moerniaeni maupun Hetifah Sjaifudian, dinilainya sebagai sosok yang tak kenal lelah dalam bekerja mengabdi di Senayan. Kata dia, keduanya sangat aktif menyuarakan aspirasi dari daerah.
“Kami sebagai staf bangga kepada beliau-beliau. Apalagi Bu Hetifah yang dua periode menjabat, adalah salah satu aset Kaltim-Kaltara di pusat yang sangat berharga. Beliau saat ini adalah salah satu tokoh perempuan Golkar yang vokal bersuara di publik,” beber Agus yang juga pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor ini.
Pekerjaan mengabdi mendampingi para “srikandi” politik ini diakui Agus bukanlah hal yang mudah. Rasa lelah pun terkadang menjalar di tubuhnya. Namun begitu, dia selalu menanamkan pada dirinya sendiri. Bahwa saat ini dia sedang mendampingi wakil rakyat Kaltim-Kaltara. “Jika mengingat itu, letih saat bekerja hilang seketika,” ujarnya.
Berpindah-pindah profesi sebelum akhirnya menjadi tenaga ahli DPR RI bagi Agus adalah proses pembelajaran hidup. Mulai dari menjadi asisten fotografer dan teknisi sound system di Tulungagung, tenaga marketing toko elektronik dan penerbitan di Malang, dan menjalankan usaha reparasi ponsel serta terakhir wartawan di Bontang. Hingga kini dipercaya sebagai tenaga ahli DPR RI. Menurutnya profesi hanyalah media untuk dapat berbagi dan membantu sesama.
“Proses belajar tidak pernah berakhir selama masih hidup. Menjadi manusia bermanfaat adalah tujuan saya. Yang penting serius bekerja dan loyal pada pimpinan saat bekerja dalam tim. Ada kepuasan tersendiri ketika kita bekerja sekaligus mengabdi pada negara dan agama,” tandas Agus yang baru saja kehilangan ibunda tercinta, 22 Maret lalu. (***)
Tentang Agus
Nama: Agus Chaidlori
TTL: Tulungagung, 17 Agustus, 1976
Ortu: Tofandi (alm), Tusiyah (almh)
Istri: Eka Zulistiyawati
Anak:
- Utama Rafif Firjatullah
- Alyssa Hayyun Sayyidah
- Ammar Shabbir Virendra
Pendidikan:
- SDN Ketanon 2 Tulungagung (1983-1989)
- SMPN 2 Tulungagung (1989-1992)
- SMK Sore Tulungagung (1992-1995)
- STIT Daarul Fatah, Tangerang Selatan (2010-2014)
Alamat: Jalan Tarumanegara 26, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten







