Pedagang Pasar Rawa Indah yang Berjuang Pasca Kebakaran: Martisa
Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami oleh Martisa (53), seorang nenek yang tinggal di sudut pasar sementara Rawa Indah. Sempat sukses dengan usahanya, kini nasibnya berubah setelah kebakaran pasar, suami meninggal, bangkrut, dan ditinggal sang anak.
ADIEL KUNDHARA, Bontang
Begitulah nasib yang dialami Martisa, pedagang sayur di pasar sementara Rawa Indah. Gubuk seng berukuran 3,5×2 meter menjadi saksi perjuangannya dalam mengarungi kehidupan bersama kedua cucunya, Sofyan (10) dan Maulana (8).
Dirinya harus menghidupi kedua cucu, lantaran anak perempuannya pergi setelah menikah lagi. “Anak saya menikah lagi. Setelah menikah, dia pergi meninggalkan saya dan anak-anaknya,” kata Martisa.
Saat Bontang Post mengunjungi Martisa, kondisi gubuk berantakan, tas milik cucunya digantung di atap, begitu pula dengan pakaian dan peralatan mandi. Di sisi kanan tempat tidur terdapat peralatan memasak yang tidak tertata rapi dengan sekat tripleks sebagai pembatasnya.
Di sisi kiri tempat tidur terdapat dapur kecil dengan peralatan memasak seadanya dengan beralaskan tanah langsung. Sudut luar rumahnya digunakan sebagai tempat cuci piring dan mandi, terdapat beberapa bak hasil tampungan dari air hujan.
“Untuk kebutuhan minum saya gunakan air hujan, terus dimasak. Tetapi untuk anak-anak (cucu, Red.) Alhamdulillah ada orang yang beri air mineral. Kasihan kalau mereka minum juga air hujan karena masih kecil,” tambahnya.
Lokasi berjualannya tepat di depan gubuknya, hal tersebut lebih memudahkan tanpa harus melakukan perjalanan. Mengingat, fisik Martisa sering mengalami sakit ditambah dengan kondisi salah satu tangan yang tidak berfungsi akibat kecelakaan beberapa waktu silam.
Kisah pilu Martisa berawal sejak ia mengalami kebangkrutan disebabkan keadaan ekonomi yang sulit beberpapa tahun yang lalu, hal ini diperparah dengan meninggalnya suami akibat penyakit usus buntu . Hal itu memaksa dirinya untuk mencari pinjaman ke bank, berharap dapat mengembalikan usahanya.
Namun, tepat 12 Juni 2013 Pasar Rawa Indah mengalami kebakaran. Lapaknya ludes dilalap si Jago Merah. “Setelah itu langsung ke sini (gubuk, Red.), saya sudah tidak punya apa-apa,” tuturnya.
Namun sebelum menempati hunian seadanya tersebut, ia sempat meminta izin kepada UPTD Pasar untuk memohon izin sembari mengumpulkan modal. Pesan yang diperoleh ialah agar tetap menjaga ketertiban di area pusat perekonomian tersebut.
Penghasilan per harinya ia memperoleh rata-rata Rp 20 ribu, jumlah tersebut belum cukup mengingat biaya pendidikan kedua cucunya ia tanggung. Terkadang, kesedihan menyelimuti hatinya apabila ada tunggakan biaya sekolah yang belum terbayar.
“Rp 20 ribu hanya untuk makan saja sehari. Kadang cucu saya mau berangkat sekolah bilang butuh biaya ini-itu, sedih hati saya,” paparnya.
Hingga saat ini kata dia, ia belum pernah menerima bantuan dari Pemkot. Akan tetapi ia mengakui setahun sekali ada sumbangan sembako dari perusahaan yang diterimanya. “Tiap mau Idul Fitri ada beras dari PT Badak NGL,” tukasnya. (*/ak)







